Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 43


__ADS_3

Pov Abdul Ro'uf


Hari itu, saat Noorah tengah terbaring di ranjang rumah sakit, aku memutuskan untuk pulang ke rumah, dengan maksud mengganti bajuku dan mengambil beberapa barang Noorah yang ketinggalan.


Sampai di depan pintu, ada selembar surat yang terselip, tertulis 'kunci ada pada saya, dilantai 2 no 31,' segera kulangkahkan kaki menuju alamat yang tertera dan mengambil kunci.


"Tuan, apakah Nur baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.


",Maksudmu, Noorah?" tanyaku memastikan.


"Ya, dia Nur, teman saya. Oh ,ya, kenalkan nama saya Surmi, saya dari Indonesia" katanya sambil menangkup kedua tangan di dadanya. Tanda bersalaman.


"Iya, maaf tadi saya buru-buru sampai tak menyapa anda, nama saya Abdul Ro'uf" kataku dengan melipat tangan, melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan.


"Saya tahu, Noorah selalu bercerita tentang anda" ucapnya seraya tersenyum.


"Oh, ya?" sedikit kaget aku mendengarnya. Semoga Noorah bukan bicara hal yang buruk tentangku. Karena percayalah aku telah berubah. Dan akan berubah demi Noorah.


"Huum" ia mengangguk.

__ADS_1


"Apa saja yang dia bicarakan tentang saya, apakah hal yang buruk atau baik kah?" tanyaku penasaran.


"Ya dulu dia sering ketakutan pada anda, tapi saya rasa sekarang tidak lagi..." ragu ia mengatakan itu namun segera di ralatnya "maaf ya Tuan," ungkapnya seolah merasa bersalah.


."Oh, tidak masalah, sungguh." kataku meyakinkan. "Saya permisi dan terima kasih telah mengunci rumah karna tadi saya buru-buru"


"ok, tuan..." aku pun berlalu setelah pamit pada wanita itu mengucap kata salam. Yang langsung di jawab olehnya.


Sampai di rumah aku segera membawa barang-barang Noorah. Beberapa baju dan tentu saja dalaman wanita. Meski sempat ragu untuk membuka lemari, karna letaknya yang berada di paling bawah lemari, namun aku sedikit terkejut dengan tumpukan barang-barang Noorah. Terutama barang pribadi yang menutupi bagian-bagian tertentu miliknya. Kecil, mungil dan tertata rapi. Namun tentu dengan ukuran tubuh wanita Asia. Mini. sedikit tersenyum Karna kurasa aku tidak siap melihat barang yang selalu ia gunakan di bagian dalam abaya-nya itu.


Saat hendak menutup kembali pintu kamar, aku dikejutkan dengan dering ponsel milik Noorah yang tersimpan di atas nakas, samping tempat tidur. Awalnya hanya ku abaikan, namun dering yang terus-menerus, membuatku sedikit terganggu dan mulai memeriksanya. Penasaran.


Ku klik tombol hijau, mulai tersambung.


"Hallo, assalamualaikum...".sapa seorang pria terdengar berbicara di sebrang sana. Siapakah dia, apakah suaminya. Kenapa dia menelpon di siang hari. Ada hal penting kah?


"Hallo, Nur? kenapa tidak menjawab?" Ah, entahlah aku malah tidak mengerti sama sekali dengan bahasanya. Kuputuskan untuk mematikan sambungan dan menyimpan ponsel Noorah dalam saku.


Namun entah kenapa beberapa saat kemudian ponsel kembali berbunyi dan membuat kupingku tidak nyaman.

__ADS_1


Ku abaikan namun dering terus-menerus mengalun tanpa henti.


Saat di lift, tiba-tiba sebuah ide datang. Kuputuskan untuk kembali ke lantai dua dan menemui kembali sahabat Noorah itu.


Ku suruh dia untuk berbicara di telepon.


Setelah beberapa saat ia bergumam dengan bahasa yang tak kumengerti ia mengernyitkan dahi dan langsung menatap padaku.


"Apa katanya, surmi?" tanyaku penasaran.


"Ia meminta di kirim uang, tuan" jawabnya.


"Untuk apa uang itu, coba tanyakan"


Dia pun kembali bicara lewat sambungan telpon.


"Katanya untuk berhari raya tuan, anaknya belum mempunyai baju buat merayakan idul Fitri" iba aku mendengar penuturan wanita itu, segera ku ambil ponsel dan menulis nomer rekening dari orang yang menelpon tadi, lalu beranjak pergi segera menuju rumah sakit.


Setelah sebelumnya ku transfer sejumlah uang yang cukup besar pada rekening lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2