
Setelah mendengar kabar yang berseliweran tentang kehamilan Laila, Habib yang notabene sahabat dari Abdul Ro'uf langsung mencari tahu kebenarannya pada Laila. Dan ternyata Laila sendiri yang mengatakan bahwa itu adalah anak dari kakaknya Habib yaitu Faisel.
Habib sendiri tidak segera memberitahu kakaknya mengenai anak yang di kandung Laila, karna kondisi sang kakak waktu itu mengalami kecelakaan di jalan raya hingga mengakibatkan tulang iga dan kakinya patah.
Setelah beberapa bulan akhirnya Habib baru memberitahu sang kakak perihal kehamilan Laila.
Kemudian berulang kali Faisel mencoba menghubungi Laila, mantan kekasihnya. Dengan itikad baik, Faisel berusaha meyakinkan Laila bahwasanya ia akan bertanggung jawab dan akan menikahi wanita itu. Namun nyatanya Laila menolak mentah-mentah keinginan mantan kekasihnya tersebut. Dengan alasan Faisel yang kurang menarik di matanya. Dikarenakan kakinya yang patah hingga membuat dia kesulitan berjalan.
"Aku tak Sudi menikah dengan lelaki cacat sepertimu, Faisel. Sebaiknya kau buang jauh-jauh pikiranmu untuk menikahiku. Lagi pula ada Abdul Rauf yang sebentar lagi jadi ayah dari anakku. Dan asal kamu tahu bahwa aku pun sering melakukannya bersama Abdul Ro'uf" bentak Laila waktu itu.
Sementara itu Habib, yang notabene sahabat Karib Abdul Ro'uf malah tidak memberitahu kebenaran yang sebenarnya pada Abdul Ro'uf, dikarenakan ancaman dari Laila, bahwa jika sampai rahasianya bocor ia akan dengan sengaja membunuh darah daging yang sedang di kandungnya.
Satu waktu Habib yang tengah mengantar sang kakak untuk kontrol di rumah sakit, bertemu dengan Abdul Rouf yang tengah mengantar Laila kontrol kehamilannya. keduanya lalu duduk di salah satu kursi tunggu.
"Hai, Ro'uf selamat ya atas pernikahanmu waktu itu, maaf aku tak bisa datang" ucap habib setelah keduanya berpelukan dan saling bertanya kabar.
"Sudahlah kawan, tak masalah. Aku tahu kamu sibuk mengurus kakakmu yang sakit. Maaf juga aku tak bisa menengok"
"Ya, sudah tak aoa-apa. Lagi pula sekarang ia sudah lebih baik"
"Well, jadi berapa bulan kehamilan istrimu itu?" tanya Habib basa basi.
"Sekitar delapan bulan, kata dokter bulan depan dia akan melahirkan"
"Wow, baru menikah tiga bulan, tapi istrimu sudah mau melahirkan. Amazing..." Habib tertawa seolah menyindir. Yang dibalas dengan tepukan di peliois oleh Abdul Rauf.
"Diamlah, kamu membuat orang lain mendengarnya" protes Abdul Ro'uf.
"Aku sungguh-sungguh kawan. Kamu hebat bisa menabung dulu" gumamnya di telinga sahabatnya itu.
"Entahlah, kawan. Kadang aku berpikir anak itu bukanlah anakku" Abdul Ro'uf memijat pelipisnya seolah ia pening.
"Jangan ngaco. Kamu yang berbuat harusnya kamu bertanggung jawab juga. Apalagi setelah halal kamu pasti lebih agresif lagi melakukannya Khan" Habib terkikik geli, namun seolah dipaksakan.
__ADS_1
"Tidak. Kamu salah. Bahkan sebelum atau sesudah kami menikah aku sama sekali tak pernah menyentuhnya" ujar Abdul Ro'uf pelan.
"Huh, how come?" tanya Habib memastikan.
"Entahlah, terkadang aku bingung. Aku merasa di jebak" Abdul Ro'uf seperti prustasi.
"Sabar kawan. Kebenaran akan terbukti suatu saat nanti"
"hm, entahlah..." Habib menepuk pundak belakang sahabatnya
"Habib..."
Habib menoleh, lalu beranjak saat dilihatnya sang kakak sudah berdiri di dekat pintu masuk ruang dokter. Dan posisinya ada di belakang Habib dan Abdul Rouf duduk.
"Oh aku pergi dulu kakakku sudah menunggu" pamitnya pada Abdul Rauf yang sudah ikut berdiri.
"Kamu tak mengenalkannya padaku, hm?"
"Hei, sialan!"
Abdul Ro'uf yang mendengar langsung mengernyitkan kening. Sesaat ia menatap ke arah kakak Habib, namun yang dia dapatkan adalah sebuah wajah yang penuh dengan tanda tanya.
****
Berkali-kali nada dering dari ponsel membuat Abdul Rouf yang tengah tertidur tiba-tiba bangun. Dilihatnya waktu tengah menunjukan pukul satu malam.
"Hallo?" ia menyapa nomer yang tak terdaftar di kontaknya.
'Ia, hallo. Abdul Ro'uf?' tanya dari sebrang.
"Siapa anda. Dan ada apa malam-malam buta menelpon saya." tanya Abdul Rouf heran.
"Saya ingin bicara banyak hal"
__ADS_1
"Tentang?"
"Laila"
"Baiklah temui saya besok di manaraj road"
"ok!"
sambungan pun terputus.
Besoknya Abdul Rouf dan si empunya yang menelpon tengah malam berjumpa di tempat yang telah di janjikan.
"Lama Abdul Rouf menunggu, hingga tiba-tiba ada seorang pria dengan tongkat di tangannya menghampiri.
"Abdul Ro'uf?" tanya pria itu.
Abdul Ro'uf beranjak bangun dari kursinya. Dan segera menyambut tangan yang terulur.
"Bukankah anda...?"
"Ia, saya Faisel kakaknya Habib"
"Oh iya, silahkan duduk" Abdul Rouf dan keduanya lalu bercerita banyak hal termasuk hubungannya dengan Laila dan kehamilan wanita tersebut. Hingga muncullah satu ide. Dimana Faisel yang notabene ayah biologis dari anak yang di kandung Laila. Berniat untuk menemui wanita itu tepat di saat Laila melahirkan....
*****
Dan itu ya, alasan kenapa Faisel tiba-tiba muncul saat di rumah sakit.
kedepannya akan di ceritakan khusus Noorah dan Abdul Ro'uf saja ya.
maaf selama beberapa hari saya gak update karna liburan dulu di Bandung.
Happy terus dan tunggu terus kelanjutannya Noorah
__ADS_1