
Suara bel di ruang tengah membuatku terlonjak, tepat saat akan akan kudaratkan ciuman pada kening Noorah. Bagaimana tak kulakukan, wajahnya menempel dalam dadaku, tubuhnya berada tepat dalam dekapanku. Tanpa jarak, membuatku semakin tak dapat menahan segala gejolak dalam dada yang semakin lama semakin besar. Aku tak kuat menahannya. Sungguh. Rasanya ingin segera kulampaskan pada Noorah.
Aku segera beranjak menuju pintu dan membukanya.
Rupanya Ahmed yang datang.
"Apakah aku mengganggu?" tanya Ahmed tanpa basa basi.
"Hey, apa maksudmu? masuklah" Kami sama-sama tersenyum sambil berpelukan karna lama tidak berjumpa
"Hey, tentu saja kamu tahu maksudku. Terlihat jelas di wajahmu yang sudah seperti kepiting rebus itu" ia terkekeh geli membuatku geram sekaligus malu, tentu saja. "apakah tadi kamu melakukan apa yang kusuruh, hah? sebenarnya tadi aku hanya bercanda" lanjutnya lagi.
"Apa?" aku hampir menganga mendengar ungkapannya. Hanya bercanda katanya, padahal aku sudah setengah mati menahan hasrat karna ulahnya itu.
"Sudahlah, wajah jika kamu melakukannya"
"Ahmed, kawanku. Ini tak seperti yang kamu bayangkan, sungguh!" aku mencoba membela diri.
"Ayolah kawan, kadang aku pun seperti itu dengan istriku" ia menyenggol lenganku sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
Sementara aku hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itu.
Ahmed, kamu menyelamatkan Noorah sekaligus kamu menghentikan niatku.
Kuajak Ahmed ke kamar Noorah yang tengah meringkuk kedinginan. Beberapa alat ia keluarkan dari dalam tas-nya. Kemudian memasangnya pada telinga dan mulai ia arahkan ke dada Noorah.
Dengan cekatan ia memeriksa dan mengangguk beberapa kali.
"panas sekali" ucap Ahmed.
"Ia, selain panas juga dia menggigil" aku menimpali ucapannya.
"Sepertinya hatimu juga" ucap Ahmed seraya melirikku yang berdiri tak jauh darinya.
"Aku kenal betul dengan kamu Ro'uf. sepertinya kamu perhatian sekali pada wanita ini" ucapnya sambil mengeluarkan obat dari dalam tas.
"Itu karna dia pelayan kakakku, Adeeba. Selebihnya aku tak perduli" aku mencoba membela diri, meski aku harus membohongi hatiku.
"Sudahlah, Ro'uf, kamu tak usah bohong padaku. Meski aku bersaudara dengan Laila, namun aku melihat tak ada cinta dimatamu untuknya. Beda sekali dengan saat kamu menatap wanita ini"
__ADS_1
"Ahmed dia..."
"Hanya pelayan?"
"Bukan itu..."
"Jika kamu sungguh-sungguh suka pada wanita itu, maka berubahlah kawan. Jadikan dirimu berarti dan rubahlah sifat burukmu itu, dan berhenti lah bermain-main dengan banyak gadis. Perjuangkan cintamu"
sesaat setelah ucapannya kemudian hanya hening. Ia memberikan obat untuk di minum, dan suntikan pada Noorah.
Kemudian aku mengantar dia sampai di depan pintu, setelah sebelumnya kuberikan dia sebuah amplop, namun ia tolak.
"Ingat kawan. Kamu sudah beranjak dewasa, bukan lagi remaja. Sudah saatnya kamu menentukan hidupmu. Buat Babah dan Umi bangga dan kejarlah mimpimu." ucap Ahmed sebelum pergi. Kemudian kami melepas pelukan. dan mengucap salam perpisahan.
Kakiku kembali melangkah ke kamar Noorah. Duduk di sofa dan menatapnya menjadi pilihan terbaik. Dari pada harus bergumul dalam satu selimut bersamanya yang akan semakin membuatku kehilangan kendali.
Kata-kata terakhir Ahmed membuatku berpikir.
Benar apa yang dia katakan. Tak seharusnya aku bermain-main dengan banyak gadis. Mengingat kini di hadapanku ada Noorah yang mulai kusukai. Meski kenyataan Noorah telah memiliki suami dan aku hanya lah seorang lelaki biadab dan hanya menginginkan tubuhnya saja. Membuat dia ketakutan setiap dia dekat denganku.
__ADS_1
Ah Noorah, andai saja kamu masih sendiri...
Lalu Laila, wanita yang mengaku hamil itu, sungguh aku sangat muak padanya.