
Sore ini Surmi tetanggaku di lantai dua datang berkunjung. Sebenarnya aku sih yang menghubunginya agar ia mau kesini. Mumpung tak ada tuan rumah juga pikirku. Dan lagi pula aku butuh teman buat curhat saat ini. Ngalor-ngidul kami bercerita sambil menikmati camilan khas Indonesia yang teronggok sekeresek penuh di dalam kamarku. Sepertinya Abdul Ro'uf yang membelikan sebelum aku terbaring di rumah sakit saat itu.
"Gak sangka ya Nur, kamu tiba-tiba jadi janda," ia berkomentar setelah kuceritakan semua yang terjadi antara aku dan suamiku. Namun perihal Abdul Ro'uf masih ku rahasiakan.
"Iya, dah takdir kali" kami berdua memasuki ruang tamu. Lalu duduk setelah sebelumnya ngobrol di dapur
"Eh, Nur. Baik banget ya tuan Auf membelikan banyak makanan buat kamu," katanya sambil menyeruput kuah Indomie yang tadi dia masak.
"Huum," aku pun menjawab singkat sambil menyeruput mie yang masih dalam keadaan n panas itu.
"Eh, sepertinya dia suka sama kamu" matanya masih fokus pada mie di atas mangkuk. Aku diam saja. Ingin meng-iya-kan tapi malu.
"Masa sih..." elakku. Padahal dalam hati berjingkrak-jingkrak, sayangnya dia sudah milik orang sekarang.
"Iya, lho, beneran... waktu kamu pingsan waktu itu, dia langsung panik dan membawamu ke rumah sakit. Kurang baik apa coba Lagian kalau tuan Auf gak suka sama kamu, mana mungkin dia bela-belain mampir ke rumah majikanku hanya buat nyari aku terus di suruh ngomong di telpon dengan suami kamu itu lho" katanya panjang lebar.
"Oh.." aku jadi ingat saat itu. Bagaimana Abdul Ro'uf mengirim uang dengan mudah ke tangan suamiku. Dan rupanya ada bantuan dari beberapa orang
"Kamu mah dari tadi ah oh ah oh terus..." tanyanya heran, aku melirik sambil tersenyum.
"Ya terus aku harus jawab apa...?" aku memicingkan mata.
"Ya kali aja bilang bahagia gitu, udah dia orangnya ganteng, bujangan pula. Nih, ya. Kalau dia mau sama aku, pasti dengan suka rela terima cintanya" kemudian tertawa entahil sambil membayangkan apa.
"Ey... ngarep!" ucapku sambil mendelikkan mata.
__ADS_1
"Ya iyalah, Nur. Dia tuh ga ada apa-apanya dibandingkan mantan suamiku yang item dan buluk itu"
"Ya udah sana temui Abdul Ro'uf di rumah emaknya, ada istrinya juga tuh yang siap
nyakar kamu..."
"Emang dia nikahnya kapan Nur?" tanyanya
"Kemarin,"
"Hah, yang bener ..?" aku mengangguk.
"Gak sangka ya..cepet banget..."
"Ih... Ogah. Amit-amit di madu" aku bergidik saat membayangkannya saja apalagi menjalani, pasti gak akan kuat berbagi.
"Ye elah Nur, Nur. Bodo kamu mah,"
"Biarin. Emang kamu mau di madu?"
"Ya, kalau orangnya tuan Auf sih aku mau-mau aja..." ia tersenyum malu-malu. Jijik aku melihatnya. Segera ku lemparkan bantal sofa tepat ke wajahnya itu.
"Ih , Nur. Jahat banget sih..."
"Lagian nih namanya Abdul Ro'uf ya, bukanI tuan Auf. Titik"
__ADS_1
"Iya bawel..."
Tiba-tiba obrolan kami terhenti, saat terdengar nada sambung dari ponsel berbarengan dengan suara tangisan Oomar. Mungkin bocah itu kaget dengan suaranya hingga akhirnya terbangun. Setengah berlari aku menuju kamar. Lalu menggendong Oomar dan mengambil ponsel.
"Nih, cepat pegang. madam Adeeba menelpon" segera ku serahkan Oomar pada Surmi. Tak perduli bayi kecil itu menangis.
"Ya, madam?" tanyaku setelah menjawab salam.
"Ya Noorah, apakah ada Abdul Ro'uf bersamamu?" tanyanya dari seberang. Aku mengerutkan kening tak mengerti.
"Tidak ada madam" jawabku segera.
"Kamu tidak bohong kan?" hey, ada apa dengan orang ini oikirku.
"Sungguh tak ada madam"
"Coba kamu cek barang di kamarnya. Apa masih ada?" tanyanya lagi
"Maaf madam. Tak ada satu barang pun barang"
"Oh, ya...?" ucapnya seperti kaget.
"Iya madam. Memngnya jenaoa dan ada apa sebenarnya?" tanyaku memastikan. terdengar ia menghela nafas panjang di sebrang.
"Sudahlah, nanti aku ceritakan"
__ADS_1