
sudah tiga puluh menit Mita berdiam diri di halaman belakang rumahnya dengan menahan isakan tangis, apakah dia berlebihan jika menginginkan kehidupan nya ? bagaimana lagi dia harus meminta dan memohon pada Bimo agar mau melepaskan nya ? apakah dirinya terlalu egois jika berpikir berpisah dengan Bimo ? dan apakah Faiz bisa mengerti dirinya ? kenapa semuanya menjadi sangat rumit? lalu apakah jika dulu dia dan Bimo menerima perjodohan itu tanpa menentang, kehidupan nya akan lebih baik ?
" kamu kenapa di sini ?" tanya Hendra
" ayah, kenapa ayah di sini ? mana Faiz yah ?" Mita justru balik bertanya
"ayah tadi tanya kamu, Faiz tidur ditemani abang, ayah tadi haus tapi liat kamu disini, di mana Bimo ?" tanya Hendra
"kak Bimo istirahat dikamar, Mita kangen sama ibu yah " jawab Mita masih dengan wajah sembab nya.
" maafkan ayah, semua karna kesalahan ayah, mungkin jika ayah tidak egois ibu justru masih bersama kita " ucap Hendra penuh sesal.
" ayah gak salah apa yang ayah lakukan sudah semestinya, jadi ayah berhenti ngerasa bersalah dan minta maaf " ucap Mita dan memeluk ayah nya.
"Mita, kamu berhak menyalahkan ayah, ayah bahkan bukan orang tua yang baik untuk kamu" ucap Hendra, walaupun tidak semuanya di ketahui Hendra bagaimana kehidupan rumah tangga anaknya, Hendra sangat menyesali keputusan nya menerima tawaran Ryan melanjutkan perjodohan, dan menjadikan anaknya istri kedua dari anak sahabatnya yang bahkan Tuhan pun tidak berpihak padanya dengan mengambil istri yang sangat di cintainya.
" ayah jangan gitu, Mita ikhlas apalagi semua demi orang-orang yang Mita sayang, ayah mau Mita bahagia kan? jadi jangan pernah berpikir yang enggak-enggak lagi, Mita baik-baik aja asalkan ayah selalu sehat dan terus ada di samping Mita " ucap Mita
" kamu tidak bisa membohongi ayah Mit, katakan saja jika kamu ingin --- "
" ayah Mita mohon, berhenti berpikir yang tidak perlu, jangan membuat Mita nanti nya juga merasa bersalah pada ayah " ujar Mita menyela ucapan ayahnya.
" baiklah, baiklah sekali lagi maafkan ayah sayang, maaf " ujar Hendra
"mendingan sekarang ayah istirahat nanti biar Mita yang masak untuk makan malam " ujar Mita yang di setujui oleh Hendra.
.
.
suasana makan malam di kediaman Arion cukup sunyi selain suara dentingan sendok garpu, bahkan Faiz yang biasanya berceloteh pun tidak banyak bicara malam ini.
" om Alif, Faiz mau tidur sama om boleh gak ?" tanya Faiz setelah selesai makan
" boleh kok, tumben kamu mau tidur sama om Iz ?" tanya Alif
" Faiz sebentar lagi akan jadi kakak, om Alif kan kakak nya mami, jadi Faiz mau belajar jadi kakak yang baik, om Alif mau kan ajarin Faiz ?" tanya Faiz dengan antusias
"tentu sayang, ya sudah ayo kekamar om Alif" ajak Alif, dan setelah memberikan ciuman pada mami, papi dan kakeknya Faiz ikut bersama Alif.
"Bim apa ayah bisa bicara dengan kamu ?" tanya Hendra
"bisa yah" jawab Bimo
"ayo ikut ayah ke ruang kerja ayah" ajak Hendra
"Mita tolong buatkan kopi ya sayang" pinta Hendra
" iya yah " jawab Mita dan langsung menuju dapur
.
.
"Bim, maaf jika pertanyaan ayah akan menyinggung mu, ayah berharap kamu mengerti dengan kekhawatiran ku" ucap Hendra
"ada apa yah ?" tanya Bimo
"menurut mu apa Mita bahagia menikah dengan mu ?" tanya Hendra
"seperti yang ayah tau, Mita bertahan karena kebahagian Faiz, tapi Bimo sudah berjanji pada Mita, jika Bimo akan berusaha membuatnya bahagia dan mau menerima Bimo dengan tulus, entah sejak kapan Bimo tidak menyadari nya, jika Bimo mencintai Mita yah " jawab Bimo
__ADS_1
"sebulan setelah pernikahan kamu dengan Mita, ayah menceritakan semuanya pada istri ayah, Dini benar-benar kecewa pada ayah dan meminta ayah agar memisahkan kamu dengan Mita, bahkan dia sebenarnya menolak donor dari Ryan" ucap Hendra
"maksud ayah apa ?" tanya Bimo yang saat ini tengah menahan rasa sesak di hatinya mendengar cerita Hendra.
"maafkan ayah, jika ayah berharap kamu mengembalikan Mita pada ayah, mungkin ini sudah terlambat tapi ayah tidak bisa membiarkan Mita terus menerima hal yang menyakitkan, sekuat apapun Mita menahanya dia pasti lelah dan ingin segala hal buruk dalam hidupnya segera berakhir " ucap Hendra
"kali ini maafkan Bimo yah, bukan karena Bimo tidak mengerti kehawatiran ayah, tapi Bimo belum benar-benar berjuang untuk meyakinkan Mita, Bimo mohon ayah memberi Bimo kesempatan untuk memperbaiki semuanya, karna Bimo tidak bisa melepas Mita" jawab Bimo dengan tegas
"tolong kamu pikirkan lagi, jika kamu mencintai dia, jangan menambah rasa sakit untuk dia, selama ini dia sudah sangat banyak mengalah pada kita, aku sebagai orang tuanya sangat berharap agar dia bisa menemukan kebahagiaan nya dan dia bisa kembali ceria seperti dulu " ucap Hendra, dengan raut sedih pada wajahnya.
"izinkan aku untuk berusaha yah, jika memang Mita masih tidak mau menerima Bimo, Bimo akan mengalah untuk nya " jawab Bimo lesu
"pikirkanlah Bim, ini semua demi hubungan baik kita " ucap Hendra
"Bimo mengerti " jawab Bimo, dengan perasaan sesak di dada yang semakin menjalar keseluruh tubuhnya.
.
.
.
Bimo berbaring di atas kasur milik Mita, pikirannya berlari kesana kemari mengingat segala ucapan Hendra dan Mita saat siang tadi, jika saja dulu dia tidak keras kepala dan berpikir lebih jernih mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, atau jika waktu dapat di putar kembali Bimo akan lebih memilih untuk tidak mengenal Mita atau menerima perjodohan itu dengan baik bukan menuruti emosi nya yang tak berdasar dan membawa petaka baginya dan orang yang teramat di cintainya, walau datang dari barisan belakang tetapi rasa cinta itu tumbuh dengan kuat dan besar, karena sejak awal yang bersalah adalah dirinya dan sejak awal yang menjadi korban adalah Mita, wanita itu bahkan sangat tegar, mengalah dengan takdir yang mempermainkan nya, memutar poros hidupnya dengan dan tanpa alasan hanya bermodalkan keyakinan untuk terus melanjutkan di kehidupan.
haruskah Bimo melepaskan Mita?, tapi bagaimana dengan perasaan cintanya pada Mita yang sedang bersemi, walau jelas cinta itu hanya miliknya sendiri? apakah dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk berusaha? orang tuanya berharap dia melepaskan Mita bahkan ayah mertuanya dengan tegas meminta agar Bimo mengembalikan Mita, begitu burukkah dirinya atau se-tidak pantas itukah Bimo untuk bersama dengan Mita ? air mata itu menetes dari ujung ekor matanya, berharap Tuhan segera memberikan nya keputusan yang diharapkan Bimo.
Bimo harus ingat jika dirinya menjaga dua hati wanita yang mengisi hidupnya, cinta terhadap Via kini mulai terasa berbeda, namun cinta kepada Mita semakin berakar kuat di hatinya, bimo tidak bisa mengabaikan semua itu, dia harus memiliki sebuah keputusan walaupun akan menyakitkan baginya, tetapi semuanya sudah berjalan sangat jauh, kehidupan yang rumit dan harus dilaluinya.
.
.
Mita sedang di sibukkan dengan melayani tiga orang pria tampan dan seorang laki-laki yang tak kalah tampan di meja makan dengan segala protesan dan permintaan yang membuat Mita merasa sedikit kesal.
" abang mau pake ayam goreng kaya punya Faiz, Mit " ujar Alif
" aku mau kopi " ujar Bimo
" Faiz mau di suapin mami " ujar Faiz
"kakek lebih dulu" sahut Hendra
"om Alif yang lebih dulu" sahut Alif
"cukup, mami menjadi kesal mendengar kalian" gerutu Mita, sedangkan 3 orang pria yg ada di meja makan justru tertawa kecil melihat wajah kesal Mita
setelah menyediakan apa yang di minta oleh para pria yang ada di rumah Mita menghela napasnya " Faiz makan sendiri ya, ingat Faiz sebentar lagi akan menjadi seorang abang " ucap Mita
" yaaa mami, adiknya kan masih sama mamah Via " jawab Faiz
" ayo cepat sarapannya terus berangkat sekolah, mami gak mau anak mami yang tampan ini sampai terlambat " ujar Mita
" Faiz di anterin om Alif aja ya mi ?" tanya Faiz
" oke apapun untuk pangeran tampan om Alif " sahut Alif
" iya, tapi hati-hati ya, pulang nya gak sekalian bang jemput Faiz juga ?" tanya Mita
" biar aku yang jemput Faiz " sahut Bimo
" yeeeyyy " girang Faiz
__ADS_1
setelah semua nya pergi untuk bekerja tinggalah Bimo dan Mita di rumah keluarga Arion.
" Mit kamu semalam tidur di mana ?" tanya Bimo
"di kamar tamu kak" jawab Mita
"kamu masih mau di sini atau nanti sore aku jemput pulang ?" tanya Bimo
"boleh Mita di sini beberapa hari ?" tanya Mita penuh harap pada suaminya yang tersenyum tipis, memperlihatkan ketampananya yang bagai bulan purnama.
" boleh, tapi nanti aku bakal membagi waktu buat nemenin kamu di sini " jawab Bimo
"kakak gak kesini lagi juga gak apapa, mending kakak temani kak Via aja, kasian kak Via lagi hamil" ujar Mita
"lihat saja nanti, dan selama kamu disini, jangan terlambat membalas pesan dan menerima panggilan ku, jika ingin keluar kasih tau atau izin ke aku dulu, kamu paham ?" tanya Bimo
" iya kak" jawab Mita
"kamu gak mau peluk aku dulu, aku mau berangkat kerja ?" tanya Bimo, Mita hanya menggelengkan kepalanya.
"ya sudah aku temani kamu di sini aja " ujar Bimo, Mita berjalan meninggalkan Bimo menuju dapur untuk mengambil minum.
"Mit maafkan aku, tentang semalam, aku berharap kamu kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya " ucap Bimo tepat berdiri di hadapan Mita.
"apa kak Bimo bisa menepati permintaan janji Mita semalam ?" tanya Mita
"aku akan berusaha untuk menahannya walau itu sulit, tapi demi kamu mau menerima aku, dan tidak mengacuhkan aku lagi aku berjanji " jawab Bimo
"terimakasih kak" ucap Mita dengan tersenyum manis yang membuat Bimo terpesona
"senyum mu sangat manis, sering -sering tersenyum seperti tadi" ucap Bimo
"kak apa kamu bahagia memiliki dua orang istri ?" tanya Mita
"memiliki dua orang istri sebenarnya bukan impian ku, tapi semua juga karna aku, kamu boleh mengatakan jika aku serakah dengan mencintai kalian berdua, dan saat ini aku sangat berharap bisa terus bersama kalian dan saling menerima " jawab Bimo
"itu artinya kakak bahagia ?" tanya Mita
"entahlah karna aku justru lebih sering menyakiti mu " jawab Bimo
"maafkan aku kak, aku sanagat keras kepala, tetapi aku berharap kakak mau berpisah dengan ku? " ucap Mita
"beri aku kesempatan memperbaiki semua nya dengan rasa cinta yang aku miliki, dan sesuai dengan permintaan mu kita tunggu dua atau tiga tahun lagi hingga Faiz mengerti, dan jika selama itu kamu masih tidak bisa menerima ku ..." Bimo menghentikan ucapannya dan menatap pada Mita dengan rasa ragu untuk menyambung kalimatnya.
"aku akan melepaskan mu " ujar Bimo dengan suara lirih yang masih jelas terdengar di telinga Mita.
"baiklah, tapi tetap dengan janji kakak ?" tanya Mita
" iya aku akan mengingatnya, tapi kamu berjanjilah jangan membuat ku cemburu! " jawab Bimo
"aku tidak pernah melakukanya" sahut Mita
"kau sering melakukanya, dan aku sangat sulit menahan emosi saat cemburu, maka dari itu aku sering memperingati mu" jawab Bimo
"kak" sela Mita dengan tatapan mata memohon pada Bimo yang menatapnya tajam
"aku berangkat kerja dulu, kamu baik-baik di rumah, jika ingin sesuatu hubungi aku" ujar Bimo dan menarik Mita kedalam pelukan, meninggalkan satu ciuman di kening istrinya.
"iya" jawab Mita yang sebenarnya sedikit malu dengan perlakuan Bimo padanya.
setelah Bimo meninggalkanya di rumah, Mita masuk kedalam kamarnya dan merebahkan diri, tersenyum tipis karna setidaknya dia memiliki sedikit harapan untuk bisa berpisah dengan Bimo, dia hanya perlu menikmati hari-harinya dengan merawat Faiz, lagi pula Bimo sudah berjanji untuk tidak melakukan kontak fisik dengan nya, hal kecil yang bahkan belum Mita ketahui akhirnya nanti sudah membuat hatinya merasa sedikit lega, dengan Bimo yang mau sedikit mengalah padanya.
__ADS_1
" semoga saja Tuhan berpihak pada ku " gumam Mita.
Terimakasih untuk kalian yang menyempatkan membaca cerita ini, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like n coment ❤ untuk ku.