
Bimo berjalan ke kamar Mita dengan perasaan yang masih emosi, Bimo masuk kekamar dan tidak mendapati Mita, dia melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dan mendengar suara percikan air, hingga Bimo memutuskan untuk duduk di sofa kecil yang ada di dalam kamar Mita, beberapa saat kemudian Mita keluar dari kamar mandi dan melihat Bimo yang sedang duduk dengan memainkan ponselnya tanpa niat menegur Bimo.
" aku mau bicara sama kamu " ujar Bimo yang sudah menyusul Mita berbaring di kasur
" aku mau istirahat " jawab Mita dengan posisi membelakangi Bimo
" mulai besok kamu gak perlu kerja lagi, semua kebutuhan kamu dan Faiz akan jadi tanggung jawab ku, aku sudah membicarakan ini sama ayah, jadi kamu fokus mengurus Faiz dan aku aja di rumah " ucap Bimo
Mita bangun merubah posisinya menjadi terduduk menghadap Bimo " gak bisa aku harus tetap kerja, aku masih bisa membagi waktu ku untuk mengurus Faiz, dan untuk mengurus mu itu tugas istri kamu kak Via bukan aku, jadi jangan larang aku untuk tetap kerja " jawab Mita
" aku ini suami kamu, dan kamu istri aku, jadi kamu berkewajiban mengurus ku, sudah ku bilang aku berhak mengatur mu, dan aku melarang mu bekerja " sahut Bimo
" kak seharusnya kamu tahu, aku menjadi istri kamu bukan karna keinginanku, dan aku juga sudah bilang mari kita jalani pernikahan ini hanya untuk Faiz, jadi jangan terlalu mengatur ku, dan aku bekerja karna aku mempersiapkan untuk masa depan anak ku " jawab Mita
" kamu tidak perlu mengkhawatirkan semua itu aku sudah mempersiapkan semuanya termasuk untuk kebutuhanmu, dan jangan membantah ku lagi " ujar Bimo dengan suara yang mulai meninggi
" CUKUP, jangan keterlaluan mengatur ku, apapun alasan mu aku akan tetap bekerja, dan itu sudah menjadi keputusan ku " sahut Mita yang juga mulai kesal
" baiklah jika itu mau mu, tapi kamu bekerja di kantor ku, sebagai sekretarisku, ini sudah penawaran terakhir ku, dan mulai besok kamu sudah bisa bekerja, berangkat bersama ku dan pulang bersama ku " ucap tegas Bimo
" gak, aku gak mau, aku sudah kerja di perusahaan bang Alif dan menjadi sekretarisnya, aku sudah nyaman di sana, dan kamukan sudah ada Andi sebagai asisten mu " jawab Mita
" sepakat, mulai besok kerja menjadi sekretaris ku " ucap Bimo yang kemudian merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, semakin membuat Mita kesal dan marah.
" selalu saja seenaknya, sekarang pergi dari sini, kembali kekamar mu kak " usir Mita
" apa kamu mau kupeluk? " ucap Bimo dengan mata terpejam. Mita masih diam dengan posisi duduknya.
" susah berbicara dengan orang yang tidak tau malu " gerutu Mita dan beranjak dari ranjangnya.
Mita selalu berusaha menghindari Bimo, jika Bimo memilih tidur di kamar Mita, Mita memilih dengan beralih ke sofa yang ada di dalam kamar, walaupun Bimo sudah menegurnya berkali-kali, tetap tidak membuat Mita beranjak dari sofanya.
.
.
.
tiga bulan sudah Mita menjalani pernikahannya dengan Bimo dan selama itu pula mereka banyak melakukan hal-hal yang di inginkan Faiz, berlibur bersama, bermain ke taman hiburan, mendengarkan dongeng sebelum tidur dan tidur dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
saat ini Mita dan Bimo sedang dalam perjalanan pulang kerumah setelah seharian bekerja, mereka berdua fokus dengan ponselnya masing hingga suara Bimo mengalihkan perhatian Mita dari ponselnya.
" Mita bagaimana jika aku mengharapkan seorang anak lagi dari kamu ?" tanya Bimo, Mita diam tidak menjawab hanya menatap Bimo dengan sinis.
" aku ingin kita memiliki seorang anak lagi, anak perempuan yang cantik seperti kamu " ujar Bimo lagi
" jangan berharap hal yang tidak mungkin, cukup kita jalani saja pernikahan ini seperti biasanya " jawab Mita
" kenapa ? apa salahnya aku berharap pada istriku, aku hanya ingin seorang anak " ujar Bimo
" berhenti membicarakan hal itu, sesuatu yang tidak akan pernah terjadi " jawab Mita kesal, pria yang benar-benar tidak tahu malu, dan tidak memiliki perasaan, hanya melakukan apapun sesuai keinginannya, apakah ini yang di katakan orang tuanya yang terbaik untuknya ? apakah jika orang tuanya mengetahui kehidupan rumah tangganya yang sebenarnya akan tetap bisa mengatakan yang terbaik untuk Mita ? apakah mereka tidak berpikir sebelum memutuskan pernikahan ? atau hidupnya memang hanya untuk merasakan sakit hati ? entahlah ada apa di balik semua ini, keluarganya tahu bagaimana beratnya kehidupan Mita selama enam tahun lalu dan kenapa tiba-tiba orang tuanya setuju menikahkannya dengan Bimo ? pikiran itu terus berputar di kepalanya mencari jawaban yang belum tepat di hatinya.
" kamu terlalu yakin Mit " sahut Bimo dengan seringai devilnya, di acuhkan Mita.
.
.
.
Mita sedang menemani dan membacakan cerita untuk Faiz sebelum tidur, tetapi hingga cerita selesai Faiz bahkan belum tertidur dan tersenyum ke arah Mita.
" Faiz tunggu papi, mi " jawab Faiz, tak berselang lama dari ucapan Faiz terlihat Bimo ikut masuk ke dalam kamar Faiz dan berbaring di sebelah Faiz yang ada di tengah-tengah antara mereka berdua.
" Faiz sudah dengar cerita dari mami ?" tanya Bimo yang di angguki oleh Faiz
" baiklah kalo begitu waktunya tidur " ujar Bimo
" papi, mami, kenapa Faiz tidak memiliki adik bayi, seperti teman Faiz ? " tanya Faiz, Bimo tersenyum mendengar pertanyaan Faiz sedangkan Mita menatap Faiz dengan diam.
" apa Faiz mau punya seorang adik atau banyak adik ?" tanya Bimo
" Faiz ingin adik perempuan yang seperti mami dan adik laki-laki seperti papi " jawab Faiz yakin
" baiklah papi akan berusaha untuk memberikan Faiz adik, tapi faiz bilang sama mami agar mami juga mau membantu papi " ujar Bimo, yang langsung mendapat delikan tajam dari Mita.
" mami mau kan bantu papi kasih adik untuk Faiz ?" tanya Faiz, mungkin hanya pertanyaan anak kecil tetapi cukup membuat hati Mita merasa nyeri.
" sudah waktunya tidur, mami gak mau besok Faiz sampai terlambat sekolah, kita bisa membicarakannya lain kali, oke " sahut Mita mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
" oke " jawab Faiz dan mulai memejamkan matanya. setelah Faiz benar-benar tertidur Mita meninggalkan ciuman sayangnya untuk Faiz dan beranjak keluar dari kamar Faiz tanpa perduli dengan Bimo yang terus menatapnya sejak tadi.
.
.
Mita sedang duduk di sofa dalam kamarnya dengan memainkan ponselnya, tanpa sadar jika Bimo sudah berdiri di hadapanya.
" kamu sampai kapan mau bersikap acuh dan cuek sama aku ?" tanya Bimo
" gak tau " jawab Mita singkat tanpa mengalihkan fokusnya dari ponsel yang di pegangnya
" Mit aku lagi ngomong sama kamu, coba perhatikan sebentar " pinta Bimo
" aku capek mau istirahat " Mita bangun dari duduknya ingin mengganti bajunya dengan piyama sebelum tidur tetapi Bimo kembali membuat Mita terduduk dan tersenyum tipis pada Mita yang menatapnya.
" apaan sih kak, jangan menggangu ku, mending balik kekamar kakak" ucap sinis Mita
" kamu lupa permintaan Faiz tadi, dia ingin adik dari kita, jadi aku harus sering-sering bersama dengan kamu " ujar Bimo yang mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Mita.
Mita memalingkan wajahnya ke arah samping, menghindari tatapan Bimo yang semakin dekat dan membuat jantungnya berdebar sangat kencang " minggir atau aku akan berteriak " ancam Mita, dengan hati yang bergetar karna masih terdapat rasa takut di sana.
Bimo menyadari perubahan wajah Mita yang menjadi pucat setiap kali dia berusaha mendekati Mita, dan ingin menyentuhnya, Mita pasti akan selalu gugup dan berkeringat dengan wajah pucat, semuanya jelas terlihat di mata Bimo bahkan hal ini hampir sama dengan kejadian dulu.
Bimo membiarkan Mita beranjak dari duduknya dan langsung meninggalkannya kekamar mandi, berganti Bimo yang duduk di sofa dan pikirannya mulai melayang, apakah Mita bersikap seperti itu karna perbuatanya dulu ? selama menikahpun dia selalu menjaga jarak, jika Bimo tidur bersamanya Mita selalu lebih memilih berpindah ke sofa atau kekamar Faiz meninggalkannya, Bimo mencoba mengerti mungkin saja semua itu karna Mita belum bisa menerimanya, tetapi bagaimana dengan wajah pucat yang terlihat jelas ada ketakutan di matanya ? mungkinkah Mita belum melupakan kesalahannya dulu? banyak hal yang dipikirkan Bimo dan bercampur menjadi satu di otaknya, rasa bersalah, egois yang dilakukannya hingga membuatnya menjadi pengecut.
Mita keluar dari kamar mandi tanpa melihat ke arah Bimo, yang menatapnya mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Mita.
" temani aku tidur " ujar Bimo yang tidak di jawab oleh Mita
" kamu denger tapi gak jawab, Mit jangan selalu menguji kesabaran ku " ujar Bimo lagi
Mita menghadap Bimo dengan tatapan mata sendu " tolong berhenti menggangu ku, dan biarkan saja aku dengan apa yang kulakukan, hati ku benar-benar masih tidak bisa menerima semua nya, aku harap kakak mengerti " ucap Mita yang berdiri di hadapan jendela kamar yang telah di bukanya.
" istirahatlah " ucap Bimo yang kemudian keluar dari kamar Mita dengan perasaan kecewa, entah apa yang ada dihatinya saat ini semakin sering Mita menolaknya semakin membuatnya ingin dekat dengan Mita, tetapi Mita terlalu kuat memasang benteng pertahananya, Bimo menghela napasnya kasar dan kembali kekamar Faiz.
*********************
__ADS_1
Trimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian dengan like, komen dan vote ya, karna dukungan kalian semangatku untuk terus menulis ❤