
kepala berdenyut nyeri. Pernikahan Abdul Ro'uf dan Laila akan digelar sore ini. Membuatku berpikir hal yang tidak-tidak. Marah, kesal, sedih, kecewa semua berbaur jadi satu. Efeknya ke kepala.
Entah banyak pikiran yang berkemelut dalam otak. Rupa-rupa kejadian kualami hingga saat ini, ditambah dengan ramainya wara-wiri orang di lantai bawah sampai atas yang sedang sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Apalagi yang diurusi kalau bukan masalah persiapan pernikahan Abdul Ro'uf dan si bumil Laila.
"Hm, sepertinya sakit kepalamu kambuh, Nur" Patima menghampiri sambil membawa sekeranjang bunga tabur di tangannya. Seulas senyum ia sunggingkan, senyum sinis dan licik. Entahlah. Kenapa wanita itu selalu memandang sinis ke arahku sejak pertama kali aku melihatnya di rumah ini.
Aku tak menjawab, kembali memijit kepala yang terasa makin berat.
"Kau lihat, ini adalah kelopak bunga mawar yang akan ku taburkan tepat di ruangan Abdul Ro'uf dan Nona Lila" imbuhnya lagi.
"Ya, terus kenapa?" aku menatap ke arahnya. Rasanya jengah berlama-lama ngobrol dengan orang yang satu ini.
"Hm... bisa kamu bayangkan cerita panas nanti malam, saat dua insan memadu kasih melanjutkan kisah yang sempat tertunda itu..." dia tertawa sambil berputar badan seolah dia lah yang akan mengalaminya.
"Cukup! tinggalkan aku dan urus saja pekerjaanmu itu" bentakku disertai mata menatap nyalang. Jengah aku mendengar omongannya yang seakan memanas-manasi agar aku semakin sakit hati.
__ADS_1
"Ayolah, Nur... sadar. kamu tak pantas buat tuan Abdul Ro'uf. Kamu hanya pelayan Sama sepertiku" ungkapnya sambil berlalu pergi tak lupa bernyanyi la la la la Mirip seperti carlota dalam serial telenovela.
Setengah jam kemudian ia kembali lagi, saat aku sedang mengasuh Oomar di atas karpet yang berbulu tebal.
"Eh,. Nur. Aku pinjam handphone kamu sebentar ya?" ia meminta seakan lupa dengan perkataannya tadi.
"Buat apa?" tanyaku heran, masih fokus pada bayi di hadapan.
"Aku cuma mau SMS ke saudara aku di Indonesia, bahwa aku akan kirim uangnya besok. Hari ini Khan sibuk" ia tersenyum bahagia saat kusodorkan benda pipih itu tepat ke mukanya.
"Ia bawel..." ia berlalu sambil duduk di dekat jendela. Sempat ku lihat dia tersenyum layaknya orang yang sedang bahagia. Entah apa yang ada di pikirannya.
****
Tersentak kaget. Saat kulihat puluhan panggilan dari nomer A Asep. sepenting itukah hingga ia menelpon sampai berulang ulang.
__ADS_1
Kutekan tombol jawab, saat panggilan kembali masuk.
"Hallo, A. Ada apa? kenapa menelpon terus ada yang pentingkah?" tanyaku penasaran. Namun apa yang kudengar bukan jawaban yang baik, sebuah caci maki dan hinaan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang suami pada istrinya meluncur begitu saja. Kaget luar biasa saat kata-kata kotor terucap dari bibirnya.
"Kenapa, A. Apa maksudnya berkata begitu?" tanyaku disertai tangis yang tiba-tiba. Sakit hati dengan teganya A Asep berkata hal yang buruk tentangku.
"Pantas saja Nur, kamu sama sekali tak mau lagi mengirim uang, rupanya ada lelaki Arab yang setiap malam menemani tidurmu. Puas kamu sekarang hah?" bentaknya di ujung telepon membuat nyaliku ciut.
"Kata siapa, A. Jangan asal tuduh.." belaku dengan suara parau.
"Aku tak menuduh, itu kenyataan bukan. Aku punya buktinya" ia mengirim beberapa gambar melalui pesan BBM yang saat itu belum ada WhatsApp.
"Dari mana gambar itu Aa dapat?" tanyaku
"Kamu tak usah tahu. Yang jelas saat ini aku jatuhkan talak satu padamu, Nur" belum sempat kujawab. Telpon sudah dimatikan dari ujung sana. Aku menangis tergugu. Meras sakit yang tiba-tiba. Serasa ada ribuan pisau yang menghunus tepat di relung hati.
__ADS_1