
Perlahan Abdul Ro'uf melepaskan pelukan yang sedari tadi terasa hangat merengkuh badan. Kali ini ia membalikan badanku, hingga tatapan kami bertemu, aku yang hanya sebahunya harus sedikit mendongak untuk sekedar menatap wajahnya. Kuamati wajah yang tuhan ciptakan begitu sempurna. Hidung yang mancung, dengan bibir merah yang merekah, alis yang cetek sempurna ditambah janggut yang menghiasi pipi sampai dagunya itu membuat siapa pun wanita yang dekat dengannya akan terpesona. Pun termasuk aku, dan Laila wanita yang selalu mengejarnya tanpa lelah.
Ia mendekatkan keningnya tepat ke keningku. Matanya terlihat merah, seakan ada hal yang membuatnya sedih atau mungkin ia tak siap dengan apa yang akan ia hadapi kedepannya.
"Apa yang harus kulakukan, Noorah?. Sedang aku tak berdaya..." bisiknya. Aku pun sama ikut menangis, entah kenapa ia terlihat begitu rapuh saat kutelisik sinar dimatanya yang meredup. Seorang lelaki yang keras pun jika beban berat mendera ia akan terpuruk juga. Termasuk pria di depanku ini. Aku tahu tak mudah bagi Abdul Ro'uf untuk menuruti perintah orang tua dan menyetujui pernikahan dengan Laila. Namun untuk saat ini kurasa itulah yang terbaik...
"Nikahi dia... jadilah lelaki yang bertanggung jawab." bisikku. Meski bibir dan hati bertolak belakang, kurasa inilah jalan yang terbaik untuk saat ini.
"Kenapa...?" tanyanya lagi. Aku menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Memeluknya erat. Butir air mata berjatuhan begitu saja. Entahlah, rasanya begitu sakit saat untuk yang pertama kali merasakan debaran dalam dada, sekaligus untuk yang terakhir aku harus melepaskannya. Bahkan ketika berpisah dengan suamiku pun aku merasa tak sesakit ini.
"Ini yang terbaik.." Pelukan semakin kuedarkan, seakan esok ia akan lepas dari delapan. Pun ia membalas dengan hal yang sama. Kedua tangannya melingkar erat di punggungku. Hangat. Dan kami berdua tergugu dalam tangisan yang sama. Sakit.
"Andai saja tak ada Laila, suamimu bahkan keluargaku. Semua ini tak akan pernah terjadi.." ucapnya masih dengan suara yang pelan. Dikecupnya ubun-ubunku. Dan aku menatapnya makin iba...
"Ini semua takdir..." ia mengangguk. Sekali lagi dia memeluk erat seakan enggan berpisah.
__ADS_1
Memang tak ada yang bisa mengubah takdir. Namun masa depan pun setiap orang tak akan ada yang tahu bukan.
"Lalu bagaimana dengan hatiku, ya Noorah..."
"Kita akan bersama jika takdir menghendaki..." kulepaskan pelukannya. Tak mampu lagi jika harus terus berlanjut.
"Pergilah tidur. Aku tak mau merusakmu.." ia menuntunku sampai ke depan pintu. Ia aku harus kembali sebelum ada orang yang melihatku memasuki kamar seorang laki-laki pada tengah malam begini.
Keluar dari kamar, seorang pria berbaju hitam lengkap dengan gutrah-nya tengah berdiri. Ia paman Abdul. Aku sangat terkejut. Dibelakang Abdul Ro'uf pun sama. Sejenak kami terdiam sampai akhirnya ia duluan yang berkata.
"Pergilah ke kamarmu" aku segera beranjak pergi tak menjawab ucapannya. Ketika ku tengok lagi ia memasuki kamar Abdul Ro'uf.
"Hampir saja aku mengantar anak asuhmu ke kamar laki-laki pujaanmu itu, untung saja kamu segera datang" ucapnya sambil memandang sinis. Aku yang tak tahu harus berkata apa akhirnya meminta maaf.
"Maaf, Oatima." ujarku sambil meraih Oomar dan namoak terlelap.
__ADS_1
"Sudahlah, masuk sana. Sebelum lu laporkan kalau kamu tengah berkencan dengan anak majikan" ia berkata sambil bersilang tangan si dada lalu berlalu pergi begitu saja. Pyuh...!
****
"Pantas saja. kamu bersikeras menolak menikahi Laila. Itukah alasanmu? bertemu dengan pelayan pada tengah malam seperti ini, hm..." Paman Abdul masuk tanpa ku perintah, lalu duduk dan menyilang kan kaki kanan ke atas kaki kiri.
"Ini tak seperti yang paman pikir" Aku duduk tepat di depannya. Berharap paman mau mengerti.
"Jadi apa keputusanmu, hm? apakah kamu akan menikahi Laila?" selidiknya.
"Kurasa, iya.. " aku menatap mata paman. Benar apa kata Noorah tadi. Aku harus menjadi pria sejati. Tak boleh lari dari masalah yang tengah aku hadapi ini. Jika pun aku pergi menjauh, akan ada banyak masalah baru muncul, dan aku akan semakin di benci oleh keluargaku.
"Baiklah, itu sebuah keputusan yang bagus." Paman beranjak dari tempat duduknya. Lalu menoleh kembali padaku yang masih duduk dan menunduk.
"Dengar Ro'uf, seorang lelaki boleh menikahi beberapa wanita. Jika kamu berat pada wanita itu, kamu bisa menjadikannya yang kedua setelah Laila" aku terbelalak mendengar penuturan dari Paman. Kedua tanganku mengepal.
__ADS_1
"Aku tidak sepertimu paman. Ingat itu. Bahkan Babah tidak menikahi perempuan lain. Ia hanya setia pada ummi" jawabku dengan menekan kan setiap kata.
"Hm,... aku bangga padamu Ro'uf" ujarnya sebelum benar-benar pergi.