
Sepanjang malam aku menemani dan menjaga Noorah. Meski suhu badannya tak sepanas kemarin namun aku masih khawatir dengan keadaanya. Dia terlelap, namun kadang di tengah malam dia bergumam tak jelas, aku pun tak mengerti apa yang dia ucapkan.
Hingga pagi menjelang, keadaanya mulai membaik, dia terbangun tepat saat aku sedang mengompres kepalanya.
"Tuan, saya..." ia mengerjapakan matanya. Lucu.
"Kamu sakit dari kemarin. jadi aku hanya mencoba untuk membantumu" potongku sebelum dia salah paham.
"Terima kasih, tapi saya sudah baikan" ia tertunduk malu. Wajahnya yang semalam kepanasan karna demam, kini tambah memerah karna aku memandangnya dengan jarak tak kurang dari satu meter.
Sepertinya ia sangat malu aku pandangi. Namun entah kenapa aku merasa dia sangat sangatlah lucu dan menggemaskan. Terlihat dia salah tingkah dengan meremas kedua tangannya lalu celingukan mencari sesuatu.
"Hijabmu terkena keringat hingga basah. Jadi aku menyimpannya di mesin cuci. Jika mau ke kamar mandi aku akan membantumu"
Ia menggeleng, "tidak usah, saya bisa sendiri" kemudian ia hendak beranjak, namun segera memegang kepalanya dan hampir saja ambruk, kalau saja tanganku tidak sigap meraih tubuh mungilnya. Hingga ia terjatuh tepat dipangkuanku.
__ADS_1
Matanya menatapku tanpa kedip, begitu pun aku, menatapnya dengan jarak yang amat dekat, seperti semalam. Bedanya kini kami saling bertatapan dengan mata terbuka.
"Kamu masih pusing?" tanyaku saat ia mencoba menjauh dan duduk kembali di tepi ranjang.
"Saya..." jawabnya terpotong. Beberapa kali ia memijat kepalanya.
"Aku akan mengantarmu ke kamar mandi" ucapku setelah tak ada jawaban darinya. Kemudian memapahnya segera. Beberapa kali ia mencuri pandang ke arahku, takut-takut.
"Aku tak akan macam-macam, pecayalah" seakan tahu isi hatiku ia kemudian berpaling ke arah lain. Dan aku tersenyum dalam hati dengan senangnya.
Ku letakkan oatmeal lengkap berisi buah-buahan dan madu dalam satu mangkuk penuh, tak lupa dengan teh susu yang berisi rempah-rempah, agar kesehatannya lekas membaik. Noorah telah rapi dengan abaya dan hijabnya.
"Makanlah," aku duduk disampingnya nin dia sedikit bergeser.
"Aku tidak akan macam-macam, kamu tahu itu"
__ADS_1
"Sa-saya.."
"Aku tahu kamu begitu takut padaku, tapi percayalah mulai sekarang aku tak akan pernah macam-macam lagi padamu" ucapku memotong kata-katanya. Aku ingin dia tahu bahwa aku benar-benar melakukan itu dengan tulus.
"Terima kasih, tuan..." ia tertunduk.
"Sudahlah... Lagi pula sejak kapan kamu memanggilku tuan, hah?" ia mengulum senyum melihatku berpangku tangan, tingkahnya benar-benar lucu membuatku ingin sekali mencubitnya "bukankah biasanya kamu memanggilku hanya dengan nama saja, itu pun dengan kasar" lanjut ku membuat dia menggeleng-gelengkan kepala.
"Sa-saya hanya..."
"Sudahlah, aku tahu kamu takut padaku, ya Noorah. Tapi ingatlah mulai sekarang kamu tidak perlu takut dan khawatir aku akan berbuat macam-macam padamu. Karna aku akan berhenti mengganggumu" ucapku sungguh-sungguh. "aku janji..."
Ia pun tersenyum, lalu mulai melahap makanan yang aku buatkan. Lalu meminum obat sesuai petunjuk yang Ahmed suruh. Kemudian berbaring kembali karna aku tak mengijinkannya beranjak dari tempat tidur.
"Madam Adeeba dan yang lain kemana?" tanyanya saat aku hendak beranjak keluar membawa mangkuk kosong.
__ADS_1
"Mereka bertiga pergi mengunjungi kerabat, kemungkinan tak akan pulang hingga Ied menjelang. Tapi kamu tenang saja, mereka akan berkumpul di rumah ummi, dan kita akan segera menyusul mereka jika keadaan kamu sudah pulih" kutinggalkan dia yang mendengarkan dengan seksama. Semoga dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Terutama berpikir aku akan bertindak macam-macam.oadanya. Karna saat ini aku bertekad akan merubah tingkah lakuku agar menjadi lebih baik.