
setelah berperang dengan pikirannya Mita akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan pada kakaknya walaupun dia yakin akan mendapat amarah kakaknya.
tuut...tutut...
" abang Alif " panggil Mita
" kenapa sayang " jawab Alif dari seberang telfon
" Mita minta tolong abang boleh ?" tanya Mita
" ada apa? bilang aja, kok pake nanya ?" ujar Alif
" temani Mita kerumah sakit, jam 2 siang nanti, mau ?" tanya Mita
" kamu sakit ?" tanya Alif
" nanti abang bakal tau kok, kalo sudah di rumah sakit " ucap Mita
" ya udah abang jemput kamu di mana ?" tanya Alif
" di rumah aja bang, Mita sudah izin kok tadi "ujar Mita
" ya udah tunggu abang ya " kata Mlif
" iya terimakasih ya bang " ucap Mita dan mengakhiri panggilan telfonya.
.
.
.
Alif merasa bingung dan menatap heran pada adiknya, berulang kali dia bertanya pada adiknya jawabannya selalu sama, sehingga membuatnya semakin penasaran,
" Mit kenapa kita ngantri disini, bisa jelaskan sekarang ke abang ?" tanya Alif dengan mata yang terus melihat kesekitarnya beberapa orang ibu hamil dengan suami yang ikut mengatri.
" abang, tolong sabar Mita akan menjelaskan setelah ini " ucap Mita lirih tanpa berani menatap wajah kakak
setelah satu jam menunggu akhirnya nama Mita di panggil untuk memasuki ruangan dokter kandungan, Mita mengajak kakaknya agar menemaninya perasaan gugup, tegang, takut menjadi satu di dalam benak nya.
Alif yang menyadari kegugupan adiknya, menggenggam tangan adiknya menyalurkan kehangatan agar adiknya merasa lebih rilek dan tenang karna bagaimanapun penasaranya Alif dia harus melindungi adiknya.
" selamat siang bu, pak, silahkan duduk " sapa seorang dokter cantik
" terimakasih dok " jawab Mita
__ADS_1
" jadi apa yang bisa saya bantu ?" tanya dokter
" saya ingin memastikan hasil tes ini dok " ucap Mita dan mengeluarkan alat tes kehamilan yang di bawanya, Mita sudah benar-benar mempersiapkan dirinya yang setelah ini akan menghadapi kakaknya, yang saat ini tengah menatap tajam padanya menuntut penjelasan darinya.
Alif merasa jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat alat tes kehamilan yang di keluarkan oleh adiknya, dia benar-benar terkejut, berbagai macam pikiran bermunculan di kepalanya, hingga tanpa sadar tatapan tajam selalu mengikuti gerak adiknya yang sudah mulai melakukan pemeriksaan.
" bagus, kondisi janin sehat " ucap dokter yang sedang melakukan USG pada Mita, dan setelah selesai pemeriksaan mereka kembali duduk bersama.
" selamat ya bu, pak " ucap dokter
" iya dok " jawab Mita dengan senyum getirnya
" iya walaupun tidak ada hal yang mengkhawatirkan tetapi kandungan harus tetap di jaga ya bu, pak, agar sehat dan kuat, dan untuk ibu jangan sampai terlalu lelah atau banyak pikiran yang membuat ibu stres, pola makan yang sehat dan teratur, dan karna usia kandungan ibu masih tujuh minggu saya resepkan beberapa vitamin dan obat anti mual ya bu " jelas dokter dengan tangan yang di sibukkan menulis resep
" terimakasih dok " jawab Mita, setelah selesai melakukan pemeriksaan dan mengambil vitamin di apotek rumah sakit,
Mita dan Alif kini sudah berada di dalam mobil dan selama dalam perjalanan pulang kerumah Mita tidak ada yang membuka suara hingga mereka sampai di rumah.
Mita masuk kedalam rumahnya yang di ikuti Alif dan langsung menuju kedalam kamarnya sedangkan Alif masih mengikutinya hingga mereka berdua berada di dalam kamar Mita.
" abang tunggu di luar aja, Mita mau ganti baju dulu " ujar Mita saat melihat kakaknya juga ikut masuk kedalam kamarnya.
" enggak jelaskan sekarang sama abang, kamu jangan mengulur-ulur waktu " ucap Alif tegas, Mita yang melihat wajah serius kakaknya sudah tidak dapat membantah lagi, diapun mengajak kakaknya duduk di pinggir ranjang
" maafkan Mita bang, maaf tapi Mita gak tau harus cerita dari mana bang " ucap Mita lirih dengan menundukkan kepalanya.
" Mita takut bang, takut, Mita gak tau kesalahan Mita apa, dan sebesar apa, kenapa Mita yang harus menerima hukuman seperti ini, Mita juga sudah menolak perjodohan itu bang, hiks...hiks..." ujar Mita yang sudah mulai menangis
" Mita apa kamu bener-bener nunggu abang marah " tegas Alif dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi.
" apa hubungannya dengan perjodohan kamu ?" tanya Alif lagi.
dengan perlahan Mita mulai menceritakan hubungannya dengan Bimo yang seorang pimpinan perusahaan dimana dia bekerja, hingga rencana perjodohan yang sama-sama membuat mereka terkejut, dan sama-sama ingin menolak perjodohan itu, jika Bimo karna sudah memiliki kekasih sedangkan Mita karna belum siap menikah.
" sampai waktu malam itu dia ngebawa paksa Mita ke apartemen nya, dia melampiaskan kemarahan nya pada Mita, karna yang Mita dengar jika om Ryan tetap ingin perjodohan itu berlanjut dan tidak menyetujui hubungan Bimo dengan Via bang, " Mita mengusap air mata nya mencoba menenangkan dirinya mengingat kejadian yang hampir dua bulan lalu terjadi.
" dia menganggap Mita memanfaatkan situasi untuk keuntungan, maaf kan Mita bang, Mita gak bisa jaga diri, maaf bang, Mita sudah melawan tapi Mita terlalu bodoh hiks ...hiks...."
Mita bersimpuh di hadapan kakak nya dengan menundukkan kepalanya, berharap sang kakak tidak memarahinya dan mau mengerti dengan keadannya.
" kalian melakukanya karna suka " tanya Alif dengan suara berat nya, Mita hanya mampu menggelengkan kepalanya dan masih menunduk dengan di temani tangisanya dan rasa takut.
" apa dia memaksa mu ?" tanya Alif, Mita diam tak menjawab, dia hanya menangis menahan rasa sesak di dadanya. melihat respon yang di berikan adiknya membuat Alif marah, dia mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang merah akibat dari emosi yang memuncak.
" aaaaarrgggggghhhh " teriak Alif " biar abang yang memberinya pelajaran, " ucap Alif yang sudah bangkit dari duduknya, dengan cepat Mita menahan kakaknya dengan cara memeluk kakaknya dari belakang.
__ADS_1
" abang Mita mohon jangan, maafkan Mita bang, Mita mohon tolong Mita saja bang, hiks...hiks..." ucap Mita
" biar abang mengancurkanya, agar dia tidak terlalu sombong " ucap Alif dengan nada suara tingginya.
" abang tolong Mita, jangan lakukan apapun padanya bang, Mita mohon, biarkan anak Mita nanti juga mengenal ayahnya bang, biar dia yang memutuskan untuk menghukum ayahnya bang, Mita mohon bang " ucap Mita meyakinkan kakaknya, sedangkan Alif yang mendengar kata anak membuatnya membalikkan tubuhnya menghadap adiknya, walau hatinya bergemuruh dengan emosi namun tak ayal membuatnya mengalah dengan permohonan adiknya.
Alif berulang kali menghela napas nya yang terasa semakin berat, mencoba menenangkan emosinya, melihat kondisi adiknya yang kacau dengan air mata yang terus mengalir dan memohon padanya, semakin membuatnya tidak tega pada Mita, di pegangnya kedua pundak adiknya, lalu menariknya kedalam pelukan nya, tangisan Mita pun pecah semakin nyaring, Mita melepaskan sedikit beban dihatinya dengan menangis dalam pelukan kakaknya.
" menangislah, lepaskan beban kamu, abang janji akan melakukan apapun buat kamu, maaf kan abang yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik, maafkan abang," ucap Alif penuh sesal dan air mata yang meluncur begitu saja di wajahnya dengan masih mendekap erat tubuh adik kesayangan nya.
terlalu lama menangis membuat Mita kelelahan, Alif menyadari itu dan membimbing adiknya untuk berbaring di kasur, menyelimuti adiknya yang masih mengeluarkan isak tangisnya, mengusap puncak kepala adiknya mencoba memberi ketenangan.
" sudah nangisnya mata kamu sudah bengkak, ingat dokter bilang kamu jangan sampai stres, kasian anak kamu, kamu istirhat aja ya abang siapkan makan buat kamu. " kata Alif yang di angguki oleh Mita.
.
.
.
Sejak mengetahui kehamilan adiknya Alif memutuskan untuk tinggal dengan adiknya, menjaga adiknya dan membantunya jika Mita memerlukan sesuatu.
" bang Mita boleh minta tolong lagi sama abang ?" tanya Mita di ambang pintu kamar yang di tempati abang nya.
" kenapa ? apa keponakan abang ingin makan sesuatu lagi ?" tanya Alif
" enggak bang, abang bisa gak bawa mita pergi dari sini?, Mita gak mau disini bang, Mita gak mau Bimo tau dan Mita gak mau buat ayah dan ibu malu bang" ucap Mita dengan harapan yang tinggi pada abangnya.
Alif terdiam sejenak mendengar permintaan adiknya " apa sudah kamu pikirkan? kenapa kamu tidak meneruskan pernikahan ini aja Mita, dia juga ayah dari anak kamu ?" tanya Alif
" Mita gak mau bang, Mita gak mau menjadi perusak hubungan orang lain, tolong bantu Mita dengan keputusan Mita ini bang, " mohon Mita pada Alif
" kamu mau tinggal dimana ?" tanya Alif, yang mengalah pada adiknya, dia juga tidak mau semakin membebani pikiran adiknya yang sedang hamil muda
" Kalimantan bang, di kota kelahiran kita, Mita merasa akan lebih nyaman jika di sana bang " ucap Mita " tapi sebelumnya Mita mau jujur sama ayah dan ibu bang, dengan kondisi Mita" sambungnya lagi
" ya sudah abang akan persiapkan segala sesuatu nya, untuk ayah dan ibu tunggu abang akan menemani kamu " ujar Alif
" tapi Mita mau yang tau keberadaan Mita hanya keluarga kita bang " pinta Mita lagi
" eemm abang ngerti kok, ya udah kamu istirahat kamu pasti capek pulang kerja, biar abang urus keperluan nya " ujar Alif
" Terimakasih bang " ucap Mita yang diangguki oleh Alif, kemudian dia kembali kekamarnya untuk istirahat.
***************
__ADS_1
terimakasih buat teman-teman pembaca, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, coment dan vote dengan poin yang kalian punya 😘
jika berkenan klik bintang yang ada di depan dan berikan rate kalian untuk cerita ini, satu lagi hati kalian harus ❤ seperti ini ya agar selalu tau ketika cerita ini sudah di up.