
Abdul Ro'uf sudah duduk dibelakang kemudi. Wajahnya nampak suram, seperti mengisyaratkan bahwa di hatinya sedang menanggung beban, atau bisa saja dia sedang menahan amarah. Entahlah.
Aku duduk tepat di sampingnya, takut, takut membuatnya tambah marah jika kembali duduk di belakang. Untunglah dia hanya menengok sekilas kemudian segera melajukan mobilnya dengan agak cepat.
"Noorah?" ia menengok ke arahku. Wajahnya masih sama, ditekuk, padahal perjalanan yang kami tempuh, sudah cukup lumayan jauh.
"Ya," aku menoleh ke arahnya. Saat ia dengan seksama tengah memperhatikan wajahku, aku segera berpaling dan menutup nya dengan cadar. Pandangan ku alihkan pada Oomar kecil yang terbangun dari tidurnya.
"Hallo sayang, kamu sudah bangun ya...?" kupeluk-peluk dan kuajak ia main, bayi kecil berumur lima bulan itu nampak senang. dengan tersenyum terus ke arahku, seakan-akan ia mengrti dengan apa yang aku ucapkan.
"Dia, Laila" ucapan Abdul Ro'uf mengalihkan perhatianku. Aku hanya ber-oh saja. Tak tahu juga apa yang hendak aku ucapkan, lebih tepatnya aku tak perlu tahu dan tak mau tahu.
"Dia tunanganku, dan aku telah memutuskan hubungan kami" katanya dengan raut muka serius. Ok, sepertinya aku perlu menghiburnya sedikit agar tak terlalu tegang.
"Kenapa?" aku mencoba bertanya meski sebenarnya takut juga dia marah.
"Karna kamu" ucapnya datar, matanya fokus ke jalanan di depan.
__ADS_1
"Maksud anda apa ya?" hey, aku benar-benar tak mengerti apa yang dia maksud. Sungguh.
"Ah, sudahlah" ia sedikit tersenyum, seperti di paksakan. Apa maksudnya coba. Ah benar-benar orang aneh.
****
Tiba di gedung apartment yang kami tinggali. Aku mengekor dibelakang Abdul Ro'uf. Kali ini ia lebih santai dalam berjalan. Mungkin karna melihatku yang sedikit kesulitan menggendong Oomar. Namun demikian ia sama sekali tak menawarkan bantuan untuk menggendong keponakannya ini. Huh, menyebalkan. Tak ada simpatinya sama sekali.
Saat pintu lift terbuka, nampak beberapa orang yang tengah berdiri di dalam sana. Mereka menatap kami memasuki lift. Kemudian segera bergeser memberi ruang saat aku masuk. Oh, baiknya!
"Waalaikumsalam, saudaraku, apa kabarmu?"
jawab Abdul Ro'uf.
"Oh baik, apakah ini saudara anda atau dia..."
"Dia istri saya" jawab Abdul Ro'uf mantap. Hish, kemudian di jawab dengan angguan oleh lelaki di sebelahnya itu.
__ADS_1
Ish kenapa dia selalu berbohong sih? aku mendengkus kesal.
Mereka lalu berbincang tentang pekerjaan. Rupanya Abdul Ro'uf mengenal lelaki tersebut. Sampai pintu lift terbuka dan kami berpisah.
Saat aku dan Abdul Ro'uf membuka pintu apartment. Suasana nampak sepi. Tak ada siapa-siapa. Kemana perginya tuan Khabeer dan istrinya madam Adeeba. Tak terlihat keberadaan mereka.
Keadaan ruang tamu sedikit berantakan dengan lampu temaram, lampu kecil yang dibiarkan menyala, itu pun hanya beberapa saja.
Saat kami hendak melangkah ke arah kamar. Terdengar suara memekik dari arah kamar tuan Khabeer. Suara tawa diiringi suara rintihan dari sepasang suami istri tersebut. Ya ampun... apa yang sedang mereka lakukan, huh, menyebalkan memang.
Padahal belum terlalu malam juga. Masih pukul delapan.
"Sepertinya kakakku dan suaminya sedang membuat adik baru untuk Omar" Abdul Ro'uf yang melihatku mematung di sebelah pintu kamar madam, terkekeh geli. Aku memutar bola mataku ke arahnya. Sungguh tidak lucu. Meski kakaknya juga tidak bisa di benarkan.
"Hey, ayolah, kamu khan pengalaman juga dengan suamimu di Indonis" ia makin terkekeh seolah mengejekku. Dasar gila, aku segera berlalu ke kamarku dan Oomar. Lalu pelan-pelan menutup pintu kamar Jangan sampai madam dan suaminya terganggu.
Hihi!
__ADS_1