
Saat sedang berjalan menuju lantai bawah tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku dan Abdul Ro'uf. Ia menepuk punggung kami berdua dari arah belakang.
"Hai, assalamualaikum..." seorang wanita dan seorang ibu-ibu tersenyum kecut menatap kami berdua. Bergantian. Wanita berambut pirang tanpa hijab dengan abaya berwarna orange mentereng, bikin silau.
"Ha... hai juga, Laila!" Abdul Ro'uf nampak kikuk. Dengan senyum yang dipaksakan dia nampak salah tingkah, saat wanita yang di sebut sebagai Laila itu menatapnya bergantian dengan wanita di sampingnya. Tatapan yang entah tak ku mengerti artinya. Yang jelas sepertinya Abdul Ro'uf tidak nyaman.
"Jadi, apakah dia orangnya?" Laila menatapku setelah sesaat bertanya pada Abdul Ro'uf. Aku hanya menunduk. Lebih tepatnya tak mengerti.
"Aku akan jelaskan nanti, maap Laila, aku..."
"Cukup sudah, kamu menyakiti anakku! ayo Laila, kita pergi!" ucap wanita di samping Laila. Sepertinya dia ibunya.
Beberapa orang mulai mendekat, mencoba mencari tahu, lalu saling berbisik, membuatku tak nyaman. Orang arab memang tak suka bergosip seperti kebanyakan orang Indonesia, namun mereka sangat tidak menyukai masalah, apalagi yang nampak di muka umum. Bagi mereka itu hal yang mengerikan.
"Umi, aku masih ingin bicara dengan Ro'uf" ucap Laila menolak.
"Cukup sudah kamu tidak perlu banyak bicara lagi dengannya, setelah dia memperlakukan keluarga kita!" seketika tangan Laila diraih oleh Ro'uf. Namun wanita itu melepaskan dengan paksa.
"Aku akan bicara denganmu nanti, Laila, aku janji" Laila hanya mengangguk lalu pergi bersama ibunya dengan langkah cepat.
__ADS_1
Huh!
Aku tak ingin bertanya pada Abdul Ro'uf. Diam adalah pilihan terbaik saat ini. Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik. Biarlah, itu urusan dia. Aku tak mau ikut campur.
Sampai di parkiran.
Sementara Abdul Ro'uf sedang mengambil mobil, aku menggendong Oomar di dekat tangga. Terlalu jauh bila harus ikut ke tempat parkir, karna sangat luas sekali. Ada seorang penjaga mesin parkir, tersenyum melihatku. Sepertinya ia orang Indonesia.
Iseng aku hampiri, karna letaknya tidak jauh dari tempatku berdiri.
"Hallo, assalamualaikum...?" sapaku.
"Kamu orang Indonesia, kah?" tanyaku.
"Ia, kamu juga, orang Indonesia?" aku mengangguk. "perkenalkan, namaku Nur, asli dari Bandung"
"Oh ia salam kenal, saya Wahid dari Karawang" ia mendekapkan tangannya di dada, sebagi ucapan salam.
"Sudah lama kamu kerja di Thaif?" ia bertanya lagi. Namun belum sempat ku jawab, keburu suara klakson berbunyi.
__ADS_1
Tit tit tit...!
"Ya Noorah, istriku. Mari kita pulang" serunya dari dalam mobil, dengan muka di tekuk.
"Hiy... apaan sih?" dasar. Seenaknya saja mengaku-ngaku.
"Ayolah sayang, masuk" perintahnya.
"Oh anda nikah sama orang arab rupanya" ia terkekeh, kemudian menekan tombol, seketika pintu portal terangkat ke atas.
"Eh, enggak gitu..." aku mencoba menjelaskan, namun sepertinya Abdul Ro'uf tidak sabaran orangnya.
"Sayang, kenapa kamu ngobrol dengan orang yang baru kamu kenal, hah" seketika dia sudah turun dari mobil dan berdiri di belakangku. Menyebalkan.
"Hallo, tuan" Wahid malah menyapa Abdul Ro'uf. Ramah.
"Hallo juga. Apa yang kamu bicarakan dengan istri saya?" pertanyaan amcam apa itu, Abdul Ro'uf sudah gila sepertinya.
"Oh hanya kenalan, tuan. Kebetulan istri anda orang Indonesia sama seperti saya" ia tersenyum menjelaskan. Namun Abdul Ro'uf sepertinya tidak senang.
__ADS_1
"Lain kali tidak perli banyak bicara, atau anda keluar dari pekerjaan anda" ia menekankan kata-katanya, seperti sebuah ancaman. Orang aneh.