Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 55


__ADS_3

Pagi ini aku bangun dengan senyuman. Teringat kejadian semalam bersamanya, ah.. indah. Andai saja selalu seperti itu, pasti aku akan menjalani hari-hariku dengan bahagia.


"Ro'uf, terima kasih kamu sudah membuat keputusan bagus. Aku senang akhirnya kamu mau menerima Laila." ummi tersenyum seraya duduk di pinggir ranjang. Tangannya mengusap kepalaku lembut. Aku tersenyum. Bukan karna ingat Laila, tapi karna wanita di depanku ini telah berubah jadi lebih baik.


"Mungkin semua ini yang terbaik untuk saat ini, ummi. Tak tahu kedepannya?" jawabku.


"Hm, apa maksudmu?" ummi mengernyitkan alis.


"Ya kita tak tahu dengan masa depan ummi."


"Kamu tak bermaksud mempermainkan kami Khan, Ra'uf? Ummi mohon jangan kacaukan acara yang tengah kami siapkan ini" ummi memohon dengan wajah yang suram. no


"Ummi tenang saja. Aku tahu apa yang akan aku lakukan kedepannya"


****


Beberapa kali noorah menghubungi dan mengirim SMS namun, aku memilih untuk mengabaikannya. Setidaknya untuk saat ini. Aku tahu dia khawatir namun aku juga perlu waktu untuk berpikir kedepannya.


Makanya pagi- pagi aku memilih bertemu dengan kedua temanku di sebuah kafe. Jain dan Habib. Kedua temanku yang selalu setia.


Kami berbincang tentang kemajuan bisnis yang sedang kami jalani sekarang. Lumayan banyak keuntungan yang kudapat. Itulah untungnya bisnis properti kita bisa menghasilkan uang lebih banyak tanpa dikejar-kejar waktu untuk berada di kantor.

__ADS_1


Dan tentu saja tipis kemungkinan untuk rugi.


"Kawan, kalian bisa datang besok ke acara pernikahanku? itu pun jika kalian mau" aku mulai berbicara serius. Sementara mereka nampak serius menatap. Lebih ke heran tepatnya.


"Hey, apa kamu serius? kenapa mendadak sekali?" Jain membuka suara. Dia yang nampak kelihatan lebih terkejut. Sementara Habib diam sambil menatap dengan tatapan entah.


"Ya begitulah. Banyak hal yang tak kita duga-duga kawan..."


"Hem, baiklah. Tapi dengan siapa kamu akan menikah, Ro'uf?"


"Laila"


"Ayolah kawan. Apa tak ada gadis lain selain dia?" aku menatapnya. Di melengos. Mengalihkan pandangan.


"Ya, setidaknya kamu bisa cari wanita yang lebih baik.." ucapnya pelan namun masih terdengar di telinga.


"Bagaimana menurutmu, Habib?" aku mengalihkan mata padanya. Dia diam, lalu mengambil minum. Seolah tak ada artinya pertanyaanku.


"Sepertinya ku akan sibuk, jadi untuk sementara jangan hubungi aku" Habib beranjak begitu saja. Tanpa memperdulikan aku dan Jain. Lalu berlalu pergi.


"Hey, kenapa pemuda yang satu itu, hah?" Jain melongo melihat temannya pergi.

__ADS_1


"Entahlah...Jangan di pikirkan, mungkin dia sedang ada masalah" jawabku sambil beralih kembali ke layar komputer. Mengecek beberapa email yang masuk.


"Hey, bagaimana wanita yang selalu kamu kejar-kejar itu, hm, siapa namanya?" jain menepuk bahuku.


Aku yang sedang fokus lalu menoleh.


"Noorah,"


"Ya, dia, apa kamu masih sering mengejarnya seperti seekor tikus?" ia terkikik, segera saja kulempar dengan kulit kacang yang berserak di atas meja. Sialan.


"Dia baik. Sangat baik" Aku tersenyum, saat namanya di sebut langsung saja wajahnya yang merah dan berjerawat itu melintas di pikiran. Dia pasti sedang sedih saat ini. jika benar dia menyukaiku. Namun kami tak bisa bersama-sama.


"Hey, kamu malah melamun. Jangan-jangan.."


"Hey, hentikan itu"


"Hm..."


"Dia ad Adi rumah ummi sekarang. Ya begitulah kami


.

__ADS_1


__ADS_2