
SAH, SAH.... SAH
jelas terdengar di telinga Mita, suara para saksi pernikahannya dengan Bimo yang di lakukan secara sederhana hanya di hadiri orang-orang terdekat saja, wajah datar tanpa ekspresi yang Mita tampilkan tanpa berniat sedikitpun untuk menampilkan senyumnya, benar-benar menunjukkan rasa kecewa di hatinya.
setelah semua acara selesai dan berpamitan dengan kedua orang tua Mita, Alif dan Wahyu kini Bimo bersiap membawa Mita dan Faiz kerumah keluarga Rahardian, mereka sudah berada di dalam mobil milik Bimo. Bimo mulai menjalankan mobilnya di dalam mobil Mita asik berbicara dengan Faiz dan sesekali Bimo ikut menimpali pembicaraan mereka, hingga tak terasa mereka sampai di kediaman Rahardian.
Bimo menggendong Faiz yang sudah terlelap karna jam sudah menunjuk angka sembilan dan mengajak Mita untuk masuk kedalam rumah, yang di sambut hangat oleh Ryan, Maya dan Via tetapi berbeda dengan Mita yang masih dengan wajah datarnya, menatap semua orang yang ada di rumah tanpa ekspresi, membuat mereka yang menyambutpun merasakan ketidak nyamanan Mita.
" sayang ayo masuk " ajak Maya yang di angguki oleh Mita
" aku antar Faiz kekamarnya dulu " ujar Bimo
" selamat datang di keluarga Rahardian Mita, semoga kamu betah dan merasa nyaman tinggal disini " ucap Ryan
" jangan sungkan jika kamu ingin apa-apa, dan melakukan apapun, anggap saja ini juga rumah kamu sendiri " ujar Maya
" terimakasih Mita, aku ikut bahagia akhirnya kamu ada disini, aku berharap kita bisa menjadi istri yang baik untuk Bimo " ujar Via
" terimakasih " jawab Mita singkat tanpa ada kata-kata lain, bukan bermaksud tidak sopan dengan orang tua tetapi hatinya sama sekali belum bisa menerima keadaannya sekarang.
" kamu mau makan dulu atau mau bersih-bersih !" tanya Via
" aku mau bersih-bersih aja " jawab Mita
" ya udah yu ku antar ke kamar kamu " ajak Via
" om, tante Mita permisi dulu " izin Mita pada mertuanya
" iya sayang istirhat lah " jawab Maya
Mita dan Via meninggalkan mertua mereka menuju kamar yang akan di tempati oleh Mita, Mita berjalan di belakang Via dengan menahan perasaan sesak di hati dan di liputi berbagai macam pikiran di kepalanya.
" nah ini kamar kamu sama Bimo Mit " ujar Via sambil membuka pintu kamar
" terimakasih " jawab Mita
" Mita, maafkan aku sejak tadi aku tidak melihat mu tersenyum sama sekali, ayolah ini hari bahagia mu, aku benar-benar berharap kamu menerima pernikahan ini dengan ikhlas Mit " ujar Via menggengam tangan Mita
" kak aku lelah mau istirhat, permisi " ucap Mita yang kemudian masuk kedalam kamar dan menutup pintu, di dalam kamar Mita menatap nanar kesekelilingnya, taburan bunga mawar dari lantai hingga ranjang dan hiasan lilin-lilin kecil menambah suasana romantis jika saja ini merupakan pernikahan yang diinginkannya, tetapi semua itu justru membuat Mita semakin merasa kesal.
Mita berjalan kearah jendela dan membukanya, angin malam seketika menerpa dirinya yang kini berdiri di depan jendela kamar yang menghadap langsung ke arah taman dengan beberapa lampu putih sebagai penerangan di sana, taman mini yang terdapat di sekitar rumah Rahardian menjadi pemandangan tersendiri baginya.
" kenapa melamun di sini ?" tanya Bimo yang tak di dengar oleh Mita yang masih mengarahkan pandangan matanya keluar jendela.
" Mita " panggil Bimo dengan menyentuh pundak Mita, sukses membuat Mita terkejut dan menepis tangan Bimo, dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
" kamu gak mandi atau bersih-bersih ?" tanya Bimo
" Faiz mana ?" tanya balik Mita
" Faiz di kamarnya, aku sudah siapkan kamar buat dia " jawab Bimo
" trus ngapain kakak disini ? " tanya Mita
" ini kamar ku, kenapa aku gak boleh disini ?" jawab Bimo dan melangkah kelemari untuk mengambil piyama dan berlalu kekamar mandi meninggalkan Mita untuk membersihkan diri, Mita masih diam di tempatnya memandang langit malam hingga Bimo keluar dari kamar mandi dan menegurnya.
" sudah melamunya sekarang kamu bersihkan diri dan istirahat " perintah Bimo
" keluar dari kamar ini, kalo kakak mau tidur sana kekamar istri kakak " usir Mita saat melihat Bimo merebahkan dirinya di kasur
" kamu mau mandi sendiri atau aku mandikan ?" ujar Bimo pada Mita dengan seringaian jahilnya, membuat Mita kesal, apa dia tidak tau jika Mita sedang menahan emosinya ? menahan rasa kesal dan sesak di hatinya ? menahan rasa benci di hatinya, pria di depannya justru tersenyum dan menggodanya dengan santai.
Mita tidak lagi memperdulikan Bimo dia berjalan kekamar mandi dan membawa setelan piyama miliknya, dan tidak lama Mita sudah selesai dengan aktifitasnya, Mita keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih setengah basah, tidak ada Bimo di ranjanganya Mita menghela napas lega, dia duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya.
.
.
" loh kamu kok kesini Bim ?" tanya Via yang melihat Bimo masuk kedalam kamar mereka
" lah terus aku harus dimana ? " tanya Bimo
" aku kesini karna di usir Mita, apa kamu juga ngusir aku ?" tanya Bimo
" bukan gitu, tapi bagaimanapun Mita juga istri kamu, dan hari ini hari pertama dia menyandang status sebagai istri kamu, jadi jangan membuat dia semakin kecewa sama kamu dengan kamu ninggalin dia gini " ucap Via, Bimo menatap Via dengan teliti lalu menariknya kedalam pelukannya.
" maafkan aku, aku tidak bisa menjadi suami yang terbaik untuk mu, aku mengecewakan mu Vi, aku mencintai mu " ucap Bimo lirih tepat di telinga Via
" sudah aku bilang jangan pernah berpikir gitu, aku ikhlas berbagi cinta kamu dengan Mita, aku sayang sama Mita dan sebenarnya apa yang aku alami ini tidak seberapa di bandingkan dengan apa yang di alami Mita, maka jangan kecewakan kami, belajarlah membuka hati mu untuk mulai mencintai Mita dengan tulus, dia akan menjadi ibu dari anak-anak mu nanti dan aku akan ikut ambil bagian ku dalam merawat anak-anak kalian nanti " ujar Via
" terimakasih kamu masih mau menerima aku dengan segala kekurangan ku " ucap Bimo dan mencium sayang kening istrinya
" ya udah sana temani Mita, aku gak papa kok, jangan pikiran aku, fokus buatkan Faiz adik-adik yang lucu " ucap Via dan menarik tangan Bimo menuntunya keluar dari kamar Via dan segera menutup pintu, dan di balik pintu, Via yang sudah tidak sanggup menahan air matanya mulai terisak, dia berusaha menenangkan hatinya, karna bagaimanapun pernikahan ini juga merupakan kehendaknya, dia harus benar-benar membuat hatinya ikhlas dan tulus seperti apa yang sering di ucapkan.
.
.
Mita masih setia berdiri di depan jendela setelah selesai mengeringkan rambutnya, pikirannya benar-benar melayang, bagaimana dia menjalani pernikahan ini ? apakah dia bisa suatu saat menerima pernikahan ini ? bagaimana jika dia tetap tidak bisa menerima pernikahan ini di hatinya ? perasaan takut akan kejadian enam tahun lalu benar-benar masih nampak jelas diingatanya, rasa sakit, hancur dan kekecewaan masih sama di hatinya !.
" kenapa belum tidur ?" tanya Bimo
__ADS_1
" kenapa kembali kesini lagi ?" Mita balik memberi pertanyaan
" di tanya balik tanya " Bimo menarik Mita dan membawanya ke ranjang yang masih di penuhi bunga mawar
" udah ayo tidur " perintah Bimo sambil menyibakkan kelopak-kelopak bunga mawar
" kamu aja tidur di situ " ucap Mita yang mulai beranjak dari kasur, namun tangan Bimo lebih cepat menahanya.
" trus kamu mau tidur di mana ? " tanya Bimo menatap Mita tajam
" sofa " jawab Mita singkat dengan tatapan sinis nya
" tidur di sini atau di luar rumah " ancam Bimo kemudian menarik Mita dalam pelukannya, Mita mencoba berontak karna dia tidak suka dengan posisi seperti ini.
" DIAM, kalo kamu terus gerak aku tak akan menahanya lagi " ucap Bimo.
" lepaskan aku kak, aku tidak suka dengan posisi seperti ini " ujar Mita, Bimo yang mendengar ucapan Mita mendongakkan kepala Mita menghadap ke arahnya.
" kamu harus ingat, status mu sekarang istri ku, jadi aku berhak melakukan apapun, terhadap perasaan dan juga tubuh mu, dan jangan menolakku " ucap Bimo yang membuat Mita bergidik mendengar ucapan Bimo
" jangan mengancam ku, aku menikah bukan karna aku memiliki perasaan sama kamu, semua yang aku lakukan ini hanya untuk Faiz, aku tidak mau membuatnya kecewa, jadi lepaskan aku dan jangan anggap aku benar-benar sebagai istri mu, mari kita melakukan pernikahan sesuai dengan ucapan mu, jika semua ini untuk Faiz, dan tolong jaga jarak di antara kita " jelas Mita dan berusaha mendorong tubuh Bimo yang tanpa di sadarinya membuat Bimo marah dan mengeratkan pelukannya.
Mita masih belum menyadari perubahan raut wajah Bimo, yang semakin tajam menatapnya Mita masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Bimo, tiba-tiba Bimo menangkup wajah Mita dan mencium bibir Mita dengan kasar, Mita memukul-mukul dada Bimo yang sama sekali tak berpengaruh bagi Bimo, air mata menetes dari sudut matanya kenangan akan kejadian enam tahun lalu seakan menjadi pecahan ingatan yang membuatnya merasa takut akan terulang lagi kejadian seperti dulu, Bimo masih terus melihat dan memperdalam ciumannya pada Mita hingga merasa puas dan beralih keleher jenjang Mita, membuat tubuh Mita bergetar karna rasa takut yang kembali sama seperti kejadian masa lalu, kenangan buruk yang di terima meninggalkan rasa trauma terhadap perlakuan kasar Bimo.
" HENTIKAN, HENTIKAN " teriak Mita dengan air mata yang semakin deras mengalir di wajahnya
" kenapa ? aku meminta mu dengan baik-baik,tapi apa yang kamu katakan padaku " sahut Bimo dan kembali melakukan aktifitasnya
" HENTIKAN, JANGAN KETERLALUAN, AKU MOHON " ucap Mita
" aku mohon hentikan, jangan hancurkan aku lagi, semua nya masih jelas dalam ingatan ku, hiks...hiks... " ucap lirih Mita
Bimo mendengar ucapan Mita mengehentikan perbuatannya, dia sempat tertegun, mengingat kesalahanya dimasalu, menatap Mita yang masih menangis dengan wajah pucat dan tubuh yang bergetar karna rasa takut, Bimo merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa semarah itu, saat Mita menolaknya dan menjelaskan bahwa dia tidak benar-benar menerima pernikahan mereka walaupun Bimo sudah mengetahuinya dan sangat menyadari semua itu, apa Bimo terlalu egois ? kenapa seakan ada rasa perih di hatinya ? mungkin ini karna rasa bersalah ku padanya, pikir Bimo.
" maafkan aku, aku harap kamu tidak menolak ku, bukan aku egois, tapi aku ingin menjalani rumah tangga dengan mu layaknya pasangan suami istri " ucap Bimo yang kembali memeluk Mita.
" lepas " ujar Mita yang masih berusaha menghentikan tangisnya, menahan semua rasa sakit di dadanya.
" menurut lah " ucap Bimo dengan tangan yang usap-usap puncak kepala Mita, mencoba memberi ketenangan pada Mita.
" tolong lepas, aku benar-benar tidak nyaman jika seperti ini " ucap Mita dengan suara lirih yang masih bisa di dengar Bimo, dengan terpaksa Bimo melepas pelukannya dari Mita, dengan cepat pula Mita membalik posisinya membelekangi Bimo, Bimo hanya bisa menatap punggung rapuh yang masih bergetar di depannya.
apa kamu begitu membenciku Mit ? ya aku tau aku bersalah padamu, tidak bisakah kamu mencoba menerima ku ?, hati kupun terasa perih jika kamu begini, selama ini aku menahan rasa bersalah ku padamu, aku membuka hati ku untuk mu, biarkan aku egois untuk memiliki mu. batin Bimo
Bimo dan Mita sama- sama belum bisa tertidur, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing, hingga waktu hampir pagi barulah mereka tertidur.
__ADS_1
********************
Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian setelah membaca dengan like, komen dan vote, karna dukungan kalian adalah semangatku untuk terus menulis, terimakasih ❤