
Hingga suara pintu ruang oprasi terbuka yang menyadarkan semua orang untuk bergerak ke arah dokter yang keluar dari ruangan itu, dengan cepat pula mita melangkahkan kakinya dan bertanya pada dokter.
" bagaimana dok dengan ibu ?" tanya Mita, terlihat wajah lelah dari sang dokter saat menghembuskan napasnya, mereka semua menunggu jawaban dari sang dokter dengan rasa penasaran yang sangat besar.
" maafkan saya, maafkan kami, kami sudah berusaha, tetapi Tuhan lebih memilih ibu anda, permisi " jelas sang dokter
tanpa terkecuali mereka semua yang berada di depan ruang oprasi masuk dalam kesedihan setelah mendengar penjelasan dokter secara detail, Bimo dan Wahyu melihat kearah Mita yang terdiam mematung dengan air mata yang terus mengalir deras, secara bersamaan pula mereka mendekat dan ingin membawa Mita kedalam pelukan mereka, sedangkan Hendra saling menenangkan dengan Alif, yang kemudian juga mendekat pada Mita yang masih terdiam mematung.
" Mita " panggil Alif dan langsung menarik Mita dalam pelukannya, Mita yang langsung ambruk bagai tak bertulang dengan mata yang terpejam membuat Alif hampir terjatuh untung saja dia bisa menahan tubuh adiknya yang mungil.
" Mit, Mita " panggil Alif yang tak di respon Mita
" Yu panggil dokter " perintah Alif yang dengan cepat Wahyu lakukan
" biar ku bantu gendong mita Lif " tawar Bimo
" gak perlu " jawab ketus Alif, mau tidak mau Bimo hanya bisa memperhatikan.
.
.
Bimo dan Wahyu menjaga Mita bersama dalam sebuah ruang perawatan menunggu Mita sadar dari pingsanya.
" lebih baik kamu pulang atau bantu urus pemakaman ibu Dini " usir Bimo pada Wahyu secara halus
" lalu apa yang akan kamu katakan pada Mita setelah dia sadar, dengan apa yang sudah kamu lakukan ?" tanya Wahyu
" itu bukan urusan mu, pergilah " ujar Bimo
" cih, seharusnya kamu sadar diri Bim " ketus Wahyu
" Mita " ucap Wahyu saat melihat Mita yang sudah membuka matanya yang di ikuti oleh Bimo.
" sayang kamu sudah bangun, ini kamu minum dulu " ujar Bimo sambil menyodorkan segelas air setelah membantu Mita untuk duduk, Bimo membantu Mita minum.
" ibu ?" tanya Mita pada Bimo dengan mata sayunya
" iya kita akan segera pulang, asalkan kamu sudah benar-benar baik-baik saja " ucap Bimo
" pulang sekarang " pinta Mita
" baiklah, kita akan pulang sekarang " ujar Bimo
.
.
seminggu berlalu setelah meninggalnya Dini, membuat Mita menjadi lebih banyak diam dari pada biasanya, tubuhnya terlihat semakin kurus dan tidak bersemangat, selama seminggu pula Mita lebih memilih tinggal di rumah ayahnya bersama Faiz.
" mami kapan kita kerumah papi ?" tanya Faiz
" sementara kita disini dulu ya sayang " jawab Mita
" tapi Faiz kangen mau tidur sama papi, sarapan bareng sama papi dan mami " ucap Faiz dengan menundukkan kepalanya.
" maafkan mami sayang " ucap Mita
" hhwwuuuaaa hiks....hiks.... Faiz mau sama papi " ucap Faiz dengan tangis yang cukup histeris.
" ada apa ?" tanya Alif yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Mita saat mendengar Faiz menangis.
" Faiz mau papi, om Faiz mau sama papi hiks...hiks..." ucapan Faiz yang sudah berada dalam gendongan Alif.
" Faiz jalan-jalan sama om dulu ya, nanti om janji kalo om Alif sudah gak sibuk om bakal antar Faiz ketemu papi " bujuk Alif
" Faiz gak mau, Faiz mau papi sekarang" ujar Faiz
" Mit " panggil Alif
" abang Mita mohon " ucap Mita
" Faiz sayang sama mami ? " tanya Alif yang di angguki Faiz
" apa om boleh minta izin Faiz untuk mami tinggal di sini beberapa hari lagi ? " tanya Alif
__ADS_1
" tapi Faiz ingin papi " ucap Faiz
" om akan mengantar Faiz pada papi Faiz, tapi mami akan tetap disini bersama om dan kakek, apa Faiz mengizinkan ?" tanya Alif dan Faiz menggelengkan kepalanya.
" kenapa ?" tanya Alif
" papi bilang Faiz harus jaga mami " ucap Faiz
" Faiz mau turun om " pinta Faiz yang masih dalam gendongan Alif dan berjalan kearah Mita
" mami " ucap Faiz dan memeluk Mita
" maafkan mami ya sayang, hari ini bolehkan kita di sini dulu besok setelah pulang sekolah kita pulang kerumah papi " ujar Mita dan Faiz mengangguk.
" ya udah sekarang jalan-jalan dulu sama om yu " ajak Alif yang langsung menggendong Faiz dan berjalan keluar kamar Mita.
ya Tuhan, aku tidak mampu berpikir dengan semua yang kulakukan, Tuhan aku mohon kuatkan lah selalu hati ku dengan semua cobaan yang kau beri untuk ku, tenang kan dan terangkanlah selalu pikiranku Tuhan. batin Mita
.
.
" selamat pagi " sapa Wahyu yang sudah berdiri di belakang Mita setelah mengantar Faiz hingga gerbang sekolahnya.
" hheemm " jawab Mita
" Mit, udah sarapan ? mau sarapan bareng gak ?" ajak Wahyu
" kamu ngapain disini ?" tanya Mita
" mau ajak kamu sarapan " jawab Eahyu
" aku mau pulang " jawab Mita
" kemana ?" tanya Wahyu
" rumah Bimo " jawab singkat Mita
" aku ikut " ujar Wahyu
.
.
" Ehheemmm " Wahyu berdeham untuk memberitahukan keberadaan dia dan Mita pada semua orang yang juga beralih menatap mereka berdua.
" Mita " ucap Ryan, Maya, Bimo dan Via bersamaan
" ya " jawab Mita
Maya langsung berdiri dan berjalan kearah Mita, memeluknya yang tak di balas oleh Mita " sayang mamah kangen sama kamu " ucap Maya
" Terimakasih" jawab Mita dengan mata yang menatap Ryan dan Bimo secara bergantian dengan pandangan yang sulit di artikan
" sayang kamu sendiri ?" tanya Bimo dan Mita menggeleng
" Mit kamu udah sarapan belum ?" tanya Via
" sudah " jawab Mita
" Mita kesini mau ambil beberapa barang yang Mita perlukan, jadi Mita permisi kekamar Mita dulu " ucap Mita yang langsung meninggalkan semua orang.
semua orang yang ada di ruangan itupun menatap punggung Mita hingga tak terlihat, Via menyuruh Bimo agar segera menyusul Mita dan berharap Mita mau segera kembali tinggal bersama mereka.
.
.
" Mit " panggil Bimo saat melihat Mita berdiri di depan jendela kamarnya
" apa kakak bisa menemui Faiz ? " tanya Mita
" tentu, aku juga akan membawa Faiz dan kamu untuk tinggal lagi di sini " ujar Bimo
" apa aku bisa ?" tanya Mita
__ADS_1
" apa maksud kamu Mit ?" tanya Bimo
" katakan kak, aku harus apa? apa aku harus marah ? meminta maaf ? atau aku harus berterimakasih pada kalian semua ? kenapa kalian semua membohongi aku ? apa aku begitu mudah? menurut kalian aku begitu bodoh ? " cerca Mita pada Bimo dengan pertanyaan.
" Mit kami semua tidak bermaksud seperti itu, kami hanya tidak ingin kamu merasa terbebani " ujar Bimo
" lalu sekarang apa ? bukankah kalian keterlaluan? bisakah sekarang kakak membiarkan aku dengan hidup ku?" tanya Mita
" jangan berpikir seperti itu aku mohon, aku sangat menyayangi mu aku mencintai kamu Mit, kami semua berusaha memperbaiki kesalahan kami pada kamu, itu semua kesepakatan awal sebelum pernikahan, aku memang egois kami semua bersalah padamu, aku mohon bertahan lah di sisiku, aku berjanji akan memperbaiki semuanya " jelas Bimo
" oprasi itu gagal kak, kak Via juga sedang mengandung anak kakak, akupun berjanji tidak akan mengahalangi atau melarang jika kakak ingin bersama Faiz, sekarang aku yang mohon sama kakak, biarkan aku dengan hidup ku, tolong lepaskan aku kak, hiks....hiks...." pinta Mita
" tidak akan pernah, sekali milikku maka akan menjadi milikku selamanya, kamu tetap di sini dan tidak akan kemana-mana, aku yang akan menjemput Faiz " ujar Bimo dengan suara tingginya
" kak Bimo, kamu jangan terlalu egois, bukankah sudah cukup dengan semua luka yang kakak kasih ke aku, aku hanya ingin menjalani hidupku bersama Faiz, kenapa aku harus terus mengalah untuk kalian ?" ujar Mita
" kamu yakin hanya ingin menjalani hidup mu dengan Faiz ? bukan dengan Wahyu ?" tanya Bimo dengan nada remeh
" bukankah seharusnya sudah cukup aku membiarkan kamu bersama Wahyu seminggu ini, kamu bahkan lebih memilih bersama dengan Wahyu di bandingkan dengan SUAMI KAMU " ujar Bimo yang menekan kata suami kamu.
" aku memaklumi karna kamu berada dalam situasi duka, tapi tidak akan pernah ada kesempatan lagi " sambung Bimo
maafkan aku, maafkan aku Mit, aku sungguh tidak bisa melepas mu, apalagi dengan perasaan cinta yang sudah jelas di hati ku untuk mu, aku sudah sangat menahan sesak di hati saat kamu selalu memilih bersama Wahyu dalam kesedihan mu, bagaimanapun kamu harus tetap bersama ku, walaupun aku harus memaksa dan mengancammu, membuat mu semakin membenci ku, kamu harus tetap di sisi ku, aku yakin suatu saat kamu akan menerima ku. batin Bimo.
" kamu benar-benar jahat kak, kamu bukan mencintai ku tapi kamu senang menyiksaku, hiks...hiks..." ucap Mita dengan suara yang mulai meninggi
" berhenti membantah ku, dan mulai sekarang aku adalah segala aturan mu " bentak Bimo lalu berjalan keluar dan mengunci pintu kamar Mita serta membawa kuncinya.
" KAK BIMO, BUKA PINTUNYA " teriak Mita dari dalam kamar, sedangkan di balik pintu kamar Mita, Bimo berdiri menghadap pintu dengan air mata yang menetes dan segera di hapusnya.
" maaf " ucapnya lalu meninggalkan Mita yang masih berusaha meminta agar pintu kamarnya di buka.
" Bim ada apa ? kenapa Mita sampai berteriak gitu? apa yang kamu lakukan ?" tanya Via yang berjalan menaiki anak tangga hendak menyusul Bimo bersama Wahyu
" kamu jangan khawatir, ini hanya masalah aku sama Mita, kamu baik-baik jaga kandungan kamu aja " ucap Bimo dengan nada sedikit ketus.
" tapi Bim, gimana ka---"
" Via cukup, lebih baik kamu banyak istirahat, aku mau jemput Faiz " sahut Bimo memutus ucapan Via dan berjalan menuruni anak tangga.
" kita harus bicara " ucap Bimo saat bersisian dengan Wahyu yang di setujui oleh Wahyu
.
.
.
" sampai kapan kamu terus mengganggu istri ku ?" tanya Bimo
" sampai kamu melepasnya " sahut Wahyu
" apa menjadi hobi mu merusak rumah tangga orang lain ?" tanya Bimo
" lalu bagaimana dengan hobi mu menyakitinya ?" tanya Wahyu dengan senyum mengejeknya.
" apa belum cukup dengan semua yang kamu lakukan Bim? sejak awal kamu hanya memberikannya penderitaan bahkan sekalipun kamu tidak pernah membuatnya bahagia " sambung Wahyu
" aku suaminya, orang yang berhak atas dirinya, dan aku juga mencintainya, jadi berhentilah ikut campur dalam rumah tangga kami, cukup ini sebagai peringatan terakhir ku untuk kamu " ujar Bimo
" sorry aku gak akan berhenti, dan ku pastikan kalo aku akan bisa merebut Mita dari kamu, bahkan kamu tau jika Mita lebih memilihku dan nyaman dengan ku " jawab Wahyu
" kesempatan itu tidak akan pernah ada " sahut Bimo dan beranjak meninggalkan Wahyu yang masih tersenyum sinis melihat kepergian Bimo.
" aku sudah memberimu kesempatan dan melepaskannya untuk mu tapi kamu terus menyakitinya, maka aku tidak akan menyerah lagi " ujar Wahyu berbicara sendiri.
*******************
Terimakasih sudah membaca jangan lupa Like, Komen dan Vote nya
baca juga karyaku yang lainya
~ Lembaran cerita cinta
~ Alasanku Cinta ( seasons 2 izinkan aku bahagia)
__ADS_1
~ kembali bernostalgia