
Akhirnya kami bertiga tertawa bersama. Hingga tanpa kusadari kalau Abdul Ro'uf tengah duduk bersebelahan denganku di tepi ranjang. Kami persis seperti sebuah kelaurga dengan dua orang anak. Saat sadar kalau Oomar terbangun, aku sedikit kaget dan menyuruh Abdul Ro'uf untuk pergi karna takut ketahuan oleh ummi Zainab.
Abdul Ro'uf mengambil kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur Jamal.
"Ayolah, ini tidak apa-apa. Takkan ada yang memperhatikan, lagi pula mereka terlalu sibuk dengan urusannya berhari raya" kata Abdul Ro'uf cuek sambil menggelitik Jamal Adiknya.
"Aku hanya takut Babah salah paham. Sebaiknya anda pergi " berusaha menyuruhnya pergi adalah pilihan terbaik saat ini menurutku.
"Dia takkan tahu"
__ADS_1
"Banyak orang di rumah ini. Saya takut ada yang melaporkan" kataku meyakinkan.
"Hm, kamu pemaksa Noorah" ujarnya seraya bangkit dari kursi, kemudian berdiri dan mematung di dekat pintu keluar. Rupanya Ummi sudah berdiri di sana, dengan wajah tidak bersahabat, dan sulit di artikan.
"Pergilah ke ruang laki-laki, kamu tak boleh disini" ujarnya ketus pada anaknya yang ke lima dari sembilan bersaudara itu.
"Ikut denganku!" aku mengangguk, dan mulai mngikuti langkah kaki ummi Zainab. Sementara wanita itu hanya menatap dengan tatapan aneh. Entahlah.
"Duduklah," perintah ummi. Aku hanya meng-iya-kan dan duduk di dekat beliau. Di atas sofa beludru berwarna krem yang terdapat di satu sudut kamar ini.
__ADS_1
"Aku sudah melihat biodata kamu, dan agen telah menjelaskan statusmu. Kuharap kamu tahu posisimu" katanya menatap manik mataku. Sesaat kami saling pandang lalu segera menunduk.
"Maaf, ummi..." kataku pelan hampir tidak terdengar.
"Aku akan menceritakan Abdul Ro'uf, sewaktu masih kecil dia adalah anak yang manis dan penurut. Namun menginjak remaja ia mulai berubah, tidak mau menuruti nasihat kami orang tuanya. Dia kerap kali membantah dan selalu membuang waktu di luaran hanya untuk bersenang-senang bersama dengan teman-temannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran anak itu, yang jelas, kenakalannya sudah di luar batas. Saat kami berbicara dan menasehati, ia sering membantah dan menyalahkan kami. Katanya kami tidak sayang dan perhatian sama dia. Hingga dia mencari kesenangan di luar sana" Ummi menatap ke arah luar jendela. Kemudian menghela nafas perlahan dan mulai bercerita lagi. Sementara aku hanya diam dan menjadi pendengar.
"Kami sebagai orang tua sangat putus asa dengan kelakuannya. hingga kerap kali ujaran kata-kata kasar kami luncurkan padanya. Dan itu malah semakin membuat dia jauh dari kami. Dan kami menyesal. Syukurlah, semuanya berubah akhir-akhir ini. Dan semua karna...kamu, ya Noorah" aku mendongak menatap wajah ummi. "Iya, dia berubah, jadi lebih baik berkat kamu. Sayangnya... kamu adalah seorang wanita yang telah bersuami" aku menunduk lagi, merasa bersalah pada ummi, ya, aku menyadari semuanya. Tak seharusnya kami terlalu intens bicara dan dekat. Semuanya hanya menambah dosa saja.
"Noorah, jaga harga diri kamu sebagai wanita. Jangan sampai kamu mengecewakan keluarga dan suamimu di negrimu. Ingat, kamu hanya bekerja sementara disini. Dan suatu saat nanti pasti pergi meninggalkan segalanya disini. Ummi hanya tidak ingin Abdul Ro'uf kembali terpuruk. Kecuali..." wanita yang telah melahirkan Abdul Ro'uf itu menghentikan ucapannya, dan terlihat matanya berkaca-kaca.
__ADS_1