
Aku tengah membereskan keperluan Oomar dan memasukannya ke dalam tas bayi saat kudengar suara langkah kaki seseorang.
"Ya Noorah, kenapa kamu belum siap?" madam Adeeba berdiri di depan pintu. Gaun panjang hitam berhiaskan permata kecil di bagian dadanya terlihat sempurna di badannya yang tinggi besar. Sekilas kagum namun segera menunduk saat tak pantas ku perhatikan detail gaun yang ia kenakan.
"Sebentar lagi, madam. Tinggal memasukkan botol susu" jawabku menunduk. Beralih pada botol susu yang tengah siap ku kemas.
"Wajahmu pucat, apa kamu sakit?" ia menghampiri seraya menggendong Oomar yang tengah berbaring di sebelahku. Ya, bagaimana tidak sakit, semalaman aku tak bisa tidur memikirkan kata-kata dari suamiku yang teganya dua kali sudah menjatuhkan talak. Ditambah dengan Abdul Ro'uf yang dari kemarin tidak bisa di hubungi. membuatku semakin sedih dan sekaligus kacau. Kukira pria itu sudah mantap dengan keputusannya.
"Madam, bolehkah jika saya tidak ikut ke aula pernikahan?" tanyaku pelan tak ingin membuat majikanku itu murka dengan pintaku.
"Hm, kamu tak mau menyaksikan adikku itu menikah, Noorah?" selidiknya. Aku mengangguk, meng-iya-kan, Entahlah, rasanya berat harus melihatnya bersama wanita lain. Apalagi melihat kebersamaan kami kemarin malam, ada sakit yang tertahan antara aku dan Abdul Ro'uf. Berat. Nyatanya takdir tak bisa membuat kami bersama. Ada ikatan lain yang lebih penting, yang harus Abdul Ro'uf pertanggung jawabkan.
Setelah beberapa saat diam dan terlihat berpikir. Madam berujar kembali.
__ADS_1
"Hm... baiklah. Kemasi semua pakaianmu dan juga Oomar, sopir akan mengantarmu ke apartment" ucapnya seraya sedikit tersenyum manis.
"Benarkah madam..?" setengah percaya aku akan ucapan yang dilontarkan madam barusan. Sepertinya ia mengerti kegundahan hatiku saat ini.
."Huum.. baiklah kami pergi dulu. Jangan lupa bawa kunci rumah dan jaga Oomar baik-baik" ucapnya sambil berlalu. Sedikit bahagia karna setelah ikrar pernikahan di gelar, aku tak harus melihat pengantin itu memasuki kediaman ini. Yang akan membuat hatiku semakin perih nantinya.
****
Sedikit lembab dan berdebu saat langkah kaki kembali menginjak apartment tempatku mengabdikan diri beberapa bulan belakangan. Yang terlintas pertama adalah kamar Abdul Ro'uf. Entah kenapa kerinduan tiba-tiba muncul. Seolah bayangan dirinya yang sedang menatap layar komputer manari-nari di kepala.
"Ya Noorah.. kemarilah" panggilnya dari balik pintu kamar. Sementara matanya tetap fokus ke layar segi empat yang menghadirkan kumpulan tulisan berbahasa Inggris.
"Ada apa anda memanggilku, tuan?" tanyaku ketus. Tak ingin berlama-lama berdua dengannya di kamar yang terlihat rapi tersebut.
__ADS_1
"Hey, rileks. Kenapa kau tekuk wajahmu yang cantik namun berjerawat itu hah?" kekehnya seraya melirik tepat ke arah wajah. Aku menunduk. Sambil mengumpat dalam hati. Sialan kamu Ro'uf. Ya wajahku memang berjerawat sejak pertama kali menginjakan kaki di tanah Arab ini. Mungkin karna cuaca yang panas berbeda dengan pesisir kota Bandung yang sejuk dan dingin. Dan jerawat ini sungguh menyiksa apalagi saat aku berkeringat menambah perih muka.
"Hey, kamu diam begitu, membuatku gemas tau" ia beranjak bangun dari tempat duduknya. Namun aku dengan segera menuju dapur membuatkan dia kopi. Lalu terdengar tawanya hingga ke dapur. Sepertinya dia bahagia sudah meledekku.
"Awas saja kalau nanti kamu yang jerawatan, akan ku oleskan cabe di wajahmu" gerutuku dalam hati. Aku tersenyum kecil saat mengingat kejadian itu. Lucu rasanya. Yang ada sekarang hanya kenangan saja.
Pelan kubuka pintu kamar nya. Gelap. Kemudian ku buka tirai yang menutup kaca.
Seketika terang kembali menyapa. Kuedarkan oandangan ke setiap sisi kamar. Bersih dan rapi. Abdul Ro'uf memang selalu menjaga kebersihan. Bahkan debu di meja sama sekali tak terlihat. Hanya saja kamar ini kosong. Tak ada komputer, berkas-berkas bahkan pakaian Abdul Ro'uf di lemari pun bersih tak ada satu helai pun yang tertinggal. Hanya Paco rabanne yang terlihat bertengger di atas meja dekat jendela. Parfum kesayangan yang senantiasa menyeruak dari tubuhnya yang tinggi, atletis. Ketika kugenggam masih berat berisi. Entah sengaja atau tidak, kenapa ia tak membawa serta. Seolah meninggalkan kesan yang harum dan manis, disini. Senyum terukir dari wajahku. Bahagia.
****
Kuhubungi Bapak dan ibu di kampung. Kujelaskan semuanya dengan pelan-pelan agar mereka tak kaget mendengarnya. Bahwa aku dan A Asep kini sudah tak memiliki ikatan apapun. Pun ku jelaskan tentang gambar yang dikirim oleh A Asep. tak ingin membuat mereka berprasangka buruk nantinya.
__ADS_1
Setelah mendengarkan ceritaku, bapak marah dan ibu terdengar menangis. Aku tahu mereka kecewa dan pasti sakit hati akan ucapan dari menantunya itu. Namun kupikir ini yang terbaik. Setelah Kujelaskan perasaanku mendadak plong.
""""Jangan koment kurang banyak yak. saya sibuk di dunyat soalnya