
"Ro'uf, kamu tidak sopan. Cepat pergi ke kamarmu" madam melotot, matanya hampir keluar dari kelopaknya. Hihi.. syukurin kamu Abdul Ro'uf, akhirnya ketahuan juga sama madam Adeeba.
"Dan kamu, ya Noorah. Kenapa kamu tertawa. Apakah ada yang lucu, hah?" ia balik bertanya padaku. Seketika aku diam. Mau jawab juga bingung, walau akhirnya aku menggelengkan kepala.
"Apakah ia sering berlaku demikian di rumah, jika tidak ada aku ya Noorah?" dengan cepat aku segera mengangguk. Biar kakaknya tahu kelakuan adiknya yang nakal itu. Mungkin saja dia mengusir adiknya itu pergi dari rumah ini sebagai hukuman, amin...
'Rasain biar tahu rasa kamu Abdul Ro'uf'
"Huh," madam berlalu menuju Kamar adiknya. Diketuknya pintu kamar tamu itu berkali-kali.
Tok, Tok, Tok!
"Ro'uf, buka pintunya, cepat" tak lama kepala adiknya nongol di balik pintu. Disusul suami madam, tuan Khabeer turut hadir juga, dia datang dari arah kamarnya.
"Sayang, kamu mengagetkanku yang sedang tertidur." ia menghampiri istrinya dengan perasaan heran. Jarang sekali madam Adeeba marah dan berteriak. Tak biasanya.
"Maap, sayang. Aku hanya ingin bicara dengan Ro'uf." madam menjelaskan.
"Ada masalah apa?" kening tuan Khabeer berkerut. Mungkin karna melihat suaminya merasa heran dan terganggu. Madam lalu memegang pundak suaminya dan memberi isyarat agar ia mendekat. Lalu berbisik di telinganya. Tuan Khabeer melotot kemudian balik menatap adik iparnya itu.
__ADS_1
Sang adik sendiri sepertinya tak perduli dan
mengacuhkan mereka. Terbukti ia begitu saja berlalu ke kamarnya dan hendak menutup pintu. Sebelum dihentikan oleh tangan madam Adeeba.
"Tunggu dulu, aku belum selesai. Kita harus bicara.
Keduanya pun masuk dan mengobrol di dalam kamar. Dan nampak berbicara agak serius. Terdengar sampai ke arah dapur, meski samar-samar.
Ya, biarlah sekali-kali Ro'uf diberi pelajaran.
Kalau ditelisik lebih dalam, keluarga Abdul Ro'uf itu termasuk keluarga yang cukup terpandang di kota ini, masih kerabat dekat kerajaan, ayahnya sendiri adalah seorang pegawai di pemerintahan syariah kota Thaif. Maka ia dan seluruh keluarga wajib menutupi aurat tanpa terkecuali dan harus menjaga sikap dan menghindari hal-hal yang tidak terpuji. Meski orang arab jarang sekali bergosip dan bergunjing, namun itu tetap tidak baik untuk keluarga dan bisa menghancurkan image ayahnya madam Adeeba.
🍒🍒🍒
"Oh, sudah selesai kamu mengganti popok anakku?"
"Ya, madam" aku masukkan diapers bekas dalam kantong kresek kemudian membuangnya.
"Ya Noorah, pergilah bersama Ro'uf" aku menatap madam, tak mengerti.
"Kemana?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Kamu akan tahu nanti"
"Lalu, Oomar?"
"Hey, bukankah kamu pengasuhnya. Kamu khan bisa membawanya bersamamu"
"Hm, baiklah..."
🍒🍒🍒
Apa kamu sudah siap, Noorah?" Abdul Ro'uf sudah menunggu di depan pintu keluar.
Aku mengangguk mengiyakan. Sengaja Oomar aku gendong, tidak membawanya dalam keranjang bayi. Ribet dan berat karna Oomar kecil sudah masuk lima bulan, otomatis bb nya pun ikut naik.
Saat memasuki lift, hanya ada kami bertiga. Tak ada orang lain. Pun saat di parkiran. Aku ragu, apakah harus masuk dan duduk di depan bersama Abdul Ro'uf atau tidak.
"Hey, apakah kamu akan diam saja di situ, hah?" ia melongo dari balik kaca depan.
Aku pun segera membuka pintu mobil bagian samping.
"Aku bukan sopirmu, ya Noorah. Duduk di depan" perintahnya. Deg.
__ADS_1