
Aku menyiapkan makan sahur lengkap dengan semua hidangan khas orang arab. Ada nasi briyani dan beberapa lauk pendamping. Tak lupa minuman kesukaan madam Adeeba dan suaminya tuan Khabeer. Kopi rempah. Sedang untuk Abdul Ro'uf tak menyiapkan minuman khusus, ia tak memintanya tadi. Sepertinya ia marah atas ulahku tadi malam. Ah, masa bodoh. Semoga saja dengan begitu ia berhenti menggangguku.
Aku menikmati makananku di meja dapur. Sendiri, sambil merenung. Teringat dengan keluargaku di sana. Apa yang sedang keluargaku lakukan saat ini di tanah air? apakah mereka merindukanku, seperti aku yang saat ini sedang rindu pada mereka. Ah smoga saja mereka semua dalam keadaan sehat dan baik-baik saja sekarang. Terutama ibu dan bapak dan juga si kecil Adit. Mama rindu sama kamu nak...!
Hm, hm,
Aku tersadar saat ada yang berdehem tepat di belakangku, Abdul Ro'uf, lagi. Kali ini ia tak bicara, hanya terdengar suara pintu kulkas terbuka dan tertutup kemudian. Lalu ia berlalu pergi. Syukurlah, itu malah lebih baik.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Oomar dari dalam kamar. Namun baru saja aku hendak menghampiri tangisannya tiba-tiba berhenti. Mungkin bayi itu tidur lagi, ah baiknya kupercepat saja makan ku.
Aku beranjak ke wastafel dan meletakkan piring. Suara madam Adeeba dan suaminya masih terdengar dari ruang makan.
__ADS_1
Aku segera melangkah menuju kamar, takut Oomar kecil kembali menangis.
Langkahku terhenti. Oomar kecil sedang asik bermain dalam gendongan pamannya. Bayi itu tersenyum-senyum dengan bahagianya, padahal Abdul Ro'uf hanya mengucapkan kata 'cilukba' saja. Ah dasar. Bikin senyum juga aku tuh.
"Noorah?" oh, Abdul Ro'uf menatapku.
"Ya?" aku menghampirinya dan mengambil alih Oomar dari gendongan pamannya.
"Sini..." namun ia enggan memberikan Oomar, otomatis aku mendongak karna badannya yang tinggi, tak sengaja aku menatap wajahnya, dan matanya yang berwarna coklat indah tepat sedang menatap ke arahku.
'Masya allah, indah sekali ciptaan tuhan yang satu ini' gumamku dalam hati.
__ADS_1
Mata yang indah, bibir yang merekah berwarna kemerahan meski tak memakai lipstik, dua lengkung alis yang tebal, hidung yang mancung dan juga dagu yang ditumbuhi dengan janggut yang lebat membuatku terpana, benar-benar terpana. Sungguh aku takjub melihat pemandnagan indah tepat di depan mataku. Berkali-kali aku mengerjapkan kedua mataku. Rasanya seperti mimpi. Bahkan saat aku melihat suamiku di tanah air, tak seindah lelaki di depanku ini. Juah sekali bedanya. Oh tuhan, ini seperti mimpi. Baru kali ini aku benar-benar bisa menatapnya dengan sangat jelas dan sedekat ini.
"M..mm... maaa... maaa...m...mmm" suara Omar kecil mengagetkanku dan Abdul Ro'uf pun nampak kaget sepertiku.
Abdul Ro'uf segera menyerahkan Oomar kecil agar ku gendong. Kemudian aku dan dia sama-sama tersenyum, canggung. Salah tingkah.
"Noorah, duduklah. Dan susui Oomar" aku mendongak. Kaget. Lali berpaling. Kali ini tak berani menatapnya.
"Apa maksudmu, tuan?" aku heran bercampur malu. Lalu duduk di kursi.
__ADS_1
"I-iya, maksudku... berikan susu botol untuk Oomar" ia kemudian berlalu. Sepertinya dia salah ngomong. Lucu sekali. Rasanya aku ingin tertawa.