Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 36


__ADS_3

"Hm... jadi apa pekerjaanmu?" spontan aku bertanya karna memang penasaran dan ingin tahu apa yang ia kerjakan hingga mempunyai uang yang katanya banyak itu.


"Bisnis properti. Dan hasilnya sangat-sangat menguntungkan. Lagi pula tidak harus pergi ke kantor untuk bekerja. Bisa di pantau dari mana saja" jawabnya tersenyum, manis sekali.


"O, ya?"


"Huum. Pikirmu kenapa seorang Wanita seperti Laila mengejar ku, hm? dia tidak butuh cinta. Dia butuh kekayaan dan harta. Makanya dia bersikeras ingin aku nikahi" aku mengangguk mendengar ucapannya, baru kali ini aku benar-benar tahu sedikit tentang kehidupannya.


"Lalu anak yang dia kandung...?"


"Entahlah, yang jelas aku tak pernah merasa berbuat itu padanya"


"Dia tak mungkin mengaku-ngaku kalau kamu tak berbuat sesuatu padanya"


Ia tersenyum sebelum akhirnya kembali berkata


"Ya... anggap saja saat itu aku sedang khilaf usai berpesta. Aku juga sedang tidak sadar. Tapi demi tuhan aku sungguh tak pernah merasa melakukannya"


"Baiklah, aku percaya padamu" ucapku penuh keyakinan.


"Hey... tak usah seperti itu juga. Percayalah pada Tuhan saja karna tuhan maha segalanya"


"Eum, mengenai kelakuanmu waktu itu padaku..."


"Aku minta maaf. Sungguh Noorah. Saat itu adalah masa-masa gelap dalam otakku. Entah kenapa libido-ku sangat tinggi dan aku butuh pelampiasan. Aku sudah berusaha menahannya tapi aku tak mampu. Akhirnya kepalaku hanya dipenuhi dengan perbuatan kotor, dan.."


"Dan...?"


"Ya.. kau tahu lah. Aku selalu mengganggu pelayan-pelayan yang ada di rumahku"

__ADS_1


"Termasuk?" tanyaku memancing.


"Termasuk kamu..." jawabnya sambil terkekeh geli. Aku pun jadi ikut tertawa.


"Maksudku.. termasuk juga Husnah...?" kataku sambil terkikik geli.


"Hey, dia tidak termasuk. Ayolah..."


"Dia wanita juga Khan..?" godaku tak mau kalah.


"Kecuali dia..."


"Dia juga punya apa yang di miliki semua wanita"


"Dia bukan tipe-ku"


"Hey, anda sungguh tidak adil"


Aku tersenyum penuh kemenangan. Rasanya puas sudah beradu argument dengannya.


"Jadi?"


"Jadi apa lagi?"


"Kenapa kamu bisa berubah seperti sekarang ini,?maksudku kamu jadi lebih baik"


"Karena seseorang. Aku sudah bertekad akan berhenti menjadi orang yang buruk. Dan memulai segalanya menjadi lebih baik"


"Siapa orang itu?"

__ADS_1


"Haruskah kuberitahu padamu?"


"Ya tentu saja."


"Memangnya kamu siapa, hm?" ia nenjawil daguku, dan menatapku dalam. Dan tatapan itu membuatku menggelitik, bahagia.


"Anggap saja aku teman" kataku percaya diri.


"Teman? tak ada kata teman ketika seorang lelaki dan wanita dewasa mengobrol berdua.


"Hm.. baiklah.."


"Nanti kamu akan tahu" katanya sambil beranjak pergi ketika ada yang mengetuk pintu.


"Hallo ya Noorah. Apa kabarmu hari ini?" seorang pria dengan kemeja biru dilapisi jas putih menghampiriku. Aku tak kenal orang itu. Tapi yang jelas sepertinya dia dokter yang menangani penyakitku.


"Oh ia, dokter, saya baik-baik saja" jawabku.


"Bagaimana kepalamu, apa sudah baikkan"


"Masih pusing. Dan rasanya mau muntah"


"Itu wajar. Nanti akan dilakukan CT Scan. Jadi kamu istirahat dan jangan banyak pikiran"


"Iya dok, terima kasih"


"Tak usah sungkan. Aku dan Abdul Ro'uf adalah sahabat karib. Jadi aku harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk orang yang spesial dihatinya" Seketika aku dan Abdul Ro'uf yang tengah berdiri di sampingnya membelalakan mata, kaget dengan ucapannya pria di sampingnya ini.


"Hey, hentikan!"

__ADS_1


"Aku hanya bercanda Ro'uf" katanya diiringi tawa sambil menepuk pipi sahabatnya itu.


__ADS_2