
saat bangun tidur di pagi hari, perasaan dan hati Mita semakin gelisah tidak menentu, semakin memikirkannya semakin membuat Mita tidak nyaman dan segera ingin kembali ke Jakarta, di lihatnya Faiz yang masih terlelap di sebelahnya, kemudian Mita memutuskan untuk membuat sarapan setelah membersihkan diri.
" sudah bangun Mit " sapa Bimo yang sudah duduk di meja makan dekat dapur
" ehm " sahut Mita
" mau masak apa sayang ?" tanya Bimo, Mita hanya menatap Bimo kilas
" kok diem sih ?" tanya Bimo lagi yang sudah berdiri di sebelah Mita
" emang kak Bimo mau sarapan apa ?" tanya Mita
" aku mau ayam balado buatan kamu " ucap Bimo
" itu pedes buat sarapan, nanti siang aja ya baladonya " ucap Mita
Bimo tersenyum mendengar perkataan Mita dia merasa senang mendapat perhatian dari Mita " iya, ya udah bikin sarapan aku bantuin ya " ucap Bimo
" gak usah kakak duduk aja di sana, aku buatkan kopi sambil nunggu Faiz bangun, temani dia mandi " ucap Mita membagi tugas
" siap " sahut Bimo
CUP
Bimo mencium pipi Mita dengan senyumnya, dan menatap Mita dengan wajah bahagianya. " terimakasih " ucap Bimo
" jangan besar kepala, aku hanya tidak mau berdebat, dan besok pagi aku sama Faiz mau balik ke Jakarta " ujar Mita
" lalu aku ?" tanya Bimo
" terserah " sahut Mita ketus
" kita berangkat bareng pulang juga bareng, tapikan belum seminggu, kamu bilang mau seminggu di sini Mit ?" tanya Bimo
" gak jadi aku gak bisa merasa tenang juga disini karna kakak juga ikut kesini, jadi percuma aja aku lama-lama di sini " sarkas Mita
" ya ampun Mit, ya udah aku minta kapten Felix aja yang jemput kita besok, dan apa kamu mau cerita bagaimana kamu bisa punya usaha dan rumah di sini Mit ?" tanya Bimo
" bukan urusan kakak " sahut Mita
" baiklah, baiklah, aku lihat Faiz saja " ucap Bimo dengan helaan napasnya yang hanya di acuhkan oleh Mita.
.
.
" morning mi " sapa Faiz
" morning sayang " jawab Mita
" sarapan ya sayang, mami bikin nasi goreng udang kesukaan Faiz " ujar Mita
" mau / yeey " ucap Bimo dan Faiz bersamaan
" ya sudah ayo makan dan habiskan " ujar Mita yang di angguki Bimo dan Faiz semangat
.
.
saat ini Mita sedang berada di salah satu rumah makan miliknya untuk kembali meninjau bisnisnya dan sekaligus berpamitan dan menitipkan usahanya pada orang kepercayaan nya, dan setelah itu juga dia ke toko roti miliknya dan juga berpamitan yang di temani Bimo dan Faiz, kemanapun Mita pergi dua orang pria beda usia itu selalu mengekorinya selama mereka di Kalimantan.
" mba Mita beruntung banget ya, suami tampan, selalu pengertian " ujar Wulan
" kamu pengen ?" tanya Rizki yang diangguki Wulan semangat
" MIMPI" ucap Rizki sambil tertawa
" wajarlah mba Mita cantik banget punya usaha, gak mungkinkan suaminya abal-abal, pasti juga sama hebatnya, tampan banget lagi " sambung Rizki
" iya kamu itu jenis abal-abalnya " sahut Wulan sambil berjalan kembali ke meja kasir.
.
__ADS_1
.
setelah selesai dengan kegiatannya yang juga tak lupa berpamitan dengan paman dan bibinya Mita, mereka kembali kerumah karna hari juga sudah sore, dan membersihkan diri sebelum Mita sibuk di dapur untuk memasak.
" mami Faiz mau nonton tv boleh ?" tanya Faiz
" boleh sayang, tapi mami masih masak untuk makan malam" jawab Mita
" Faiz sama papi, tadi papi masih telfon " ujar Faiz
" ya sudah yu mami temani Faiz tunggu papi dulu " ajak Mita yang menghentikan kegiatan memasaknya.
Mita dan Faiz berjalan ke ruang keluarga yang terdapat tv di sana, setelah menyalakan tv dan memilih acara tv yang di sukai Faiz, Mita duduk di sebelah Faiz.
" Faiz mau mami ambilkan cemilan ?" tanya Mita
" boleh mi " jawab Faiz
" oke tunggu sebentar ya " ujar Mita dan berjalan menuju dapur
saat melintasi pintu yang mengarah ke taman belakang sayup-sayup terdengar suara Bimo yang sedang menerima telfon, yang terdengar oleh Mita hanya beberapa kata yang di sebut oleh Bimo.
" rumah sakit, di percepat " gumam Mita
" hah sudah lah bukan urusan ku " ucap Mita lirih dan melanjutkan tujuannya untuk mengambil cemilan, setelah beberapa saat Bimo ikut bergabung menemani Faiz.
" mami lanjut masak lagi ya " ucap Mita
" iya mi " jawab Faiz
" ayam ku ?" tanya Bimo
" iya " jawab Mita dengan lembut
.
.
setelah selesai makan malam dan menemani Faiz tidur, Mita memilih untuk membereskan barang-barang yang akan di bawanya besok, semakin dekat waktu Mita untuk kembali ke kota besar semakin gelisah pula perasaannya, membuat Mita penasaran sendiri dengan kegelisahannya, sebenarnya ada apa ? apa akan terjadi sesuatu ? mungkin karna Mita sangat merindukan orang tuanya, yang sama sekali belum di kunjunginya sejak dia menikah, walaupun Mita berusaha menepis perasaan kecewa di hatinya tetapi entah terlalu egoiskah dirinya yang lebih memilih menghindari orang tuanya tanpa menanyakan alasan sebenarnya ketika ayahnya memasaknya menikah dengan Bimo.
" ada apa ?" tanya Mita
" apa aku boleh bertanya ?" tanya Bimo
" apa ?" ujar Mita
" bagaimana jika aku melakukan kesalahan lagi dan kembali menyakitimu ?" tanya Bimo
Mita mengehentikan aktifitasnya dan menatap Bimo, " apa belum cukup dengan semuanya ? bahkan aku belum menanyakan alasan atau apa yang kakak katakan pada ayah, sampai ayahpun memaksa ku menikah dengan kakak !?" ucap Mita
" lalu bagaimana menurut mu jika aku mencintai mu Mit ?" tanya Bimo dengan hati berdebar, dan gugup saat kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
lagi-lagi pertanyaan Bimo membuat Mita menatapnya, dengan menerutkan keningnya. " aku tidak pernah berharap, dan aku tidak ingin ada hal seperti itu " jawab Mita
" kenapa ? apa salah jika suami mencintai istrinya ?" tanya Bimo lagi
" tidak salah jika itu dalam hubungan normal, tapi tidak untuk kita " sahut Mita
" kamu harus membuka hati mu untuk ku Mit, karna aku suami mu " ujar Bimo
" tidak akan pernah " sahut Mita lagi
" Mit... " lirih Bimo dan Mita menggelengkan kepalanya.
.
.
.
jam sepuluh pagi Bimo, Mita dan Faiz sudah sampai di bandara dan di jemput oleh Andi asisten Bimo, setelah mengantar Mita dan Faiz kerumah Bimo dan Andi kembali ke perusahaan.
" Mit kamu sudah sampai " sapa Via yang melihat Mita dan Faiz berjalan masuk kedalam rumah
__ADS_1
" ya " jawab Mita
" Mit apa kamu lelah ?" tanya Via
" gak juga, kenapa kak ?" tanya Mita
" aku mau kasih tau kamu sesuatu " ucap Via
" Faiz, cucu oma " panggil Maya saat menuruni tangga
" iya oma " jawab Faiz
" sama oma yu, oma tadi bikin puding, Faiz cobain ya " pinta Maya, Faiz menatap Mita dan di angguki oleh Mita
" ayo oma" semangat Faiz
" kamu mau juga sayang " tawar Maya pada Mita
" nanti tante, Mita nyusul ke dapur " jawab Mita
" baiklah, ayo Faiz " ujar Maya
.
.
kini Mita dan Via sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar Mita, setelah Mita berganti baju terlebih dulu.
" ada apa kak ?" tanya Mita
" Mit, aku memberitahu kamu duluan sebelum Bimo, aku sangat bersyukur dan bahagia karna ini semua berkat kamu karna mengizinkan aku membantu merawat Faiz dan akhirnya Tuhan memberikan aku kesempatan dan keajaiban " ucap Via dengan semangat
" lalu ?" tanya Mita
" aku hamil Mit, dan saat aku cek ke dokter sama mamah dokter bilang usianya sudah enam minggu, aku bahagia banget Mit akhirnya aku bisa merasakan ini, merasakan apa yang semua wanita juga rasakan " ucap Via
" benarkah ? kakak hamil ? kakak gak bohong kan ?" tanya Mita
" aku serius Mit, karna itu aku sangat bersyukur " ucap Via
" aku seneng dengarnya, semoga semuanya lancar hingga kakak melahirkan, dan itu berarti aku bisa berpisah dengan kak Bimo kan kak ?" tanya Mita
Via terkejut mendengar pertanyaan Mita, " apa maksud kamu Mit ? aku memang hamil tapi kamu dan Bimo gak boleh berpisah, kita tetap harus bersama-sama membesarkan anak kita !" ucap Via
" kenapa ? bukankah tujuan kakak sudah tercapai ? aku sungguh bahagia mendengar kabar ini " ujar Mita
" aku membuat mu kecewa Mit dengan tujuan ku yang tidak baik terhadap mu, aku menyadarinya aku bersalah, tapi aku mohon tetaplah disini bersama kami, aku yakin Bimo tidak akan mau melepas mu Mita " ucap Via
" kenapa kak Bimo tidak mau ? apa karna Faiz ? aku tidak akan melarang kalian bertemu, tujuan kalian sudah tercapaikan ? aku rasa sudah tidak ada alasan lain kak !" ujar Mita
" tentu saja ada alasan, Mit aku mengenal Bimo cukup lama, aku memahaminya, aku melihat cinta di matanya untuk mu Mit, aku yakin jika Bimo mencintaimu dan dia tidak akan membiarkan mu yang ingin berpisah dan kamu tidak boleh egois memisahkan Faiz dari papi nya Mit " ucap Via
" aku tidak mau ada cinta, dan ya aku memang egois, dan lebih egois dari kalian " ucap Mita
" Mit bukan begitu maksud ku, aku hanya tidak ingin Faiz terpisah dari papi nya Mit, dan aku----" ucapan Via terpotong saat Mita menyelanya
" sudah lah kak, aku lelah ingin istirhat, pada akhirnya kalian tetaplah kalian, dan sekali lagi selamat untuk kehamilan kakak " ucap Mita
" Mita, aku ingin anak ku juga lahir selamat dan bisa bersama dengan kakaknya Faiz, dia juga anak kamu Mit, dia nanti juga akan memanggil kamu mami, dan aku mamah, dia akan memanggil Bimo papi seperti Faiz, jadi aku mohon jangan berpikir untuk meninggalkan kami Mit " ucap Via penuh harap
" entahlah kak, aku hanya berharap Tuhan selalu memberiku kesabaran dalam situasi apapun, agar aku tidak salah dalam menjaga Faiz hingga dia dewasa nanti " ucap lirih Mita
" semoga aku bisa menjadi ibu seperti mu Mit, yang selalu sabar dan terbaik untuk anak " ucap Via yang di tanggapi senyum terpaksa oleh Mita
" baiklah istirahatlah, aku akan menemani Faiz dan mamah " ucap Via yang lagi hanya di angguki oleh Mita.
setelah Via keluar dari kamarnya Mita masih diam duduk di sofa dan kembali merasa gelisah dengan perasaannya.
" ya Tuhan sebenarnya ada apa ? kenapa aku gelisah terus, perasaan juga gak karuan, semoga bukan sesuatu yang buruk " gumam Mita.
Mita kemudian membuka ponselnya yang sejak tadi di lupakannya, memberi kabar kepada paman dan bibinya bahwa dia sudah sampai di Jakarta, di lanjutkan dengan membereskan beberapa barang bawaannya dari Kalimantan.
*************************
__ADS_1
Terimakasih untuk readers yang sudah mampir dan membaca ceritaku, jangan lupa dukung juga dengan like, komen dan vote❤❤❤