
Maaf ya man teman waktu itu kepotong, kenapa saya suka nulis sedikit" karna saya sibuk di dunyat.
yuk lanjut!
****
"Kalau begitu tunjukkan buktinya!" Babah geram, matanya merah menahan amarah.
si supir yang sama sekali tak punya bukti nampak berwajah pucat seketika.
"A-anu, maafkan sa-saya tuan.. saya tidak punya." ungkapnya terbata-bata. Ia menunduk takut jika kebohongannya akan ketahuan.
"Buktinya ada disini, Babah" Noorah mengusap air mata di pipi yang kini sudah berubah mulus namun tertutup cadar hitam. Segera ia menyerahkan ponsel ditangannya kepada ummi yang tengah duduk di sofa. Wanita itu terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Si dalam ponsel terlihat bahwa Jerold mengirimkan beberapa video blue yang diperankan oleh orang bule, serta terdapat chat yang bertuliskan mengajak Noorah untuk melakukan hal serupa. Serta menuduh wanita itu sebagai gundik dari anak majikannya yang bernama Abdul Rouf.
Rupanya ponsel Noorah yang tertinggal di jok mobil waktu bertemu pamannya itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengotak atik ponsel Noorah.
Ummi memberikan ponsel itu kepada Babah, yang lain pun turut membaca chat mesum tersebut.
Dan mereka semua geram dengan aksi si supir.
Plak!!!
Babah saat itu juga menampar Jerold, dan mengusir pria yang berasal dari Filipina tersebut.
"Kurang ajar, berani sekali kamu berbohong dan mempermainkan kami, hah? kamu pikir kamu akan berhasil menghasut kami, jika saja bukti itu tak kami lihat"
"Maafkan aku, tuan. Saya sebenarnya suka sama Noorah. Makanya saya berani mengirim video itu"
"Dasar bedabah. Sekali lagi aku lihat muka busukmu itu, akan aku pastikan kam mendekam di penjara. Pergi!" seketika itu juga Jerold pergi membawa amarah dalam dadanya.
__ADS_1
"Awas kalian. Suatu saat aku akan membalas semua perlakuan kalian padaku" gumamnya.
Sesaat setelah kejadian itu, semua keluarga meminta maaf termasuk ummi dan Babah.
Babah kemudian bertanya tentang hubungan anaknya dan Noorah. Keduanya duduk saling berhadapan dengan Babah yang tengah menikmati secangkir kopi Arabika.
Mulanya Abdul Rouf yang menjelaskan perihal niatnya untuk bisa menjadikan Noorah istrinya, Di susul dengan penjelasan Noorah yang sudah beberapa bulan lalu di talak oleh suaminya. Dan ia juga menjelaskan perihal suaminya yang sudah menikah lagi dengan orang lain.
"Sekarang terserah kalian berdua. Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya" Babah berkata lebih tenang kali ini. tentunya setelah mendengar penjelasan dari Abdul Rouf tentang niatnya melamar Noorah. Wanita berumur dua puluh lima tahun itu hanya menunduk malu. Namun semburat merah menghias wajah manisnya, meski tertutup cadar.
"Saya, belum resmi bercerai secara hukum negara, Babah. Maaf saya sepertinya harus membereskannya terlebih dahulu" jawab Noorah pelan.
Babah mengangguk pelan seakan mengerti posisi Noorah saat ini.
"Aku tak suka anakku pacaran, apalagi itu dengan seorang wanita yang statusnya masih seorang istri. Sebaiknya kamu pulang ke negrimu dan bereskan semua masalahmu dengan segera, dan kuminta Abdul Rouf pun mengurus berkas-berkas pernikahan kalian nantinya disini"
Noorah dan Abdul Rouf bahagia mendapat kamu hijau dari Babahnya tersebut. Keduanya sepakat membicarakan ini di area yang lebih private nanti malam.
****
"Ya, bukankah semuanya harus beres dulu, sebelum akhirnya kita melangkah lebih jauh" jawabnya pelan sambil menunduk malu.
Abdul Rouf yang menatapnya dari tadi nampak gemas dengan Noorah. Meski ini bukan pertama kalinya mereka ngobrol berdua namun entah mengapa di hati keduanya seakan tersimpan rasa yang sulit di artikan. Noorah sendiri yang saat ini tengah menjadi janda bukan tipikal wanita yang agresif kepada lawan jenis, karna waktu menikah dengan suaminya Asep pun, Noorah tak mengalami masa pacaran yang lama
"Hey, aku tak mau jauh-jauh, disini saja"
"Iih, apaan sih, ga nyambung" Noorah mengerucutkan bibirnya, namun tentu saja tak kelihatan jelas.
"Tapi suka Khan..." balas Abdul Rouf dengan senyum jahilnya, kerlingan nakal juga lontarkan membuat Noorah malu setengah mati., keduanya kini saling tatap. Senyum merekah dari keduanya. Dua sejoli yang tengah di mabuk cinta itu tak sabar dengan proses yang akan mereka jalani kedepannya.
__ADS_1
"Aku tak mau jauh lama-lama dari kamu, Noorah" Abdul Rouf menggenggam tangan Noorah yang dibalut sarung tangan warna hitam senada dengan abaya dan cadarnya.
"Tuan, jangan begini nanti dilihat ummi" Noorah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Abdul Rouf namun seakan tak diindahkannya.
"Tidak, Noor, kamu harus janji dulu, bahwa kamu akan kembali lagi setelah masalahmu dan suamimu itu beres, kumohon berjanjilah" Abdul Rouf berkata singguh-sungguh takut jika Noorah benar-benar pergi dan tak akan kembali.
"Iya, insha Allah, tuan" ia tersenyum sehingga Abdul Rouf melepaskan genggaman tangannya.
"Baik, aku pegang kata-katamu, jika dalam waktu sebulan kamu tak kembali maka aku akan menyusul mu ke Indonesia, ingat itu" Noorah mengangguk mendengar penuturan dari Abdul Rouf.
"Norah, bolehkan aku melihat dan wajahmu, hm?" goda Abdul Rouf. keduanya tengah menikmati bintang dan bulan sabit yang sedang bersinar di angkasa.
"Tidak boleh," jawab Noorah segera.
"Kamu curang"
"Kapan aku curang?"
"Kamu selalu menikmati wajah tampanku, sedangkan aku tak bisa menikmati wajah cantikmu, bukankah itu curang, hum?" Noorah tertawa seketika. Ia tersenyum geli.
"Iih, siapa yang menikmati wajahmu, aku gak seperti itu kali" elaknya. Padahal bertentangan dengan hatinya.
"Itu kamu pandangi aku dengan penuh cinta begitu, kalau aku melihat senyummu saja aku tak bisa"
"Sabar tuan, akan ada waktunya nanti" Noorah mencoba meyakinkan prianya itu.
"Kuharap saat itu tak akan lama lagi, Noor, aku tak sabar ingin segera menghalalkanmu"
"Iya..."
__ADS_1
"Jika nanti saat itu tiba, jangan harap aku akan melepaskanmu, Noorah" bisiknya di telinga wanitanya itu. Sementara Noorah hanya tersenyum penuh arti.