
"Ya, Noorah, kamu salah paham" melihatnya hendak berlalu, aku melangkah cepat mensejajarkan langkahku kemudian berdiri menghalangi langkahnya.
"tolong, dengarkan aku, ini tak seperti yang kamu lihat" aku menghiba mengharap ia sedikit saja mengerti dan mau mendengarku. Ia diam. Lalu kuraih tangannya agar ia sedikit saja oercaya, namun yang terjadi malah ia segera menepisnya.
"Sudahlah,.." ia memilih kembali pergi namun sesaat kemudian berbalik ke arahku "oh, ya. Keluarga besar anda dan yang lain menyuruhku memanggilmu, tuan" ucapnya dengan menatap sendu, aku segera mengikuti langkahnya lalu meraih tangannya cepat. Ku pegang kedua bahunya setelah ia berhasil berhadapan denganku.
"Keluarga? siapa maksudmu..?" aku mengernyitkan alis.
"Calon istrimu...Laila" pelan ia mengatakannya. Namun masih bisa kudengar.
"Tidak. Dia takkan pernah menjadi istriku, aku bersumpah"
"Jelas mereka mengatakannya..." ada getar di bibirnya saat ia mengatakan hal itu. Sepertinya ia merasa sedih terlihat dari sinar matanya yang redup berwarna kemerahan, seperti habis menangis.
__ADS_1
"Dengar Noorah. Apapun yang akan terjadi nanti dan yang kamu dengar barusan, kumohon percayalah padaku" kataku meyakinkan sambil menatap netra yang nampak sendu itu. Entah apa artinya. Yang jelas ada hal yang terjadi di bawah sana, di depan keluargaku yang Noorah ketahui.
"Ya, kumohon ,Noorah..." intens, kembali tatapan kami terkunci, semakin dekat. Hampir saja ku kecup keningnya, saat ia hanya mengangguk pelan, namun kemudian terdengar suara deheman di belakangku.
Ehm...!
"Tak seharusnya wanita bersuami beradu pandang dengan lelaki yang bukan mahramnya" suara Adeeba membuatku melepaskan kedua bahu Noorah. Pun Noorah yang langsung terkejut. Lalu segera menjaga jarak.
Adeeba tak sendiri, disisinya nampak Khabeer tengah menatap dengan menyunggingkan sedikit senyum. seolah tengah menonton pertunjukan seru. namun segera menutup mulut saat istrinya melirik ke arahnya.
Dan Noorah, ku tinggalkan dia dalam keadaan diam, dan menatap ke arahku. Ingin rasanya aku berbalik dan membawanya ke dalam dekapanku, namun ia pun pasti takkan mau melakukannya. Walau matanya tak bisa berbohong, bahwa ia pun bersedih. Jelas terlihat di matanya yang sendu saat Laila menggamit lenganku siang tadi.
****
__ADS_1
"Jadi bagaimana, Babah. Jangan Biarkan anak kami melahirkan tanpa suami" seisi ruang terdengar tangisannya yang menggema. Aminah, ibunya Laila itu meraung-raung meminta perhatian. Babah menatap ke arahku. Dihadapan Babah aku tak berdaya. Sorot mata yang tajam seakan menikam ulu hatiku. Ciut. Namun aku juga tak Sudi untuk begitu saja menikahi wanita yang selalu tampil dengan gaun terbuka itu. Meski kali ini memakai pasmina di kepalanya, namun tak menutupi rambut yang berwarna merah tersebut.
Pertemuan dua keluarga ini seakan tidak ada habisnya membicarakan tentang pertanggung jawaban yang harus kulakukan pada Laila. Seperti jalan yang tak berujung, semuanya kembali menuntutku untuk segera menghalalkannya menjadi istriku. Dan selama itu pula aku memilih diam tanpa sedikitpun mau menatap ke perempuan berbadan dua itu membuat kepalaku semakin pening.
Tiba-tiba bayangan Noorah yang berdiri di lantai atas sedang menangis, seolah melambai padaku untuk segera menghampirinya. Membuatku beranjak seketika.
.
"Kali ini kamu harus membuat keputusan Ra'uf. Kalau tidak jangan anggap kami keluargamu lagi. Silahkan kamu pilih" Ucapan Babah menghentikan langkahku. Aku berdiri sendiri di depan orang-orang yang di tua-kan. Mereka semua menatap ke arahku, termasuk dua wanita yang tengah menangis di lengan paman Abdul, ia adalah Ummi.
Tak tega rasanya melihat wanita yang melahirkan ku itu menangis tersedu. Aku mengalah. Kemudian berucap.
"beri aku waktu, Babah" aku memohon.
__ADS_1
"Sampai besok siang" jawabnya. aku mengguk kemudian pergi meninggalkan mereka yang terdengar kembali berbicara.