Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 50


__ADS_3

Dalam keadaan kacau, tiba-tiba terdengar panggilan dari suara seseorang di balik pintu, dia Abdul Ro'uf. Berkali-kali ia memanggil namaku ,seolah memastikan apakah aku sudah tidur atau belum. Berkali-kali juga dia mengetuk pintu dengan nada yang dibuat sepelan mungkin.


Tak mau membuatnya khawatir, aku mengirim pesan padanya. Dan beberapa balasan ku terima. Ujungnya dia meminta untuk bertemu tepat pukul sebelas malam. Setelah berpikir sejenak entah mengapa aku meng-iya-kan. Padahal itu sesuatu hal yang salah.


Beberapa kali aku merutuki kebodohanku, namun ucapan A Asep tadi membuatku dawn, dan kurasa aku pun perlu seseorang untuk meringankan beban dalam dadaku.


Setelah memastikan Oomar tidur dengan lelap, kaki melangkah mengenp-endap menuju lantai tiga dimana kamar Abdul Ro'uf berada. Ketakutan segera menyelinap dalam dada. Bermaksud berbalik kembali ke arahku, namun siluet hitam di sebelah kiri membuatku urung kembali. Entah siapa yang sedang berjalan itu. Karna takut ketahuan segera ku buka pintu kamar itu, dan sedikit tergesa memasukinya.


Saat hendak menutup pintu, Abdul Ro'uf tengah berdiri tak jauh dariku. Ragu untuk berbalik akhirnya aku pun diam sambil menunduk dan mencoba menetralkan rasa takut dalam dada.


Ia berdiri tak jauh dariku, tatapan kami bertemu, aku kembali menunduk, mencoba menormalkan irama jantung yang mulai bertalu-talu.

__ADS_1


"Aku tak menyangka kamu akan datang," tiba-tiba ia mendekat menatap ke arahku, aku mendongak, mengapa parasnya yang tampan. lalu mundur selangkah, namun gerakan tangannya tiba-tiba jatuh tepat dalam genggaman tanganku. Aku diam bagai kerbau dicucuk hidung tak menolak saat lelaki bertubuh tinggi itu menarikku ke samping tempat tidur, sontak saja aku berhenti melangkah, takut, hal yang buruk akan terjadi.


Seakan mengerti, ia menoleh sambil mengulas senyum, manis sekali, dan tanganku masih dalam genggamnya ia mengiayaratkan matanya ke arah balkon.


Pyuh...! Bodoh!


entah kenapa rasanya lega sekali. Kupikir aku akan diajak ke tempat tidur. Aku tersenyum malu lalu menyentil kepalaku dengan ujung jari. Rupanya Abdul Ro'uf sedang memperhatikan. Dan ia pun tersenyum manis.


"Hey, apa yang kamu pikirkan, hah...?" satu jari tangannya sudah mendarat di keningku, aku meringis bukan karna sakit tapi Karan merasa malu sendiri. Kututup wajahku dengan kedua tangan, namun ia melepasnya dan mendekatkan wajahnya di depanku. Lalu bergeser ke dekat telinga.


"Bukankah kamu ingin curhat?" tanyaku membalik pertanyaannya. Hendak kulepaskan genggam tangannya, namun yang ada dia malah mengunciku. Kedua tangan telah berada di kedua sisi tembok. Dan wajahnya kian mendekat.

__ADS_1


"Sepertinya kita berdua perlu bicara banyak hal, bukan hanya aku..." aroma maskulin menguat dari tubuhnya, segar, wangi yang sangat menggoda. Membuatku tak kuasa menolak saat sentuhan itu mulai terasa panas di wajahku. Hingga beberapa detik, masih tak ada pergerakan, padahal dadaku kian berdebar, tak mampu mengendalikan diri. Aku pasrah dan larut dalam pesonanya.


Sampai aku membuka mata. Abdul Ro'uf tengah menatap intens, dengan kedua garis bibir terangkat ke samping. Dia tersenyum sangata manis namun membuatku sekali lagi 'malu'.


"Hm... rupanya otak gadisku ini mesum sekali ya.. " godanya sambil mencubit kedua pipiku.


Aku meringis sedikit, detik berikutnya kupalingkan wajah yang bersemu merah. Melihat ke samping kanan.


Angin malam kian di dingin menyusup ke dalam lapisan kulit. Masih berdiri disini menikmati nuansa malam yang dingin dengan taburan bintang di atas langit. Kedua tangan kulipat di dada. Saat kurasakan sebuah dada yang bidang menyentuh punggung dan menyelimuti kedua badan kami dengan selimut yang hangat. Sentuhan tangannya menyusup ke bagian dada, unung tanganku tak lepas dari sana. Kali tidak entah apa yang tengah dia raba, pasti hal yang buruk akan terjadi.


Tak ada lagi yang bersuara, hanya malam dan langit yang menyaksikan. Dan dada yang kian meracau. Tanpa kata-kata dan ucapan, aku merasa nyaman, seakan kesakitan beberapa saat lalu sirna dan terobati dengan hadirnya ia di dekatku.

__ADS_1


Dan sekali lagi, wajahnya ia tenggelamkan di bahu sebelah kiri ku. Menghirupnya. Berkali-kali ia menghela nafas yang terasa hangat di tengkuk. Aku terdiam membiarkan, dan merasakan aroma maskulin yang makin lama makin tak tertahankan.


"Ya Noorah... Seandainya saja, hanya ada kita, dan tak perlu ada orang lain yang mengganggu hubungan kita, pasti aku akan bahagia sekali.." bisiknya di telinga. Kubiarkan ia berkata sesukanya, berharap sedikit saja dapat meringankan beban berat yang ada di pundaknya. Esok, belum tentu dapat kunikmati sentuhan lembut dari priaku yang akan entah sejak kapan berada di sudut hatiku. Menggeser posisi suamiku...


__ADS_2