
Baru saja kaki Noorah dan Abdul Rouf tiba di rumah pamannya, Seluruh keluarga sisha menyambutnya di ruang tamu. Kali ini wajah yang kurang bersahabat terlihat dari wajah-wajah mereka. Terutama ummi dan Babah.
Abdul Rouf dan Noorah diminta untuk duduk di kursi. Mereka bertatapan satu sama lain. Tak mengerti dengan yang terjadi.
Kemudian Abdul Rouf menatap sang ibu yang tengah menatap padanya.
"Apa yang kalian berdua lakukan di jalan, hm?" Babah menatap tajam. "Tak bisakah kalian lakukan setelah menikah? apa aku mendidikmu seperti ini Rouf,? " lanjutnya geram.
"Aku sungguh tak mengerti, bah. Jelaskan apa yang tengah kalian bicarakan?" Abdul Rouf menatap ummi dan babahnya. Kemudian menghembuskan nafas kasar. Seolah masalah baru kini tengah mendera.
"Rouf, apakah kalian melakukan hal yang tidak baik di jalan tadi?" kali ini ummi yang bertanya. sontak Noorah dan Abdul Rouf saling pandang. Tak mengerti.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, ummi. Kami hanya berkendara dan pulang tanpa melakukan hal yang kalian anggap buruk" Abdul Rouf menjelaskan. Namun Babah seolah tak percaya. Ia segera memberi isyarat pada Abdul adik kandungnya yang ke tujuh untuk memanggil seseorang ke hadapannya.
Lalu dia muncul, orang yang tadi telah merendahkan Noorah dengan mengirim gambar tak senonoh, serta menganggap bahwa Noorah adalah gundiknya Abdul Rouf.
"Dia..." Noorah dan Abdul Rouf terkesiap melihat si supir berdiri di hadapannya seolah merasa dialah yang tengah menderita.
"Katakan apa yang kau lihat tadi" Babah berucap. Kedua tangannya mengepal sempurna.
"Aku melihat keduanya berbuat mesum, tuan. Dan saat saya mendekat, tuan Abdul Rouf mengusir serta memukul saya seraya berkata agar saya tak membocorkan rahasia mereka" jawaban si supir membuat Abdul Rouf naik darah. Bahkan membuat Noorah tak menyangka dengan fitnah yang dituduhkan pada dirinya.
"Sabar, Rouf" nasihat pamannya tak digubris oleh Abdul Rouf masih saja lelaki itu mengepalkan tangannya ke arah si supir. Si supir sendiri merasa puas telah berbuat demikian, ia merasa seolah tengah membalas perbuatan anak majikannya itu.
__ADS_1
"sabar tuan, amarah tidak akan menyelesaikan masalah" Noorah berusaha menahan kuat tubuh tinggi di sebelahnya yang nampak tak sabar ingin segera menuju si supir guna menghajarnya.
"Jika kamu tak merasa berbuat, kenapa harus marah, Hm?" Babah berkata lagi.
"Jelaskan, Jerold" paman Abdul meminta penjelasan tentang kejadian yang dilihat oleh Jerold si supir. Tentu saja ini kesempatan emas untuknya, tanpa menyia-nyiakan waktu ia berkata hal-hal yang buruk tentang Noorah dan Abdul Rouf. Ia pun berkata jika Abdul Rouf selalu membawa wanuta-wanita panggilan ke mobil yang sering a kemudikan itu. Abdul Rouf yabg sangat frustasi tentu saja melawan dengan kata-kata kasar. Si supir yang merasa terancam, meminta perlindungan kepada tuannya.
"Aku bersumpah akan membunuhmu, kamu dengar!" telunjuk mengarah tepat ke muka Jerold si supir. Sem ntara Jerold tersenyum penuh kemenangan.
"anda lihat anak anda, tuan. Bahkan dia berani mengancam saya ketika saya membeberkan rahasia besarnya"
"Apakah ucapan mu dapat dipercaya, Jerold?" tanya Babah geram.
__ADS_1
"Tentu saja, Babah. Sudah sepuluh tahun lebih saya menjadi supir di keluarga anda" ungkapnya membela diri.
"Kalau