Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 61


__ADS_3

Aku mengikuti langkah laki-laki yang sangat ku rindu itu. Dan mengetahui ia baik-baik saja membuatku sungguh merasa lega sekali.


Dia menggendong Oomar dengan langkah santai. Sesekali ia menoleh ke belakang, mengukir senyum manis, seraya berkedip manja, membuatku merasa, digelitik. Lucu, gemas dan entahlah, aku jadi salah tingkah. Seulas senyum terukir di bibirku dari tadi tak henti-hentinya, kupu-kupu ada berlarian dalam hatiku, ah, semoga dia tidak melihatnya.


Dan disampingnya Ahmed pun ikut-ikutan tersenyum sambil sesekali menepuk pundak temannya yang nampak sedikit gila tersebut.


"Tuan, kita mau kemana?" tanyaku saat langkah menaiki lantai tiga.


"Tentu saja menjenguk anak Laila" jawabnya santai diiringi.


"Kenapa baru sekarang? harusnya anda tuh ada disampingnya saat dia mau melahirkan" tegasku. Memandang heran padanya. Bukankah harusnya seorang suami mendampingi istrinya yang hendak melahirkan bukannya malah keluyuran. Ah, kenapa aku tiba-tiba jadi kesal begini sih..


"Hm, kamu tak tahu apa-apa. jadi diam saja, ok" ia berbalik setelah berkata dengan nada lembut, sesaat kemudian kami saling memandang, kemudian terlebih dahulu memalingkan muka karna rasa malu yang amat sangat.


"Ayo," aku mengangguk, mengikuti kembali langkahnya.


Dalam ruang yang tadi sempat kudatangi, suasana Masih ramai. Seperti sengaja dikumpulkan. Kedua orang tua Laila dan keluarganya juga nampak hadir. Ada dua orang laki-laki dewasa juga yang tengah berdiri di samping Laila, salah satunya berdiri dengan menggunakan tongkat dan menatap tajam ke arahnya. Sedang Laila, hanya menunduk seperti seorang pesakitan yang menunggu hukuman.


Di sofa dekat kamar mandi, madam Adeeba nampak sedang mengobrol serius dengan Ibunda Laila, yang bernama Aminah. Suaranya terdengar nyaring hingga ke depan pintu. Aku, Abdul Ro'uf dan dokter Ahmed masih mematung memperhatikan keadaan mereka.


"Tolonglah, Adeeba. Kita ini masih kerabat, jangan sampai adik dan keluargamu menyakiti hati anakku. Dia baru saja melahirkan"

__ADS_1


"Bukan adikku yang menyakiti Laila. Tapi anakmulah yang menipu kami" jawab Adeeba dingin.


"Sebenarnya ada apa ini?" aku berbisik ke dekat telinga Abdul Ro'uf.


"Kamu diam saja dan perhatikan. Sebentar lagi akan ada pertunjukan seru" jawabnya.


Dan kemudian


"Ehm!"


Abdul Ro'uf berdehem. Seketika semua pandangan beralih ke depan pintu, tak terkecuali Laila.


Abdul Ro'uf berjalan mendekat ke arah ranjang diikuti dokter Ahmed setelah sebelumnya menyerahkan kembali Oomar padaku. Kemudian memeluk pria yang memakai tingkat.


"Sama-sama, itu memang tugasku."


Tiba-tiba Babah dan ummi ada dibelakang. keduanya pun masuk dan duduk di sofa.


"Jadi kita mulai?" tanya Babah pada tuan Abraham besannya.


"Kumohon Abdullah, jangan lakukan hal itu. Anakku memang bersalah tapi dia masih pantas diberi kesempatan"

__ADS_1


"Anakmu telah menipu kami semua. Dan itu tak bisa di maafkan" jawab Babah keras.


"Kumohon, Abdullah, pertimbangkan lagi" kali ini ummi Aminah yang bicara. Wajahnya terlihat sendu. aku yang sejak tadi tak mengerti hanya bisa bengong sambil menggendong Oomar.


"Biar Abdul Ro'uf yang putuskan" jawab Babah.


"Babah, biarkan Faisel yang menjelaskan."


Sesaat kemudian orang yang bernama Faisel berkata sementara yang lain menyaksikan.


"Abdul Ro'uf dan semua yang hadir disini. Sesuai yang ingin kalian ketahui, aku akan mengatakan kebenaran disini"


"Tidak...!!" Laila menjerit. "Kamu jangan pernah berkata apa pun, pergi...!" teriaknya.


Ummi Aminah dan madam Adeeba mendekatinya, dan berusaha menenangkan Laila.


"Tidak, Laila, kebenaran harus diungkapkan sekarang juga"


"Ah...!" Laila seperti orang yang ketakutan. Namun Faisel tak memperdulikannya. Dan ia mulai bercerita.


Awalnya Faisel adalah kekasih Laila sejak bertahun-tahun lamanya. Mereka berdua merajut kasih sejak dari sekolah menengah, hingga keduanya kuliah. Akibat pergaulan yang melewati batas, hingga lupa pada tata Krama, akhirnya, lagi, dan lagi mereka terjerumus ke dalam lembah dosa.

__ADS_1


Hingga satu hari Laila tertarik pada salah satu teman Faisel, yaitu Abdul Ro'uf yang ternyata masih kerabat dari Sang ayah. Sementara Abdul Ro'uf sama sekali tak mengindahkan perhatian dari Laila. Bahkan ketika tahu bahwa ia memutuskan hubungannya dengan Faisel demi dirinya.


Satu waktu Laila merasakan perubahan pada bentuk fisiknya. Ia lebih padat dan berisi, hingga dokter menyatakan bahwa ia tengah mengandung. Laila syok. Kebingungan. Sedangkan Faisel tak bisa dia hubungi. Akhirnya tercetuslah dalam hatinya untuk menjebak Abdul Ro'uf seolah laki-laki tersebut adalah ayah dari benih yang di kandungnya.


__ADS_2