
Duk! Duk! Duk!
Gedoran pintu yang terdengar keras membuatku segera beranjak keluar kamar seraya menggendong Oomar dalam pangkuan.
'Kurang ajar, tak sabaran banget sih," gerutu dalam hati.
Kreek...! pintu kubuka.
Tak sabar dengan siapa yang ada di balik pintu.
"Mana Abdul Ro'uf, hah" wanita gila itu rupanya Laila, dengan kasar ia mendorong tubuhku hingga terhunyung kebelakang.
"Sabar Laila, tahan emosimu" Adeeba yang berdiri di belakangnya mencoba menahan tangan wanita bunting itu. Namun tak diindahkan.
"Katakan, dimana kamu sembunyikan suamiku?" teriaknya menggema di seluruh ruang berukuran 8x6 meter ini.
"Saya tidak tahu, nona. Bukankah ia bersama anda" jawabku terbata. Rasanya takut berhadapan dengan wanita yang tengah emosi seperti Laila ini. Aku takut nanti aku di sakitin lagi sama dia. Huh, tak sudi rasanya bahkan sama ibu dan bapak pun tak pernah.
"Aku tak akan datang kemari jika suamiku ada didekatku, kau tahu itu" ujarnya dengan mata masih penuh amarah.
"Maap nona.." aku menunduk sungguh takut sekali melihat amarahnya.
"Apa hanya itu kata yang bisa kamu ucapkan, hm? maaf, maaf dan maaf? harusnya kamu sadar diri dimana posisimu itu, kamu tak lebih hanya seorang budak yang bertugas melayani kami sebagai majikanmu, harusnya kamu tahu diri, ingat dimana kakimu berpijak! Tak pantas kamu bermain cinta dengan Abdul Ro'uf, suamiku" tunjuknya tepat di mukaku. Aku terdiam. sakit. Beginilah cara orang kaya memandang kami yang seorang hina Dina dimatanya?
"Tenanglah, Laila ... Noorah pergilah buat teh ke dapur," aku mengangguk, kemudian madam Adeeba merengkuh bahu wanita itu, lalu memapahnya duduk di sofa ruang tamu. Dari jauh masih kulihat ia menatapku dengan tatapan nyalang.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu minum, Laila" kusuguhkan teh rempah agar ia rileks, walau sebenarnya dalam hati malas.
"Minumlah," madam Adeeba kembali bicara. Ia mengambilkan teh untuk adik iparnya itu lalu mendekatkan ke tangannya, yang segera diraih.
"Aku tahu perasaanmu, Laila. Kita sama-sama wanita. Jadi aku harap kamu sabar, tahan emosimu" Adeeba lemah lembut dalam bicara. Meski kadang bisa ketus dan jutek juga. Dan tatapannya masih saja tajam, tepat ke arahku yang tengah berdiri agak menjauh.
"Kau tak memasukan racun ke dalam teh-ku, ini Khan?" aku segera menggeleng. Kalau pun ingin, namun tak Sudi rasanya bila harus membunuh
"Kapan terakhir kali kalian bicara?" ia mendelik.
"Ka-kami ..."
"Jawab yang jujur!" lagi, emosinya naik.
Madam Adeeba mengelus-elus pundaknya yang naik-turun menahan amarah.
"Setelah itu?" selidiknya masih diiringi mata yang mendelik.
"Sama sekali tidak" aku menjawab sejujurnya. Entahlah ia akan percaya atau tidak. Terserah.
"Sebaiknya aku pergi. Sebelum tanganku gatal ingin menghabisi orang" ujarnya sambil beranjak. Saat melangkah ia menyenggol bahu kananku, membuatku kaget, raut pandang kebencian nampak jelas terpancar di matanya. Madam Adeeba yang berjalan dibelakangnya, hanya geleng-geleng kepala, menoleh ke arahku, sambil memberi isyarat dengan satu telunjuk di keningnya. 'stress'.
****
Madam dan adik iparnya sudah pergi, tinggal aku bersama Oomar di rumah. Beberapa kali kucoba menghubungi nomer yang tertera nama Abdul Ro'uf dilayar. Namun sudah beberapa kali juga, nada 'tut' itu tak kunjung berganti dengan suara.
__ADS_1
Akhirnya kuputuskan untuk berkirim pesan lewat sms.
'Dimana, kenapa tak kunjung menjawab telepon dariku? apakah anda marah, tuan? kenapa anda pergi begitu saja, sementara istri anda datang kesini dan memaki saya'
Kucecar dengan beberapa pertanyaan berharap si empunya segera merespon dengan cepat.
Send.
Tak lama muncul panggilan dari nomer yang sama.
"Hallo, Ya Noorah?" Deg, suara bariton itu, beberapa hari tak mendengarnya entah kenapa seperti terasa ribuan hari.
"Kenapa, Tuan?" langsung saja aku bertanya, setelah mencoba menetralisir rasa gemuruh dalam dada yang terasa makin menyiksa.
"Ya Noorah, apakah kamu baik-baik saja?
Apa yang dilakukan wanita itu terhadapmu?"
"Jawab saja kenapa? anda pergi begitu saja? kenapa...?" agak kutinggikan suaraku. Agar ia mau menjawabnya dengan segera. Bukan sekedar basa-basi. Tak penting saat ini aku baik atau tidak. Bukankah sejak beberapa waktu yang lalu aku sudah merasakan sakit yang teramat sangat. Saat semua orang dalam hampir waktu yang bersamaan menyakitiku.
"Aku bisa jelaskan" jawabnya pelan.
"Sekarang!"
"Kenapa kamu marah padaku, Noorah?"
__ADS_1
"Aku hanya tak ingin kamu menjadi pengecut, tuan. Pulanglah, dan kembali pada istrimu"
Kututup langsung panggilan yang masih berlangsung. Aku duduk dekat jendela dan merasakan hati yang sakit. Sakit karna orang yang mengisi sudut hatiku, ternyata tak ubahnya pengecut yang lari dari tanggung jawabnya. Dan lebih sakit lagi, saat suami yang bertahun bersama kita, nyatanya termakan hasutan orang yang bahkan tak jelas siapa. bahkan kini ditambah lagi wanita itu dengan semena-mena menghujatku.