Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 65


__ADS_3

"Lalu untuk apa kamu membawaku ke tempat seperti ini, hum? atau kamu rindu saat kita.." Abdul Rouf tersenyum geli. Membayangkan dirinya dan Noorah pada malam itu, meski tak terjadi hal yang luar biasa namun ingatan tentang kebersamaanya dengan Noorah masih tersimpan jelas dalam ingatannya.


"Anda itu ya..." Noorah kesal sekali mendengar apa yang diutarakannya.


Orang yang dinanti tiba, dari kejauhan ia melambaikan tangannya ke arah Noorah. Lelaki berumur itu tersenyum kemudian berjalan mendekat.


"Assalamualaikum, Nur?" sapanya


""Waalaikum salam, paman!"


"Jadi orang ini..?" lelaki yang diketahui sebagai paman Noorah ini, mengernyitkan kening, melihat Noorah bersama dengan seorang lelaki tinggi berkulit putih bersih dan tampan.


"Ia, dia Abdul Rouf, orang yang dikira kang Asep sebagai pacar Nur disini" mendengar penjelasan dari Nur, pamannya tersenyum simpul lalu mengulurkan tangannya ke arah Abdul Rouf yang ternyata disambut baik oleh lelaki berbangsa Arab tersebut, sang paman lalu memberi penjelasan tentang hubungan kekeluargaan yang terjalin antara dirinya dan Nur. Mendengar penjelasan itu Abdul Rouf sangat senang dapat bertemu dengan keluarga Nur yang lain.


"Jadi selain silaturahmi ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, tuan Rouf"


"Ya, paman, silahkan" ketiganya lalu duduk di atas kursi panjang yang diatasnya berdiri kokoh pohon palem besar.


"Tuan, apakah anda yang selalu mengirim uang pada seseorang di Indonesia?" paman Nur yang diketahui bernama Yudi itu mulai bertanya. Semua itu tentu saja atas persetujuan Nur, sebelumnya mereka berdua sempat bicara di telpon.


"Ya, apakah itu masalah?" Abdul Rouf balik bertanya.


"Tentu, tuan. Anda tak seharusnya melakukan itu bukan?"


"Saya hanya bermaksud untuk membantu meringankan kehidupan anak Noorah yang saat ini di rawat oleh bapak kandungnya, itu saja. Lagi pula bukankah suami Noorah tengah sakit dan dia tidak bisa bekerja akibat kecelakaan yang di alaminya, Maaf kalau saya salah, paman" mendengar penjelasan Abdul Rouf Nur dan pamannya Yudi saling pandang.


Nur hendak menyela ketika pamannya menyentuh tangan Nur. Lalu sang paman menggelengkan kepala.


Seolah memberi isyarat agar sang paman saja yang bicara.


"Kenapa anda berasumsi seperti itu. Anda dapat kabar dari mana?"


"Seseorang di Indonis menelpon saya, dan saya membantunya"

__ADS_1


"Dia berbicara Indonesia pada anda?" tanya sang paman heran.


"Tidak, dia bicara menggunakan bahasa Arab dan sangat fasih" kali ini Nur dan Pamannya Yudi kembali saling pandang. Keduanya mengira-ngira siapa yang tengah menipu dengan memanfaatkan Abdul Rouf dengan sengaja. Sementara melihat wajah heran dari keduanya membuat Abdul Rouf tak mengerti.


"Hey, ada apa. Apakah aku salah, hum?"


"Kamu sepertinya di tipu, tuan" Nur kali ini yang bicara.


"Apa...?" Abdul Rouf tampak kaget mendengar perkataan Nur. Lalu mengusap usap wajahnya.


"Lalu apa saja yang dia bicarakan tuan?" Pamannya Nur kembali bertanya.


"Ya, selebihnya dia hanya menjelek-jelekan Noorah" jawab Abdul Rouf dengan wajah lesu.


"Ceritakan!" ucap Nur tak sabar.


"Dia bilang kamu sudah tak bisa di hubungi, sedangkan dia dan anakmu kesulitan, bahkan untuk makan saja harus meminta pada mertuamu, itu katanya"


"Aku tak tahu paman, maaf" jawab Abdul Rouf dengan wajah bersalah


"Sudahlah. lagi pula suami Nur sudah menikah lagi dan dia bersenang-senang dengan istri barunya dengan uang hasil meminta dari anda.


*****


Nur mengambil ponsel yang terletak di jok mobil belakang. Tadi ia lupa membawanya. Dan saat membuka pesan yang isinya membuat matanya panas, ia segera melotot ke arah depan. Disana si supir tengah tersenyum genit ke arahnya.


"Ya Noorah, mamaafkan aku" keduanya baru masuk ke dalam mobil yang mereka kendarai. Nur masih tak merespon. Ia sibuk dengan ponselnya. Menunduk dan mencoba mengetik sesuatu.


"Ya Noorah. Aku tahu aku salah, tapi aku sungguh tak ingin mengganggumu saat itu, makanya aku mengirim uang untuk anakmu, dan tentu saja tanpa pemberitahuan darimu" lampu merah menyala. Nur menoleh ke arah Abdul Rouf yang terlihat kacau namun masih menyimpan aura ketampanan.


"Anda sungguh merasa bersalah" tanya Nur.


"Ya, "jawab Abdul Rouf segera.

__ADS_1


"Kalau begitu tolong lihat ini" Nur memberikan ponselnya pada Abdul Rouf. membuat lelaki berdarah Arab itu murka dan segera menatap tajam ke arah depan.


Segera saja ia keluar dari mobilnya dan berjalan tergesa ke arah depan. Tanpa ba bi bu, dia membuka pintu mobil dan menarik si supir untuk keluar. Selanjutnya sebuah bogem mentah mendarat pada wajah si supir.


"Pergi dari hadapan Noorah, dan jangan harap kamu bisa kembali bekerja di rumahku" Abdul Rouf mencengkeram kerah baju si supir. dan ia nampak ketakutan. Lalu berulang kali meminta maaf, namun sayang semuanya sudah tak bisa di toleransi.


Dan Noorah yang melihat itu, diam saja di dalam mobil. Seakan puas melihat aksi Abdul Rouf menghajar supir itu.


"Maaf, Noorah. Kita jadi tak punya supir, dan terpaksa kamu harus duduk di depan"


"Anda Khan supir saya tuan" jawab Noorah dengan senyuman.


"Hm, jadi kamu anggap aku supir ya"


"Ya, bisa jadi seperti itu" Noorah menggda Abdul Rouf dan dibalas dengan cubitan kecil di pipi wanita itu.


"Jadi kamu sudah tak marah padaku, Noorah?" Nur tersenyum dan menggeleng.


"Anda hanya ingin berbuat baik, dan untuk itu aku berterima kasih, tuan"


"Hum? katakan lagi coba," Abdul Rouf pura-pura tak mendengar.


"Sudahlah..." Noorah yang merasa malu, membuang muka ke arah samping.


"Jadi kapan kita akan menikah, Noorah?"


"Tidak akan..." jawab Nur dengan senyuman, tentu saja kata-katanya itu bohong. Karna saat ini dia sedang bahagia


"Ayolah aku tahu kamu juga suka padaku sejak lama Khan..." goda Abdul Rouf yang tentu saja semakin membuat Nur melayang. Bahagia.


"Ih... apaan sih..."


keduanya lalu tertawa bersama dan melanjutkan perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2