
Kami sampai pada bangunan megah yang pernah membuatku ketakutan di dalamnya, rumah ummi Zainab, ibu kandung Abdul Ro'uf dan Adeeba. Rasanya sangat aneh ketika menginjakkan kaki kembali ke rumah ini. Ku lirik kanan kiri bangunan megah ini. Rasanya baru beberapa saat lalu saat dada terasa pengap akibat ulah Abdul Ro'uf yang bar-bar dan pekerjaan yang mengerikan ku alami selama di rumah ini.
"Hey, ayo masuk. Kenapa malah melamun begitu?" suara Abdul Ro'uf di sampingku membuatku tersadar bahwa semua sudah berlalu. Kulihat sejenak wajah itu. nampak senyum manis tergambar di wajahnya. Namun suara riuh orang-orang di dalam ruang membuatku segera berpaling dan kemudian menghampiri mereka yang juga sedang menuju ke arahku.
"Ya Noorah...aku rindu pada kamu..." setengah berlari Husnah menghampiri seraya memeluk tubuhku yang masih lemas. Badannya yang gempal membuatku hanya meringis saat kedua tangannya memeluk erat. Mungkin ia rindu sekali.
"Aku juga rindu, Husnah..." walau t rasa engap, kucoba membalas kembali pelukannya.
Beberapa orang pun menanyakan kabar, Anak-anak Ummi Zainab, dan seluruh anggota keluarga nampak berkerumun memandangku, sambil mengucap selamat datang di rumah ini kembali. Rasanya sangat haru sekali membuatku merasa seperti di rumah. Sedangkan Abdul Ro'uf segera berlalu ke arah ruangan khusus laki-laki.
"Noorah, ambil anakmu?" kata Madam Adeeba dari balik ruang sebelah. Ia menggendong Oomar kecil dengan cara yang salah. mungkin karna ia tak terbiasa dengan anak kecil. Segera ia arahkan padaku dan dengan entengnya dia hendak berlalu.
__ADS_1
"Kau tahu, aku sangat kesulitan mengurus anak itu. Waktuku jadi terbuang percuma" katanya sambil meraih kunci mobil dan berjalan ke arah luar.
****
Malam ini semua orang sangat sibuk. Terutama para pembantu yang ada di dapur. Semua sudah ada tugasnya masing-masing. Tenaga tambahan ikut membantu, mereka beberapa orang TKW ilegal yang sengaja di kontrak untuk membantu perayaan hari raya.
Sementara para majikan sangat sibuk dengan pergi ke salon, berlama-lama berdandan, memoles dan mempercantik diri. mereka bisa semalaman berada di salon tanpa memperdulikan waktu, hanya untuk tampil sempurna di hari raya. Dan itu sudha jadi kebiasaan mereka.
Gema takbir berkumandang di luar. Pengasuh Jamal sedang membantu di dapur, jadilah aku dengan dua orang anak kecil di dalam kamar Jamal. Jamal sangat sayang kepada Oomar kecil, tak henti-hentinya ia mencium bocah kecil berusia lima bulan itu.
"Apa, Jamal?" tanyaku pada anak kecil berambut ikal tersebut.
__ADS_1
"Lihat, orang jahat itu kemari" bisiknya tepat di dekat telingaku. Aku yang sedang rebahan sambil memberi dot ke mulut Oomar, langsung menengok ke arah pintu yang sedikit terbuka.
"Oh, dia kakakmu..." aku sedikit tertawa saat kulihat wajah cemberut Abdul Ro'uf di sana. Seperti disengaja. Dia memegang kedua kupingnya lalu menghampiri adiknya sendiri.
"Hey, kenaapa kamu memanggilku begitu?" tanyanya dengan suara yang dibuat selucu mungkin.
"Karna kamu pernah jahat sama Umah Noorah" jawabnya polos. Bibirnya mengerucut sambil berkacak pinggang.
"Baiklah... aku minta maaf" katanya sambil terus memegang telinga.
"Tapi kamu jangan jahat lagi...harus janji" ucapnya yang membuatku tertawa saking gemasnya.
__ADS_1
"Baiklah.. aku janji..."
"Minta maaf pada Ummah.." kemudian Abdul Ro'uf dan Jamal saling melirik ke arahku. Yang satu minta persetujuan, dan yang satu lagi seolah merajuk. Hm, apalagi kalau sudah begitu? tentu aku segera mengangguk.