Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 69


__ADS_3

Noorah tersadar, matanya mengerjap, merasakan pening yang mendera,, ia lalu menoleh ke sekeliling, gelap. Hanya rimbun ilalang sepanjang matanya memandang. Tak ada siapa-siapa selain dirinya, bahkan tak nampak rumah sepanjang matanya memandang.


Deg, Noorah teringat kejadian tadi, saat seseorang yang bernama Ardi membawanya masuk ke dalam mobil untuk mengantarkannya ke kampung halaman di Bandung. namun apa yang terjadi kini, ia tergeletak begitu saja di tepi jalan terjal yang jauh dari pemukiman.


"Astagfirullah, apa yang terjadi ini, kenapa aku ada di sini?" Batinnya bertanya. Kemudian suasana terasa sangat mencekam. Bulu kuduk Noorah berdiri. Ia bangkit dan berdiri walau masih dalam keadaan setengah sadar.


Hari hampir gelap. Saat Noorah mencoba melangkah dan terus melangkah menapaki jalan setapak yang masih belum terjamah aspal.


Tiba-tiba suara adzan berkumandang, jauh, dari mesjid yang letaknya masih belum kelihatan, ia tersenyum tak lupa bersyukur sambil terus melangkah berharap segera bertemu dengan manusia.


Setelah cukup lama berjalan, tiba-tiba terlihat cahaya dari lampu lampu rumah warga yang berpijar, menandakan Noorah telah sampai di perkampungan. Mungkin saja ia bisa meminta pertolongan mereka.


Noorah mendapat pertolongan dari warga. Mereka berinisiatif mengantar Noorah ke kantor polisi daerah tersebut. Noorah membuat laporan yang tentu saja mereka bergerak cepat dengan mengerahkan segala kemampuan mereka menangkap penjahat yang telah membegal seluruh barang dan uang yang Noorah bawa.


Polisi pun dengan baik hati mengantar Noorah ke terminal dan menitipkan pada supir bis agar Noorah bisa sampai ke alamat rumahnya di Bandung.

__ADS_1


Perjalanan 3 jam lebih Noorah lewati. Dia tak memikirkan lagi barang yang hilang, dalam pikirannya saat ini hanya ingin cepat sampai di rumah dan bertemu keluarganya.


*****


Tangisan haru dan suka cita bercampur jadi satu. Ibu dan bapak Noorah menangisi keadaan Noorah yang menyedihkan di jalan, namun demikian mereka pun senang dan bahagia Noorah bisa pulang dengan selamat.


"Terus bagaimana kamu bisa pulang ke sini jika semua uang kamu di bawa kabur, Nur?" ibu Noorah bertanya. Berkali kali ia mengusap kepala Nur yang berbalut kerudung hitam.


"Iya, Nur bapak juga penasaran" sahut bapak Nur.


."Syukurlah, Nur. kamu selamat, bapak sudah takut, waktu kamu bilang lagi di jalan, tapi tak ada kabar lagi"


"Iya, pak. mau gimana lagi"...


Nur mengelus dan mencium pipi anaknya yang kini sudah bertambah satu tahun sejak ia tinggalkan.

__ADS_1


Si kecil Adit yang masih bocah duduk di pangkuan Nur, dengan terus bergelayut manja. Anak kecil itu mendengarkan apa yang tengah di kisahkan oleh ibunya selama di Saudi.


"Terus gimana pak, dengan kelakuan a Asep?" tanya Nur penasaran dengan mantan suaminya tersebut.


"Udah Nur, jangan tanyakan dia. Kesel bapak mah kalau ingat dia teh!" bapak Nur menjawab sambil berpaling muka. Terlihat wajah kesal di pipinya.


"Ya ,gak apa-apa atuh, pak. Dia juga dah bukan suami Nur lagi"


"Iya, Nur. Tapi dia fitnah kamu, jelek-jelekkin kamu ke tetangga samPai bicara hal yang bukan-bukan. Kesel bapak mah ke si Asep itu" gerutu bapak Nur.


"Udah, pak, jangan ngomong terus. Kasihan itu Khan bapak nya si Adit. Jadi udah gak usah di terusin. Mending kita makan sekarang mah." ibu Nur membawa nasi dari magic com. Dan meletakkan beberapa lauk pauk khas Bandung.


Maaf telat update. saya sakit lama dan baru sembuh.


Semoga kalian tidak kecewa...

__ADS_1


__ADS_2