
" abang" panggil Mita yang melihat kakaknya tertidur di sebelahnya
" kenapa dek, mau apa ? " tanya Alif yang masih dalam keadaan mengantuk tetapi tetap dengan siaga menjaga adiknya
" enggak, abang kok masih disini ?" tanya Mita
" ya jagain kamulah " jawab Alif sekenanya, bangun dari tidurnya kemudian duduk menghadap adiknya yang sudah lebih dulu duduk diatas kasur.
" gimana udah baikan?" tanya Alif dan menyentuh kening adiknya untuk memastikan kondisi Mita yang sudah tidak demam lagi.
" sudah bang, Mita sudah baikan, terimakasih ya bang udah ngerawat Mita" ucap Mita dengan senyum yang dipaksakan.
" sekarang kita kerumah sakit ya" ajak Alif
" Mita udah sembuh bang, kenapa kerumah sakit ?" tanya Mita bingung
" semalam dokter yang periksa kamu menyarankan untuk ke rumah sakit melakukan pemerikasaan menyeluruh, karna dokter bilang---- " Alif menghentikan ucapannya, menatap adiknya dan memperhatikan adiknya dengan teliti, hingga dia menemukan hal janggal pada tubuh adiknya, Mita yang diberi tatapan menyelidik oleh kakaknya, mulai menyadari jika kakaknya sedang meminta penjelasan padanya.
" katakan apa yang sebenarnya terjadi sama kamu ?" tanya Alif dengan tatapan mata yang tak lepas dari adiknya, pertanyaan Alif membuat mita merasa gugup dan takut, apa yang harus dikatakan? bagaimana dia menjelaskan semuanya ?, sedangkan mengingatnya saja benar-benar membuatnya sesak hingga sulit bernapas akan kejadian dua hari yang lalu.
" Mita " panggil Alif, Mita masih diam menundukkan kepalanya menahan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
" kalo kamu gak mau cerita, kita kerumah sakit sekarang, dan abang bakal cari tau sendiri, kamu juga tau risikonya " ujar Alif dengan sedikit mengancam adiknya, Alif bukan tidak tahu dengan tanda yang terdapat pada tubuh adiknya, sama dengan adiknya dia adalah pria dewasa yang mengerti tanpa di jelaskan, Alif ingin tahu alasan adiknya apa? hanya dia berusaha menahan diri untuk tidak terucap dan menunggu pengakuan dari Mita.
" hiks...hikss.... maaf, maafkan Mita bang, jangan bawa Mita kerumah sakit, jangan mencari tau bang, Mita janji bakal cerita tapi jangan paksa Mita bang, Mita takut hiks...hiks...hikss..." ucap Mita disela tangisnya, Mita tidak ingin semuanya semakin menjadi rumit jika dia sampai di bawa kerumah sakit, sedangkan Alif melihat adiknya menangis karna desakannya jadi merasa bersalah, selama ini adiknya sangat jarang menangis walaupun dia memang sangat manja.
Alif menarik adiknya kedalam pelukan mencoba memberikan ketenangan sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. "tenanglah abang disini yang menjaga mu, abang akan selalu bersama kamu, kamu bisa menceritakan jika kamu sudah siap, tapi berjanjilah setelah ini kamu harus baik-baik saja, jangan perlihatkan kerapuhan mu ini pada orang lain " kata Alif.
Alif melonggarkan pelukannya, mengusap air mata adiknya, meletakkan kedua tangannya di bahu adiknya" berhentilah menangis, kembalilah menjadi adik manja abang, cukup dua hari ini kamu buat abang khawatir, abang lebih suka kamu yang cerewet dan menyebalkan " ujar Alif yang di angguki oleh Mita, Alif kembali menghapus air mata adiknya dan memeluk erat Mita, sungguh hatinya saat ini sedang bergemuruh menahan segala emosi yang tak terluapkan.
" EHEEEMM...." suara deheman dari ambang pintu kamar Mita, membuat Mita dan Alif menoleh secara bersamaan, sedang orang yang di tatap oleh kakak beradik itu menampilkan cengiran kudanya.
" aku terharu mendengar ucapan bang Alif, bang mau ya jadi kakak ku juga " ucap nya dengan nada manja yang di buat-buat.
" jijik gue, ngapain lo di sini, ganggu aja " maki Alif
" gue kan calon adik ipar lo bang " ucap pria itu yang tak lain adalah Wahyu.
" ngapain kamu kesini Yu ?" kini Mita yang bertanya, dengan ekspresi yang terlihat ceria namun sarat akan kesedihan di matanya, Mita memang ahli dalam menyembunyikan sesuatu tentang dirinya, dia tidak ingin banyak orang mengetahui tentang kehidupan pribadinya, tapi sayanganya Wahyu begitu paham dengan sikap dan sifat sahabatnya itu, Wahyu tersenyum tipis dan menatap Mita.
" jenguk kamulah, kata bang Alif kamu sakit, mangkanya aku jenguk biar cepat sembuh, soalnya aku kerepotan gak ada kamu di kantor " ujar Wahyu yang mendapat delikan tajam dari Alif, sedangkan Wahyu hanya cengngengesan, dan Mita menggelengkan kepalanya.
" sekalian numpang makan lo " cibir Alif yang sudah tau kebiasaan sahabat adiknya ini
" nah tuh abang tau, perhatian bangetsih bang makin pengen lebih cepet jadi ipar " ucap Wahyu dengan pd,
" kamu ikut aku ada yang mau aku bicarakan, Mita biar istirahat, enek juga dia liat muka kamu " ujar Alif yang langsung menarik tangan Wahyu keluar dari kamar Mita dan menutup pintu kamar.
" akukan kesini mau ketemu Mita bang bukan abang" kesal Wahyu, yang tak di perdulikan Alif dengan terus menariknya ke halaman belakang rumah Mita.
__ADS_1
.
.
" Wahyu, gue minta tolong sama lo, buat jagain Mita, lo tau apa yang terjadi sama Mita ?" tanya Alif
Wahyu cukup mengerti dengan maksud pertanyaan Alif " gue gak tau bang, dua hari yang lalu gue ikut kerumah Mita dan gue pulang setelah makan malam semuanya masih baik-baik aja bang, dan besoknya abang ngabarin Mita sakit"
" dokter bilang Mita perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh, karna terjadi sesuatu sama dia, dan gue curiga dia.... " Alif menghentikan ucapannya, ingat dia melihat beberapa tanda merah keunguan ditubuh adiknya, sejak hari pertama dia menjenguk adiknya setelah di telfon bi Tini.
" kenapa bang ?" tanya Wahyu
" sebentar aku panggil bi Tini dulu " sahut Alif
setelah memanggil bi Tini dan mengajaknya kehalaman belakang, Alif mulai menanyakan apakah ada orang lain yang datang kerumah Mita dari tiga hari yang lalu, bi Tini menceritakan semuanya tanpa terlewat juga saat Bimo yang memaksa Mita untuk ikut denganya.
" sebentar den bibi lupa namanya" ucap bi Tini
"Bim... Bima atau Bimo, den namanya " ucap bi Tini ragu, Alif dan Wahyupun saling menatap
" bibi ingat wajah nya ? mirip gak sama orang ini ?" tanya Wahyu dengan memperlihatkan foto Bimo dari ponselnya.
" nah iya den ini orangnya yang tengah malam bawa non Mita " ucap bi Tini dengan serius
Alif mengepalkan tangannya, menahan emosi yang mulai muncul kembali didalam hatinya, dia berharap apa yang ada didalam pikiranya tidak benar-benar terjadi, sedangkan Wahyu masih sibuk dengan pemikiranya mencerna setiap kata yang di katakan Alif tadi kepadanya, walau dirinya pun sadar akan kondisi sahabat kesayangan nya itu.
" iya bang " sahut Wahyu.
.
.
.
seminggu telah berlalu setelah pulih dari sakitnya, Mita memutuskan kembali bekerja, mengesampingkan rasa sakit hatinya dan mencoba tegar dari setiap masalah yang di terimanya, karena jika Mita berhenti begitu saja tentu dia akan melenggar beberapa kontrak kerja yang pasti akan mempersulit dirinya dan Mita tidak ingin sampai ayah dan ibunya mengetahui hal buruk ini, Mita tetap menampilkan wajah cerianya hingga tak membuat orang lain curiga atau menyadari jika dirinya sedang menanggung luka yang sangat dalam, berusaha tegar memang sulit tetapi Mita selalu ingat pesan-pesan abang nya untuk tetap tenang dan jika tak bisa bertahan agar lekas menghubungi kakaknya.
Mita menarik dalam napasnya dan menghembuskannya perlahan menatap gedung tinggi di hadapannya, melangkahkan kakinya memasuki gedung dan di sambut ramah oleh teman-teman sesama karyawan di perusahaan.
hari-hari yang di laluinya cukup membuatnya banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaannya, tak jarang saat ada rapat kerja dia harus bertemu Bimo dan bertatap atau sekedar membicarakan beberapa hal tentang pekerjaan, walaupun dia selalu berusaha untuk menghindarinya.
" Mita kamu di minta keruangan bos tuh " ujar Andi
" kok aku, kenapa gak pak Wahyu aja, emang ada apa kak?" tanya Mita
" pak Wahyukan lagi keluar Mit, ke-anak perusahaan, ngapainya aku gak tau, paling mau marahin kamu, wajahnya serem banget " ujar Andi, Mita hanya melirik Andi dan berjalan menuju ruangan Bimo.
ada perasaan gugup dan takut di dalam dirinya jika harus menemui pria itu sendiri, dengan susah Mita menenangkan dirinya, Mita masuk kedalam ruangan Bimo setelah di persilahkan.
" maaf bapak memanggil saya? " tanya Mita, yang sejak masuk kedalam ruangan sudah mendapat tatapan tajam dari Bimo.
__ADS_1
Bimo menatap Mita dari atas hingga bawah, terlihat tubuh mungil di hadapannya menjadi lebih kurus di bandingkan saat dia bersama dengannya tiga minggu yang lalu.
" konsep pernikahan apa yang kamu mau ?" tanya Bimo tanpa mengalihkan tatapan tajamnya, Mita diam tidak menjawab jauh didalam hatinya dia benar-benar merasa semakin takut dan gelisah, dengan berusaha sekuat tenaga Mita mempertahan ekspresi dirinya, yang tetap tenang.
" maaf bapak memanggil saya jika bukan karna pekerjaan saya permisi " jawab Mita dan siap untuk memutar tubuhnya.
" jangan membuatku mengulang pertanyaan " ucap Bimo dengan meninggikan suaranya, dan mampu membuat mita menghentikan geraknya.
" yang bapak tanyakan kepada saya itu merupakan keinginan pribadi saya dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, sekali lagi sa-----"
" Mit kamu ingin mengulang hukuman mu karna memancing kemarahan ku " ujar Bimo menghentikan perkataan Mita, Mita yang mendengar kata dari Bimo merasa seperti terancam, diam mematung di tempat tatapan mata takut khawatir menjadi satu mengarah pada Bimo.
Bimo yang belum juga mendapat jawaban dari pertanyaannya bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah Mita yang terdiam, gerakan mundur secara reflek di lakukan Mita guna menghindari Bimo
" diam itu artinya lebih memilih hukuman !?" ucap Bimo dengan seringai jahatnya.
Mita semakin merasa gugup dan sangat susah baginya untuk menelan salivanya yang kering, Mita berusaha menjawab pertanyaan Bimo, " maaf pak saya belum terpikirkan untuk menikah, jadi saya belum memikirkan apapun yang berhubungan dengan pernikahan" jawab Mita dengan sekali tarikan nafas.
"tidak tau atau pura-pura tidak tau, jika keluargamu menyetujui pernikahan, dan akan di adakan sembilan minggu dari sekarang ?" Bimo tersenyum remeh pada Mita yang terkejut menatapnya saat mendengar waktu untuk acara pernikahan, dirinya belum menerima kabar apapun dari ayah nya, kenapa Bimo mengatakan jika mereka akan segera menikah ?, tidak boleh ini tidak terjadi, ucap Mita di hati dan menggeleng pelan.
" aku gak tau, jangan menuduhku!, dan kamu kak, katakan pada keluarga mu jika kamu tidak mau menikah dengan ku dan nikahi kekasih mu, gunakan otak pintar mu untuk membatalkannya, apa kebisaan mu hanya mengancam dan memberi perintah?, kamu juga sudah tau kak kalo akupun sama sekali tidak berminat dengan perjodohan ini, tapi kamu yang keterlaluan, kamu menghakimi aku dan bahkan kamu belum puas menyalahkan aku " Mita mengeluarkan setiap kata yang ada di dalam pikirannya, menahan dengan sekuat tenaga air mata yang sudah menggenang siap untuk tumpah membasahi wajahnya.
" karena kamu memang bersalah, kamu dengan sengaja mendekati dan memanfaatkan untuk kepentingan mu, kamu bahkan tidak berbeda dengan wanita murahan di luaran sana" cibir Bimo
" TERSERAH " sahut Mita, dengan cepat dia memalingkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan yang menyesakkan dadanya, saat akan membuka pintu Mita di kejutkan dengan pintu yang terbuka lebih dulu, membuat Mita terkejut menatap wanita cantik di hadapannya, Mita mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat matanya yang sudah berkaca-kaca.
" SUR -- prise " ucap seorang wanita yang tadinya berteriak kemudian suaranya mengecil. bergantian menatap punggung pria di depan nya dan wanita cantik di hadap nya.
" MIITAAA" teriaknya dan langsung memeluk tubuh mungil Mita, Mita membalas pelukan wanita itu dengan membuang nafas kasar guna melegakan hatinya.
" kak Via " ucap Mita, kegiatan kedua orang wanita itu tak luput dari pandangan Bimo.
" Mita kakak kangen banget sama kamu, kamu apa kabar ? kamu sibuk banget ya jadi susah dihubungi ? gak kangen sama kakak ?" tanya Via beruntun hingga melupakan niat awalnya memberi kejutan pada kekasihnya Bimo.
" Mita kangen sama kakak, Mita baik-baik aja, maaf kalo Mita jarang hubungi kakak karena pekerjaan Mita lumayan banyak kak, kak via bagaimana apa kakak di sana betah ?" Mita menjawab setiap pertanyaan Via dan kembali bertanya pada sahabat nya yang sudah lama tidak berjumpa dengan nya.
" kakak gak betah karena gak ada yang bawel kaya kamu disana, emm.... kakak bawa makanan kita makan bareng-bareng yu, kakak ajak Wahyu juga " ajak Via
" maaf kak Via aku masih ada pekerjaan yang harus selesai hari ini, gimana kalo nanti kerjaan Mita cepat selesai Mita temani kakak " ucap Mita, yang membuat Via sedikit kecewa.
" biarkan dia pergi, kamu bukanya kesini mau ngasih kejutan aku ?" ujar Bimo yang sudah mulai kesal di abaikan.
" eeh yang aku lupa kalo ada kamu " sahut Via dengan senyum yang terukir begitu cantik
" ya udah ka Mita duluan ya " pamit Mita yang di angguki oleh Via.
FLASHBACK OFF
********""
__ADS_1