
Masih Abdul Ro'uf ya...
Wanita itu, yang kutahu hanya namanya, Patima. Mantan pekerja di rumah bibinya Laila. Entah berapa lama dia bekerja di sana yang jelas belum genap dua tahun, harusnya masih terikat kontrak. Namun entah bagaimana awalnya tiba-tiba dia ada di rumah ini dan bisa menjadi pengasuh adikku, Jamal.
Aku kurang suka padanya. Meski dia dan Noorah satu negara, namun kepribadian mereka sangat berbeda. Noorah yang cenderung penyayang terhadap anak kecil dan keras terhadap lelaki asing, berbanding terbalik dengan Patima, ia cenderung lebih berani dan sedikit liar. Juga agak kasar terhadap Jamal. Sering kali kulihat Patima menyuruh hal-hal yang belum bisa dilakukan Jamal sendiri, seperti memakai baju sendiri atau mandi sendiri tanpa pengawasan.
Saat kutegur ia malah mendekat dan mengikis jarak denganku.
"Biarkan ia belajar, Tuan. Agar ia mandiri" kilahnya sambil menengadahkan wajahnya tepat di depanku nyaris tanpa malu.
Riasan wajah yang mencolok ditambah gaya bicara yang genit membuatku bergidik ngeri. Pun saat bicara sengaja ia membuka cadarnya. Seolah ingin menampilkan kecantikannya yang hanya serupa lukisan itu.
__ADS_1
Waktu itu Babah memintaku datang ke rumah untuk berunding dengan keluarga Laila, untuk meluruskan masalah yang terjadi antara kami.
Aku bersumpah saat itu bahwa aku sama sekali tidak berbuat apa-apa dengan Laila, namun entah mengapa ia mengaku-aku bahwa akulah ayah dari janin yang tengah ia kandung saat ini. Hal yang mustahil jika aku sama sekali tak menyentuhnya.
Saat diskusi berlangsung, tiba-tiba Patima datang dengan membawa minuman sambil melirik ke arahku dan memicingkan mata ke arah Laila, seolah-olah mereka tengah berkonspirasi untuk membuatku bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu.
Lalu di satu malam, saat aku masih berkutat di depan komputer. Tiba-tiba dengan berani dia memasuki kamarku dengan membawa kopi yang sama sekali tak ku minta.
"Apa maksudnya ini?" tanyaku saat ia langsung memasuki kamarku tanpa ku perintah.
"Minumlah, Tuan. Agar badan anda hangat dan nyaman" ucapnya seraya mendekat lalu meletakkan kedua tangannya tepat di dadaku. Refleks ku tepis tangannya.
__ADS_1
"Kurang ajar. Apa maksudnya ini? berani sekali kamu menyentuhku" tanyaku sambil melotot ke arahnya. Ia yang berdiri tak jauh dariku tetap bergeming seolah ia tak takut dengan perbuatan yang dilakukannya.
"Kenapa tuan? apa anda tidak suka dengan saya. Bukankah saya lebih cantik dari seorang wanita bersuami yang selalu tuan kejar-kejar itu?" katanya dengan nada yang membuatku muak.
"Apa maksudmu?" tanyaku membelalakan mata seolah tak percaya, berani sekali dia berkata seperti itu.
"Ayolah, Tuan. Jangan harapkan rembulan yang tak mungkin tuan dapatkan, jika ada bunga yang bersedia untuk kau petik.
Untuk apa mengejar cinta Nur, jika dia masih bersuami, sama saja anda bermimpi di siang hari. semua itu hanya hayalan"
"Diam!. Dan segera tinggalkan kamarku" bentakku dengan amarah yang kian memuncak. Bukan bernafsu malah Yang ada aku sangat jijik dengan keberaniannya.
__ADS_1
"Ayolah, Tuan. Saya tahu anda kesepian bukan. Dan saya siap untuk menemani malam-malam anda yang dingin" dilingkarkan kedua tangannya tepat di pinggangku lalu mendekapku dengan erat. Aku yang tak siap dengan dekapannya langsung terpaku dan tak percaya dengan apa yang tengah dia lakukan.
"benar-benar hina kamu, semurah itukah harga dirimu. Bahkan kamu berani mendatangi lelaki yang jelas-jelas anak dari majikan kamu. Sungguh tidak pantas" kudorong tubuhnya hingga ia tersungkur. Rasa marah dalam dada kian meninggi. Hampir saja ku tampar pipi yang bermake- up tebal itu andai saja aku tak ingat dengan perbuatan yang akan kusesali seumur hidupku.