Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 60


__ADS_3

Disela-sela kesibukan, sudah beberapa bulan belakangan madam memintaku untuk rutin merawat wajah di sebuah klinik kecantikan. Guna mengobati wajahku yang kian hari kian parah ditumbuhi jerawat. Tentu saja dia yang membayar semuanya. Aku menurut saja, toh tak ada salahnya ikhtiar, agar wajahku kembali normal seperti dulu.


Dan hasilnya juga terbukti. Wajahku kini jadi lebih sehat mulus dan terawat dengan baik.


"Ya Noorah, bersiaplah, kita akan pergi sekarang" aku yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah terpaksa balik lagi keluar, untunglah peralatan minum susu Oomar sudah lengkap dalam tas yang selalu kubawa, dan urusan makan tidak susah karna tadi aku sudah memberinya saat menunggu antrian di klinik.


"Mau kemana, madam?" tanyaku ketika sudah masuk ke dalam mobil yang kami tumpangi. Didepan sang supir terus melirik dari arah kaca spion depan. Meski tak ku perdulikan namun sikapnya terus saja mengganggu. Risih.


"Menjenguk Laila, dia melahirkan" jawabnya tanpa mengalihkan matanya dari ponsel.


"Oh, syukurlah..." aku ikut senang mendapat kabar gembira itu. Bagaimana pun juga mempunyai anak adalah hal yang sangat membahagiakan bagi seorang ibu.


****


Didalam ruang kelas VIP, Laila dan bayinya dirawat. Keluarga besarnya sedang asik mengobrol disamping bayi yang sedang di beri ASI. Sedang Abdul Ro'uf sama sekali tak kulihat kehadirannya.


"Bayimu nampak sehat, Laila. Kenapa tadi kamu bilang dia lahir sebelum waktunya?" ummi yang baru datang beberapa saat sebelum aku dan madam Adeeba hadir, nampak heran melihat keadaan bayi yang terlihat seperti bayi pada umumnya tersebut.


"Mungkin bayinya saja yang besar, Zainab, sudahlah" Aminah, ibu Laila yang menjawab, sedangkan putrinya hanya diam saja dari tadi.


Bahkan ketika madam dan yang lain memberi selamat, dia hanya menanggapi dengan sedikit senyum yang seolah dipaksakan.

__ADS_1


Meski Keluarga besar Laila menganggap bahwa bayi itu lahir prematur, namun sama sekali kekurangan pada bayi itu. Ia nampak sehat, mulus dan montok dengan BB ideal. Tentu saja itu membuat semua orang heran apalagi untuk keluarga Babah dan ummi sendiri.


"Bukankah seharusnya bayi ini lahir tiga bulan lagi?" Babah membuka percakapan


"Ya, dokter bilang bayinya prematur atau apalah. Entah aku pun tak tahu" jawab ummi Aminah.


"Aneh, sungguh aneh"


"Sudahlah," ummi Zainab menenangkan suaminya. Babah menatap ke arah Laila, kemudian pada sepupu jauhnya Aminah yang juga adalah besannya. Kemudian berlalu keluar ruangan. Dengan beberapa kali gelengan kepala. Disusul ummi Zainab yang mengejar langkah suaminya. Semua yang menyaksikan pun hanya bisa terdiam, termasuk juga madam Adeeba.


Setelah setengah jam berlalu aku memutuskan untuk menunggu di luar. Karna ditatap oleh Laila sedari tadi membuatku sedikit risih. Lagipula Oomar yang mulai aktif, badannya bergerak-gerak minta diturunkan seolah enggan di gendong. Mungkin kebiasaan di rumah, karna ia lebih sering bermain di atas matras daripada di gendong.


Ujar madam Adeeba dari belakang.


"Ya madam"


Saat turun dari lantai tiga menuju lantai satu, tanpa sengaja kulihat dua orang yang duduk di bangku yang menghadap taman, tak jauh dari tempatku berdiri nampak ummi dan Babah sedang bicara berdua. Entah apa yang tengah mereka bicarakan. Namun dari raut wajahnya sepertinya serius.


"Rupanya sekarang kamu pandai sekali ya menguping pembicaraan orang lain" aku terlonjak kaget mendengar suara itu. Suara yang tidak ading, yang beberapa waktu lalu sangat kudambakan.


"Tu-tuan, anda ...?" seakan tak percaya dengan apa yang kulihat. Pria yang selalu ada dalam hatiku kini tiba-tiba saja ada di depanku.

__ADS_1


"Hm...?" ia tersenyum sangat manis. Lalu mulai mendekat, memajukan langkah hingga membuatku mundur. Ia menatap ke arah wajah. Sadar saat ini aku hampir mencapai tembok. Akhirnya hanya bisa pasrah dan memejamkan mata, saat hangat nafasnya terasa dibagian kening.


Dan, 'cup !'


Aku mengerjapkan mata. Tak percaya dengan apa yang terdengar namun tak terasa menyentuh bagian kulitku.


'what...?" hm, jadi dia mencium Oomar.


"Hai, kamu sudah besar ya..." ia mencium kembali pipi gembil Oomar lalu melirik padaku. Membuatku malu karna merasa di atas angin.


"Ternyata pengasuhmu masih saja punya pikiran mesum, Oomar. Kamu harus hati-hati"


bisiknya pada si bayi. Lalu meraihnya dari gendonganku. Membuatku melotot hingga tak sadar mencubit pinggangnya.


"Apa katamu...?"


"Aw..." ia tertawa terpingkal-pingkal. Sambil berusaha menjauh. Dan terus saja menggodaku.


Dibelakangnya Ahmed sang dokter muda ikut-ikutan tersenyum seakan tahu, bahwa temannya yang brengs*k ini tengah mempermainkan ku.


'Ah, sialan!'

__ADS_1


__ADS_2