Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 3o


__ADS_3

Pov Abdul Ro'uf


Kakakku Adeeba menghubungiku. Ia mengatakan kalau Noorah sedang sakit. Dan sama sekali tak bisa bangun dari tempat tidurnya. padahal hari raya sebentar lagi. Tapi dia malah drop.


Kasihan. Lumayan kaget juga saat aku mendengarnya.


Wanita yang kusukai sedang menderita.


Aku jadi berpikir apakah semua karna aku?


Apakah karna tingkahku?


Atau karna kelelahan?


Atau juga karna pikiran lain yang mengganggunya?


Seminggu ini aku sengaja pergi dari rumah Adeeba. Alasannya tentu saja aku tak tahan. Rasanya otak ku dipenuhi nafsu, saat melihat wujud Noorah di dekatku. Aroma badannya, gerak geriknya membuatku berdebar, panas dingin, gemash, dan ingin sekali menyentuhnya, dan entah kenapa aku selalu bahagia saat di dekatnya.


Hatiku seakan bernyanyi dan bersuka ria.

__ADS_1


Oh tuhan, kenapa ini?


Aku ingat saat itu, saat dia pindah ke rumah Adeeba entah kenapa aku merasa tidak rela. Seakan berat untuk melepasnya. Berhari-hari aku tak nafsu makan. Kepikiran terus wanita itu. Lalu sebuah ide muncul di kepalaku.


Maka ku beranikan diri untuk menyusulnya ke sana, meski hanya tidur di kamar tamu. Biarlah, asal aku bisa melihat Noorah setiap hari, meski ya dianya yang selalu jaga jarak dan menjauhiku.


Dan saat dia pertama kali melihatku dengan koper yang dibawa oleh sopir, entah kenapa aku bahagia melihat reaksi di wajahnya.


Ia ketakutan. Ya seperti itu, aku yakin.


Tergambar jelas dari tatapannya dan dari cara ia bertingkah. Ah, Noorah. Kamu mengacak-acak hatiku. Tapi dengan tingkahmu itu entah kenapa aku malah semakin bahagia dan seharian tersenyum-senyum sendiri.


Aku lihat Noorah makin menjaga jarak. Saat Kakakku Adeeba dan Khabeer pergi bekerja. Maka Noorah pun akan diam seharian dalam kamar, mengurung diri bersama si kecil Oomar.


Hm, lucu sekali tingkahmu. Sungguh sangat langka makhluk sepertimu.


Aku pernah berkencan dengan beberapa wanita kenalanku, mereka malu-malu pada awalnya, namun saat rayuan maut aku lemparkan maka mereka bertekuk lutut tepat di hadapanku. mereka tergila-gila hanya dengan pujian dan rayuan. Apalagi dengan wajahku yang kata mereka menyebut aku tampan, merka mau saja menyerahkan cintanya padaku, bahkan kehormatannya sekali pun.


****

__ADS_1


"Maaf Ro'uf aku menyuruhmu datang" ucap Adeeba saat aku baru saja menginjakkan kaki tepat di ruang tamu.


"Oke tidak masalah. Apa yang terjadi dengan Noorah?"


"Noorah mengalami demam dan juga Thifush?"


"Ah, kenapa tak menghubungi dokter?" tanyaku masih berdiri.


"Kami sudah melakukannya. Tapi keadaanya masih saja seperti itu. Sepertinya faktor pikiran juga yang menyebabkan dia sakit"


"Lalu kenapa kamu memintaku datang kesini?"


"Kami harus pergi dan melawat ke beberapa kerabat, jadi kuharap kamu mau merawatnya beberapa saat, aku mohon?" Adeeba menghiba tepat didepanku. Tentu saja aku tak mungkin menolak permintaannya itu, bukankah hanya dia yang mau menerimaku di rumahnya. Anggap saja itu sebagai timbal balik. Lagi pula siapa yang tidak mau bertemu lagi dengan Noorah.


"Oh ya Ro'uf, bagaimana masalahmu dengan Laila, apakah sudah beres?" Tanya Khabeer sambil menggendong Oomar.


Aku menarik nafas panjang dan memijat kepala.


"Tentu saja belum. Babah marah dan aku diminta untuk segera menikahi wanita itu. Padahal sungguh aku tak melakukan apapun padanya. Aku bersumpah!" Ucapku sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Tenanglah, aku percaya padamu. Lagi pula aku tahu siapa wanita yang kamu cintai itu" Khabeer dan Adeeba tersenyum sebelum akhirnya pamit dan pergi membawa si kecil Oomar.


Benarkah kamu tahu, kak?


__ADS_2