Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 28


__ADS_3

Tok tok tok!


Beberapa kali ku coba mengetuk pintu kamar Abdul Ro'uf. Namun hingga beberapa saat tak ada sahutan dari dalam.


Sepertinya dia tidur. Padahal ini sudah tengah hari. Hum, dasar pemalas, tak ada kerjaan.


Saat hendak kembali ke kamarku, tiba-tiba terdengar pintu kamar madam Adeeba terbuka.


kriet...!


Dengan dahi yang mengkerut, ia bertanya.


"Ya Noorah, apa yang hendak kamu lakukan? mengetuk kamar adik majikan yang bukan mahram kamu, apakah kamu tidak tahu bahwa itu haram ya Noorah!" suaranya yang agak tinggi membuat nyaliku ciut. Dibelakangnya ada tuan Khabeer yang ikut-ikutan berdiri seakan ingin tahu yang terjadi.


"Maaf madam, saya hanya ingin meminta bantuan. Saya tidak paham dengan handpone yang saya beli kemarin" belaku, sambil mengangkat tangan kiri dna menunjuk dus yang masih lengkap dengan paper bag.


"Oh, biar suamiku yang membantumu, ya Noorah"


"Tidak, tidak, tidak! aku tak mau melakukannya" Tuan Kabir segera menolak dengan kata-katanya yang lumayan tinggi. Hingga ia berlalu di balik pintu.


Huh, dasar orang Arab sialan. Sama sekali tak mau membantu. Dasar!

__ADS_1


Tapi di balik itu, aku tahu alasannya. Takut. Iya, dia takut pada istrinya.


Aku menghela nafas kemudian berucap lagi.


"Tak apa-aoa tuan, biar nanti tuan Abdul Ro'uf yang bantu saya saat dia bangun" aku pun berbalik setelah mengucap permisi.


"Ya, Noorah!" madam menyebut namaku. Aku menoleh.


"Berikan padaku. Biar aku saja. Hm, lagi pula Ro'uf tak ada di rumah. Beberapa hari ini dia tak akan pulang." ucapan madam Adeeba membuatku sedikit kaget.


Benarkah Abdul Ro'uf pergi?


kapan?


Aoakah kepergiannya ada hubungannya denganku, karna malam tadi dia ku bentak?


Ah, kalau saja itu benar. Berarti celakalah aku. Entah apa yang akan terjadi denganku kedepannya?


sial sial sial!


Bukankah kalau sudah marah orang Arab itu sangat menyeramkan, hiyy... kenapa aku jadi merinding begini ya? aku mengigit bibir. Takut juga.

__ADS_1


"Hey ya Noorah?" tangan madam melambai tepat di depan mukaku.


"Aoakah kamu bingung, gila, atau kesurupan?" tanyanya, seakan-akan aku ini memang benar gila.


"Oh tidak madam, saya baik-baik saja" belaku, sambil tersenyum kepaksa. Duh, dasar.madam seenaknya berkata.


"Sini tasnya" ia pun menutup pintu dan aku segera berbalik ke kamarku.


Dalam kamar


Kurebahkan badanku di atas kasur Yang sangat empuk. Untunglah untuk urusan perabot dan oakaian serta semua kebutuhanku, madam sangan baik dan royal. Ia sama sekali tidak mementingkan kehidupannya sendiri. semua barang yang ku pakai terlihat bagus dan nyaman termasuk urusan makanan. Tidak membeda-bedakan.


Sebenarnya tak semua majikan di Arab bisa bwrsahabat seperti misalnya Abdul Ro'uf dan madam Adeeba. Mereka masih mau berbicara dengan pekerja meskipun kata-katanya kadang agak sedikit kasar. Harus banyak bersyukur dan bersabar. Intinya di negri orang itu adat dan watak manusia berbeda-beda.


Aku pernah dengar juga di tempat lain yang masih di kalangan Arab Saudi. Banyak sekali wanita-wanita dari Indonesia yang diperlakukan sangat-sangat buruk oleh majikan mereka. Dan banyak juga yang menderita dan kabur hingga terlunta-lunta di jalan dan terpaksa sembunyi-sembunyi dari kejaran polisi Arab yang dikenal tanpa ampun.


Untunglah majikanku tak begitu. Alhamdulillah...


*******


Bantu vote teman

__ADS_1


Makasih yang masih ngikutin


__ADS_2