Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 57


__ADS_3

Ijab kabul telah diucapkan, iringan do'a restu serta petuah-petuah dari keluarga pun telah dilantunkan. Syarat dan kewajibanku sebagai suami kini harus kujalankan. Semuanya. Dengan terpaksa.


Laila, wanita berbadan dua itu terus melirik dan menempel seakan-akan tak percaya dengan pernikahan yang beberapa saat lalu telah dilangsungkan.


"Kenapa kamu terus menatapku, Laila?" risih dengan tingkahnya, akhirnya aku bertanya.


"Kenapa kamu, hei...apakah semua itu masalah bagimu?" ia meletakan kepalanya di bahuku.


"Tentu saja aku risih," sambil mencoba menghindar, dan duduk bergeser.


"Ayolah, sayang. Bukankah ini hari yang berbahagia, sudah sepatutnya aku bangga pada suamiku yang gagah ini" rayunya. Membuatku makin kesal saja.


"Sudahlah," tak mau ribut di tengah pesta yang masih berlangsung, aku segera meninggalkannya ke ruang tempat mempelai berganti baju.


Tak lama Ummi dan Babah masuk, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kenapa kau meninggalkan pelaminan, Ro'uf?" tanya Babah, dengan raut muka yang tak senang.


"Aku hanya lelah," jawabku sambil memijat pelan kening.


"Semua orang lelah, Ro'uf. Termasuk kami dan juga istrimu, Laila"


"Ayah aku mohon. Tinggalkan aku sendiri. Rasanya lelah seharian harus duduk dan menerima tamu"


"Kembali kesana. kamu hanya harus duduk disana bersama istrimu, dan tersenyum. Atau aku yang akan menyeretmu!" hardik Babah.


"Ok, ok. Tapi ijinkan aku rehat sejenak saja" pintaku" meminta agar Babah mengerti. Namun malah ucapan lain yang kudengar.


"Tingkahmu itu hanya membuatku malu, Ro'uf" ujarnya sambil berlalu. Disusul ummi yang sedari tadi tak bersuara..


."Aaah...!" aku melemparkan vas bunga yang berada tepat di depanku. Entah kenapa rasanya amarahku tak dapat ku bendung lagi.

__ADS_1


Babah dan Laila sama saja, pikirku.


Kakiku melangkah kembali menuju pelaminan, dimana Laila duduk dengan wajah yang tengah di tekuk. Muram menghiasi wajah yang penuh dengan polesan kepalsuan itu. Sedikit pun tak ada rasa kasihan atau iba terhadapnya.


"Kupikir kamu akan terus membiarkanku sendiri, Ro'uf" seulas senyum terukir di bibir merahnya, membuatku muak.


"Ya, tadinya begitu" jawabku sekenanya.


"Apa..." ia menatap tajam, seakan tak percaya. Lirikan mata genit yang tadi entah menguar kemana.


"Sudahlah, lanjutkan terus actingmu,"


****


Aku memasukkan beberapa baju ke dalam koper, saat Laila baru saja keluar dari kamar mandi dengan gaun yang seksi, namun tak mampu menutup perutnya yang makin kelihatan besar. Aku tahu ia tengah menggoda, namun kali ini pun aku sama sekali tak tertarik dengan rayuannya.


"Kau mau pergi?" langkahnya sengaja berlenggak-lenggok namun sesaat kemudian wajahnya berubah. Ia terpaku.


"Tapi kenapa, Ro'uf?" tanyanya pelan.


"Aku ada pekerjaan di Dubay"


"Secepat inikah" kaca-kaca mulai menggenang di pelupuk matanya. Entah air mata kesedihan atau air mata buaya, aku tak tahu.


"Bukankah aku telah memenuhi janjiku untuk menikahinu, apa lagi yang kurang, hm?"


Aku memasukkan handuk dibagian koper paling atas, lalu teringat akan parfum Paco Rabanne yang tak nampak. Setelah beberapa saat berpikir. Akhirnya aku ingat meniggalkannya di rumah Adeeba. Dengan tujuan agar Noorah selalu mengingatku dalam harum cintanya. Aku tersenyum, ada rasa hangat saat mengingatnya.


"Janji saja tidak cukup. Dan kenapa kamu. tersenyum hah?" hardiknya yang tiba-tiba ada di hadapanku.


"Oh, aku tahu. Kamu membayangkan budak ja**Ng itu dan akan segera menemuinya, benar kan?"

__ADS_1


"Hentikan omong kosongmu." bentakku sambil membuka lemari. Mengambil parfum yang baru. Masih Paco Rabanne, favoritku


"Kenapa Ro'uf. Kenapa kamu harus marah?"


"Bukankah itu benar. Budak tak tahu diri. Bersuami tapi masih melayani lelaki lain, apakah itu bukan ja**ng namanya?"


"Dia tidak seperti itu" aku mencengkeram kedua tangannya. Menatap tajam kedalam matanya.


"Dia memang seperti itu. Dan pasti dia telah menjual tubuhnya padamu, hingga kamu tergila-gila padanya, ia Khan?" teriaknya dengan mata merah berair. Refleks, aku hempaskan tubuhnya ke samping ranjang. Ia duduk sambil tersedu. Tangis yang membuatku makin murka.


"Dengar, dia dan aku mungkin salah. Namun kami masih punya batasan dalam mengendalikan nafsu. Tidak sepertimu"


"Kalian sama bejatnya" umpatnya masih dalam tangisan.


"Lalu apa bedanya denganmu, hah. Kau mengaku hamil anakku. Tapi lihat perutmu, entah sudah berapa bulan kau hamil, sedangkan malam saat aku tidak sadar masih dua bulan yang lalu" ucapku pelan. Rasanya bicara dengan Lila tak ubahnya bicara dengan serupa iblis betina.


"Ini anakmu..." ucapnya nanar.


"Kita akan buktikan setelah anak itu lahir. Aku yang akan mengurus semuanya"


"Kamu jahat Ro'uf..."


Aku pergi dan tak kuperdulikan tangis wanita yang tengah berbadan dua itu. Rasanya aku perlu waktu agar ingatanku tetap waras.


******


Hay maap ya cerita Abdul Ro'uf dan Noorah terhenti beberapa hari. Hp author keyboard nya error'. Alhasil kehapus terus ceritanya...


well doakan ya supaya author lekas punya rejeki buat beli hp baru...karna jujur dari nulis cerita ini baru dapat duit 3 ribu perak kurang nol nya masih banyak heheh


dan makasih buat kalian yang selalu setia nungguin.🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2