
Baru saja ku parkir kendaraan tepat di basement RS ini, tapi ponsel Noorah yang tergeletak di dashboard terus-menerus berdering, masih dari nama yang sama. Membuat kupingku terusik dengan nadanya.
Entah apa yang diinginkan lelaki itu, bukankah sudah ku kirim nominal uang yang tak sedikit untuknya? kuangkat pun percuma karna pasti takkan nyambung bicara dengan berbeda bahasa dengan kita.
Sebelum masuk ke ruangan, beberapa orang mulai memperhatikan dari jarak yang lumayan dekat. Bukan memperhatikan wajahku, lebih kepada ponsel yang terus berdering dalam genggaman.
Mungkin mereka heran kenapa aku tak mengangkatnya.
Tiba-tiba ponselku pun ikut berdering. Dari Ummi, lalu segera ku angkat. Rupanya beliau sedang di RS ini juga dan bertanya tentang ruangan dimana Noorah berada.
Kupanggil seorang pria yang tingginya hanya sampai bahuku, sepertinya dia orang Indonesia. Lalu kami bersalaman dan ku utarakan maksudku.
"Bicaralah, dan katakan apa mau nya?" segera ku berikan ponsel yang sebelumnya telah ku tekan tombol reply .
Ia mengangguk-anggukan kepala sambil merapatkan ponsel di telinganya dan melirikku sesekali. Kemudian berbicara dalam bahasanya.
__ADS_1
"Dia bertanya tentang istrinya, tuan"
"Katakan dia sedang sakit" ia mengguk kemudian bicara lagi. Kali ini ia menoleh lagi.
"Dia mau uang, Tuan"
"Bilang padanya sudah ku kirim ke rekeningnya" ia pun terlihat berbicara lagi dan kemudian mengernyitkan dahi, heran.
"Tuan, dia marah-marah" katanya sembari mengulurkan ponsel milik Noorah tersebut.
"Entahlah, sepertinya ia memaki pemilik nomer ini, atau mungkin saja yang memiliki ponsel ini istrinya"
"Oh, ya, baiklah. Terima kasih ya" ucapku sambil berlalu ke ruangan Noorah.
"Sama-sama,Tuan!"
__ADS_1
****
Didalam ruangan.
Aku termenung menatap wajah yang tengah lelap itu. Sayu. Selain karna penyakitnya juga sepertinya ada hal lain yang dia alami. Bisa jadi dia tertekan karna ulahku beberapa waktu lalu, dan bisa saja di tambah dari ulah suaminya. Entahlah. Yang jelas kenapa lelaki itu tak merespon saat dijelaskan bahwa istrinya tengah sakit.
Tiba-tiba rasa bersalah kembali menyerang. Betapa aku memperlakukannya dengan buruk waktu itu, dan dengan tangan ini hampir saja aku merenggut nyawanya, kalau saja bukan karna Jamal yang memukul-mukul punggungku, tentu aku tak akan melepaskan dan akan terus mencekik lehernya.
Oh, ya Noorah. Orang jahat macan apa kau ini? Masih adakah maaf di hatimu pada lelaki sepertiku yang sudah keterlaluan padamu?
Entah apa yang akan terjadi seandainya saat itu aku terus berbuat buruk padamu. Akankah kamu bisa bertahan hidup ditengah cobaan yang kamu lalui?
Ku genggam tangan yang nampak dingin ini. Dimana jarum menusuk tepat di bagian nadi mengalirkan cairan infus. Ya Noorah, tak perduli saat ini kamu milik siapa, yang jelas aku akan berbuat lebih baik padamu dan aku akan berusaha membuatmu bahagia. meski itu bukan disisiku. Ya, aku janji, Ya Noorah. Kalau pun suamimu tak mau bersamamu, aku yang akan menggantikan posisi dia di hatimu.
'aku janji, sungguh...' kucium oerlahan tangannya dan kuletakkan di pipiku. Entah sejak kapan wanita beda bangsa ini telah mencuri hatiku dengan sikapnya yang keras dan kadang galak. Meski kutahu itu adalah usahanya untuk mempertahankan diri. Tiba-tiba saja rasa yang sangat besar dan tulus muncul di hatiku, hingga membuatku ingin lebih dekat dengannya tanpa ada rasa untuk melecehkannya...
__ADS_1
'Tuhan, akankah cintaku bermuara, pada Noorah...?'