
"Ya Noorah, boleh aku berkata sesuatu?" aku menoleh pada Abdul Ro'uf, sesaat pandangan kami bertemu, kemudian segera berpaling saat sama-sama merasa aneh dan canggung.
"Iya, silahkan" kataku sambil kembali menikmati pemandangan yang sangat indah di depan mata.
"Apa kamu sedang ada masalah dengan suamimu?" aku menoleh menatap iris mata coklat miliknya. lalu berpikir kenapa dia bertanya seperti itu. Lalu segera menggelengkan kepala ketika mata itu makin lekat menatap dari samping.
Penasaran aku bertanya "kenapa bertanya begitu? semuanya baik-baik saja" aku berusaha meyakinkan diri tentang semua yang terjadi. Meski sebenarnya banyak tanda tanya dalam pikiran.
"Aku tak percaya. Tak mungkin kamu sampai sakit kepala hanya karna pekerjaan. Pasti ada sesuatu. Lagi pula..." ia menghentikan perkataannya yang membuatku penasaran.
"Lagi pula apa?" aku mengernyitkan dahi.
"Sewaktu kamu di rumah sakit, ada seseorang yang terus menerus menghubungi ponselmu. Entah siapa dia, yang jelas tertulis nama seseorang di sana." ucapnya membuatku makin tambah penasaran.
"Siapa?"
__ADS_1
"Entahlah..." katanya mengulum senyum, manis.
"Hey... ga jelas banget," ucapku ketus. Lalu mendengkur kasar.
"Dia suamimu" katanya sambil berlalu masuk ke dalam mobil dan mengambil minuman kaleng.
"Lalu apa yang kamu lakukan?"
"Aku menyuruh orang untuk bicara dengan dia. Kebetulan di RS banyak TKW asal Indonis" jawabnya kalem.
"Apa katanya?"
"Apa...?" kaget aku mendengarnya.
"Hey, kenapa kamu sekaget itu" ia tertawa melihat ekspresi mukaku.
__ADS_1
"Maksudku... hm, lalu apa yang kamu lakukan?"
"Tentu saja aku mengirimnya. Karna itu demi anakmu" dengan enteng Abdul Ro'uf berkata. Lalu melihat ekspresi mukaku yang tak biasa dia berkata lagi. "Sudahlah... aku yakin mereka baik-baik saja di sana" kemudian ia melangkah menuju arah depan mobil dan duduk sambil menikmati minumannya.
Kamu tak tahu masalahnya Abdul Ro'uf'
Malam itu ibu menelpon
"Nur, ingat ya jangan kirim sepeser pun uang pada si Asep. Dia bahkan tidak ingat sama anaknya. Dia sama sekali tak perduli bahkan saat anak kamu si Adit sakit demam. Dia sama sekali tak mau menengok, padahal sudah di jemput sama adik kamu, dia menolak untuk datang. Ibu sakit hati sama dia.." ucapan ibu malam itu membuatku kepikiran terus menerus sampai membuatku sakit kepala hebat. Hingga aku hilang selera makan dan membuatku ambruk tak berdaya.
"Berapa anda mengirim uang pada suami saya" tanyaku.
"Cukup besar. Mungkin sekira lima bulan gaji kamu saat ini" jawabnya enteng. Yang membuatku makin kaget. Jumlah yang sangat lumayan. Lalu aku jadi berhutang padanya. Padahal di bulan ketiga aku bekerja uang gajiku sudah ku kirim pada Asep suamiku.
"Sudah lah Noorah, jangan dipikirkan... kamu bisa mencicil hutang uang yang ku kirim ke suamimu dan juga bekas biaya rumah sakitmu dengan berada di sisiku selamanya.." ia kemudian tersenyum lagi dan tak mengindahkan ku yang melotot tajam padanya. Apa- apaan dia..
__ADS_1
Aku tak bicara lagi padanya, karna kurasa percuma. Ia tak mengerti masalahnya..
"Ayo kita pulang" ajaknya sambil memanggil sang sopir yang tengah duduk sambil memainkan ponsel di bawah rindangnya pohon kurma. Aku mengangguk, menurut. Lalu duduk sendiri di jok belakang kemudi, sementara Abdul Ro'uf duduk di depan samping pak sopir.