Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 47


__ADS_3

Kulihat wajah Noorah yang merah akibat tamparan ummi kemarin. Pun matanya nampak sembab seperti bekas menangis.


Saat dia melewati dapur menuju lantai atas segera ku hampiri dan ku ajak ia menuju kamarku. meski ia meronta dan menolak namun aku terpaksa melakukannya.


"Ya, Noorah..." pelan aku memanggilnya. Sesaat pintu kamar ku tutup.


"Apa, Tuan?" jawabnya masih dengan memunggungi ku.


"Apa kamu masih marah?" kuraih tangannya, namun kali ini ia tak menepisnya hanya menariknya perlahan kemudian menoleh dan menggelengkan kepala.


"Saya tidak marah. Saya hanya menyadari semuanya. Betapa saya salah selama ini. Saya tak tahu batasan, dan itu membuat saya berpikir tentang banyak hal" ia menunduk tak berani menatapku. Sendu. Entah kenapa melihatnya seperti itu membuatku semakin tak tega untuk melihatnya. Ingin rasanya kupeluk erat dalam dekapanku, namun kutahu Noorah pasti menolaknya.


"Maafkan Ummi, ya Noorah...kami berdua bersalah padamu."


"Tak ada yang perlu di maafkan, dan tak perlu merasa bersalah, tuan" jawabnya masih enggan mengangkat wajahnya.


"Noorah..."


"Tuan, mau menuruti permintaan saya?" tanyanya. Aku mengangguk lalu kedua meraih tangannya dan menggenggamnya erat.


"Katakan, apa pun itu seandainya bisa akan ku turuti semua..."

__ADS_1


"Tolong jauhi saya, dan biarkan saya seperti ini unik sementara. Agar hati saya tenang tanpa bayang-bayang dari anda"


"Kenapa, ya Noorah?" kutelisik raut wajah itu, mata itu, yang memancarkan kesedihan. Entah kenapa aku merasa hancur melihatnya. Meski bukankah selama ini akulah yang sering menyakitinya. Namun kali ini ada rasa yang amat sangat sesak dalam dadaku. Yang sulit ku ungkapkan.


" Kenapa harus meminta hal itu, sedang aku merasa bahagia disisimu, Noorah?"


"Kenapa, Noorah... katakan"


"Ini salah, tuan. Saya tak mau terlalu jauh. Itu saja"


"Aku akan menghormatimu. Menjagamu, dan melindungimu, aku janji tak akan berbuat macam-macam lagi Noorah. Aku janji. Tapi kumohon jangan meminta hal yang terasa berat kulakukan" kucoba untuk membujuknya dengan berlutut di depannya.


Namun Noorah tetap bergeming. Dan menghembuskan nafas kasar.


****


Aku tengah berbincang di telpon dengan Karim sahabatku yang kini sedang tugas di Mesir. Kami berbincang tentang banyak hal termasuk pekerjaan dan saling bertanya pasangan hingga lupa waktu. Lalu iseng aku bertanya padanya.


"Karim, sahabatku. Bagimana cara membujuk seorang wanita agar ia memaafkan ku?" tanyaju dengan suara yang cukup oelan.


"Hah..." ia terdengar tertawa di sebrang sana. Aku mendengkus. Sialan. Ia membuatku sedikit naik darah. Prustasi.

__ADS_1


"Hey, itu gampang, kawan. Kalau itu tentang Laila maka yang harus kamu lakukan hanya memberinya hadiah mahal, seperti tas Hermes misalnya" ujarnya sambil terkekeh geli.


"Tidak, tidak. Itu bukan tentang dia. Ini tentang seseorang dan aku serius kali ini?"


"Hm, siapa dia?" tanyanya penasaran. Kali ini dengan nada yang sedikit serius.


"Ada deh. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa, saat ia menyuruhku menjauhinya"


"Itu gampang kawan."


"Oh, ya?"


"Ya, dan cara itu pasti akan berhasil"


"Cepatlah katakan" aku makin penasaran ide apa yang akan di berikan oleh temanku yang sering Gonta ganti pacar itu, namun selalu setia pada persahabatan kami, dan kami saling mensupport dalam banyak hal.


"Aku akan kirimkan Link-nya ya... dan pastikan kamu juga pasanganmu menontonnya" Aku mengernyitkan alis, namun setelah itu ia mematikan ponselnya. Sebentar kemudian terdengar motif di aplikasi warna hijau yang menyala di laptopku. Isinya beberapa link yang harus d unduh terlebih dahulu.


Klik aku memutarnya setelah berhasil mengunduh video tersebut.


Dan... Isinya membuatku mataku membelalakan mata, kaget. Saat yang bersamaan terdengar suara wanita di belakangku.

__ADS_1


"Ternyata anda memang belum berubah ya... Otak anda benar-benar kotor!" ucapnya sambil berlalu pergi.


__ADS_2