Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 35


__ADS_3

Mataku tiba-tiba terbuka. Aroma obat-obatan langsung menyergap indera penciumanku. Entah dimana aku berada, yang jelas aku merasa pusing di bagian kepala dan lemas terasa di sekujur badan. Kuraba lengan, yang terasa nyeri dan sedikit berat. Ternyata selang infus menancap disana. Dan baru kusadari ternyata aku berada di ruangan serba putih.


Di luar dekat pintu kudengar suara orang yang sedang mengobrol, beberapa orang wanita dan laki-laki nampak sedang serius berbicara.


Siapa mereka?


Lalu kenapa aku bisa berada disini?


Rasanya semakin kupikirkan malah makin menambah sakit di kepalaku.


Tiba-tiba pintu terbuka tepat saat aku mencoba duduk, namun entah kenapa malah semakin pusing yang kurasa. Dan rasanya mau muntah.


"Ya, Noorah?" lelaki itu melangkah cepat ke arahku. Dia, Abdul Ro'uf. "kamu baik-baik saja?" gurat kecemasan tergambar jelas di wajahnya. Ia mengusap kedua tanganku dan menggenggamnya. Seketika aku refleks dan segera menarik tanganku.

__ADS_1


"Maaf, aku hanya cemas" ucapnya.


"Terima kasih. Tapi kenapa aku berada disini?" tanyaku. Rasanya tadi aku menelpon Surmi yang berada di lantai dua untuk datang menemaniku. Lalu entah apa yang terjadi kenaoa tiba-tiba aku berada di ruangan seperti ini.


"Apa kamu tidak ingat, ya Noorah?" aku hanya menggeleng benar-benar lupa dengan apa yang kualami tadi. Ah, rasanya semakin ku ingat maalh semakin pusing saja.


"Tadi kamu tidak sadarkan diri. Dan aku membawamu ke rumah sakit. Apa kamu tidak ingat?" katanya menjelaskan sekaligus bertanya. Aku menggeleng lemah.


"Ini rumah sakit apa?" tanyaku so' polos. Padahal kenyataanya iya, aku tak tahu dimana aku berada saat ini.


"pasti mahal bayarnya" tanyaku lagi. Sambil kuedarkan ke sekeliling dan melihat ruangan ini. Cukup besar dan lengkap, mana mungkin Abdul Ro'uf mampu membayarnya. Kasihan jika harus jadi beban dia saat ini. Secara yang aku tahu pekerjaan Abdul Ro'uf masih belum stabil.


Mendengar pertanyaan seperti itu Abdul Ro'uf hanya tertawa dan menyadarkan punggungnya ke belakang kursi.

__ADS_1


hey kenapa malah tertawa, apakah ada yang salah. Keningku berkerut tak tahu arti dari tawanya yang terkesan mengejek itu.


"Ya Noorah. Apa kamu pikir aku tak punya uang, hah?" tanyanya setelah tawanya berhenti. Ia pun menatapku dalam.


"Kamu Khan pengangguran" jawabku sambil memainkan tangan dan menunduk, malu juga kalau harus di tatap dari jarak dekat seperti itu. Apalagi aku sedang sakit dan belum cuci muka. Ih, malu malu malu banget...


Mendengar ucapanku itu dia makin tertawa, kali ini ia mencubit pipiku dengan gemasnya.


Hey...


"Siapa yang bilang aku tidak bekerja, hm?


dan siapa yang bilang aku tak punya uang. Aku bahkan bisa membayar biaya rumah sakitmu selama berbulan bulan dan aku bisa membelikan mu tiket pesawat jika kamu ingin pulang ke negrimu Indonis" ucapannya yang panjang membuatku kaget. Benarkah dia punya banyak uang. Bukankah selama ini kerjaannya hanya berdiam di kamar dan main main saja. sesekali pergi juga biasanya hanya hura-hura tak jelas bersama teman temannya yg tak jelas itu.

__ADS_1


Hm, bisa saja itu uang Babahnya yang kaya raya dan dia tinggal minta.


"Hey, jangan berpikir terus aku memang bekerja Noorah" jelasnya sambil mensedekapkan kedua tangannya di dada.


__ADS_2