
"Tuan, kita bukan mahrom. Apakah kita harus berdua saja perginya?" aku masih duduk di kursi belakang, ragu untuk memenuhi perintah Abdul Ro'uf duduk di depan dengannya.
"Ya Noorah, kita tidak hanya berdua. Ada Oomar bersama kita" ucapnya sambil tersenyum. Manis sebenarnya, meski terkadang mengerikan.
"Oomar masih kecil" belaku.
"Apa kau takut padaku, hah?" ia menoleh tepat ke belakang, ke arahku.
"Ya, tentu saja"
"Aku tak akan macam-macam denganmu, percayalah!" ucapnya sungguh-sungguh.
"Bisa saja khan nanti anda membawa saya ke tempat yang tidak baik atau anda berbuat macam-macam seperti waktu itu"
"Itu tidak akan terjadi, hm... sebenarnya waktu itu aku sedikit khilap"
khilap katanya, semudah itu. Dasar!
"Saya tidak percaya pada anda!" aku menekankan ucapanku, berharap dia tidak memaksa.
"Hm, kamu memang keras kepala" berulang kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ok"
"Apa?"
"Sebaiknya kita tidak usah pergi, Tuan" aku menggendong Oomar dan hendak membuka pintu mobil.
"No no no, baiklah. tetap disana dan duduk, oke?" aku menjawab dengan sedikit senyuman.
Siapa yang mau bepergian dengan orang yang notabenenya bukan seorang yang tidak punya sopan santun saat ada kesempatan. Apalagi dulu dia pernah berbuat hal yang di luar batas dan membuatku ketakutan setengah mati. Hiy, mengerikan!
Jangan sampai aku celaka dua kali akibat ulahnya buruknya.
🍒🍒🍒
Abdul Ro'uf segera menurunkan kaca ke bawah.
"Selamat siang, tuan?" seorang polisi menyapa.
"Ya, selamat siang"
"Apakah anda sedang mengantar seorang wanita?" ia menatap ke arah belakang tempatku duduk.
__ADS_1
"Ya!"
"Bukankah anda tahu, tidak boleh berduaan di dalam satu mobil dengan seorang wanita yang bukan istri anda, itu haram!" ucap polisi itu.
"Hm... sebenarnya ia istri saya." Abdul Ro'uf menjawabnya setelah berpikir beberapa saat. Aku yang mendengar dari arah belakang langsung melotot tak percaya dengan ucapan Abdul Ro'uf barusan.
"Apakah itu benar?" pak polisi nampak mengerutkan alisnya, seperti tak percaya.
"Ya, tentu saja" jawab Abdul Ro'uf dengan percaya diri.
'Dasar pembohong kelas kakap. Sepertinya bohong adalah kebiasaannya sejak lama' dalam hati aku bergumam.
"Lantas kenapa ia duduk di belakang. Anda tidak sedang berbohong khan?" nampaknya pak polisi itu tidak percaya begitu saja dengan perkataan Abdul Ro'uf.
"Ia tadi sedang marah padaku, dan ia sedang enggan dekat-dekat denganku, pak. Bukankah begitu, sayang?" Abdul Ro'uf menengok ke arah belakang dan mengerlingkan matanya, memberi kode. Iih, sebal. Pak polisi beralih menatapku. Aku mengangguk pelan, karna tak ingin menambah masalah.
"Ok, baiklah. Silahkan anda berdamai dan saling memaafkan. Dan nyonya, sebaiknya anda pindah duduk ke depan" ucap polisi itu sambil berlalu. Aku dan Abdul Ro'uf menghembuskan napas, lega. Setelah itu aku melotot padanya. Ia melihatku dari arah spion depan. Lalu tersenyum penuh kemenangan.
Ia lalu menepuk-nepuk kursi di sampingnya. Agar aku lekas segera pindah ke depan.
"Ayolah, kamu tak mau polisi itu kembali dan kita akan terkena masalah." ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
'Huh, dasar Abdul Ro'uf' aku dibuatnya jengkel. Lagi pula kenapa juga aku harus bepergian dengannya.