Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 59


__ADS_3

Tiga hari kemudian


Madam Adeeba baru saja pulang bersama suaminya, tuan Khabeer. Setelah kepergiannya bersama Laila waktu itu, ia sama sekali tak memberi kabar lagi atau sekedar bertanya tentang keadaan Oomar, anaknya. Yang aku tahu ia bersama keluarganya senang sekali berpesta selama berhari-hari, selepas hari raya. Memang itu sudah jadi kebiasaan mereka.


Namun sungguh ia ibu yang aneh bila sama sekali tak memikirkan keadaan anaknya. Secuek itukah madam atau pun orang arab.


"Ya Noorah, bagaimana kabarmu?" ia tersenyum ramah. Dibelakangnya tuan Khabeer sibuk membawa beberapa koper berisi pakaian mereka.


"Baik, madam. Mau aku bantu bawakan barangnya, tuan?" tanyaku menghampiri tuan Khabeer yang kerepotan. Ia melirik sebentar pada istrinya, seperti meminta persetujuan, kemudian beralih padaku.


"Oh, tidak usah, Noorah!" jawabnya, aku tahu aura 'ikatan suami takut istri' melekat di benaknya, Dia takut pada madam istrinya. Hii ...


"Madam, apakah anda bersenang-senang?" tanyaku basa-basi. Padahal sebenarnya hanya ingin tahu keadaan Abdul Ro'uf.


"Ya, begitulah." jawabnya sambil meletakkan pantat di atas sofa ruang tamu.


"Hm, Ya Noorah, apakah kamu sibuk?"


"Tidak, madam. Apakah anda ingin sesuatu buat dimakan?"


"Tidak, umh ... Noorah, pergilah bawa Oomar ke taman"


"Untuk apa, madam?" aku mengernyitkan kening. Kenapa ia menyuruhku pergi, aneh. Tak biasanya.


"Sekedar jalan-jalan mungkin"

__ADS_1


"Tapi Oomar baru saja tidur, madam"


"Tak apa. Bawa dia dengan keretanya, dan pergilah sekarang, pliiis..."


"Ya, baiklah..."


****


Kadang aku tak mengerti dengan pikiran wanita itu. Aneh. Padahal anaknya tidur, tapi dia malah menyuruhku jalan-jalan di taman. Padahal ini jam dua siang. Dan udara lumayan cukup panas. Meski dikelilingi taman yang hijau namun tetap saja matahari bersinar sangat terik.


"Hai, Oomar. apakah ibu dan ayahmu hendak membuat adik baru untukmu, makanya ia tak mau diganggu, hm..." aku mengajak bicara bayi yang masih terlelap, lalu tersenyum, geli. Memikirkan mereka yang kini tengah berdua di apartment itu. Ah, pikiranku jadi melayang ke banyak hal.


Karna Oomar tak kunjung bangun juga, dan aku juga bingung hendak melakukan apa. Akhirnya kubuka ponsel. Untunglah tadi madam menyuruhku membawanya.


Lama aku menatap layar, hingga berubah menjadi gelap. Tanpa sadar bayangan wajah terlihat dilayar. Jerawat yang makin parah membuat wajahku makin merah dan berminyak. Kulihat ada beberapa yang terasa membesar terutama dibagian dagu dan pipi, dan terasa perih saat berkeringat. Padahal saat di tanah air tak separah sekarang. Mungkin itu efek cuaca yang berbeda.


"Uh ... Aw... sakit banget ternyata' aku


meringis sendiri. Saat mencoba memencet beberapa jerawat yang telah membesar, hingga mengeluarkan nanah disertai darah.


Kulihat jam di ponsel, rupanya sudah lewat waktu ashar. Akhirnya aku putuskan untuk pulang, saat beberapa orang mulai ramai memenuhi taman.


"bagaimana Ya Noorah, apa kamu menikmatinya" ucap madam, saat aku baru saja memasukkan stroller ke dalam rumah.


"Eum, eh ia madam. Sampai mengantuk tadi aku saking bosennya" jawabku malu-malu. lalu kulirik madam sekilas. Masih dengan baju yang tadi saat dia tiba. Pun suaminya, tengah duduk di meja kerja dekat ruang makan.

__ADS_1


'hm... kupikir mereka ngaoa-ngaoain, deuh...' aku putuskan berlalu menuju kamar sambil menggendong Oomar.


****


"Madam, bagaimana keadaan nona Laila?" tanyaku saat menghidangkan makan malam.


"Dia baik," madam sedang bersiap duduk disamping suaminya.


"Lalu, tuan Abdul Ro'uf..?" aku tak meneruskan pertanyaanku, takut ia berpikir aku terlalu berani.


"Ia juga baik, dan dia sudah kembali pulang ke rumah"


"Oh ... syukurlah, madam" aku menghela nafas lega.


"Kenapa kamu bertanya, Noorah?"


"Tidak madam, hanya ingin tahu saja"


"Kamu tak berharap dia kembali padamu Khan ,Noorah...?"


"Oh, ti-dak tidak. bukan itu maksudku madam..."


"Eum,"


"Saya hanya tak ingin nona Laila berpikir saya bersama dengan tuan Abdul Ro'uf" jawabku pelan.

__ADS_1


__ADS_2