
",Noorah..." gontai aku melangkah meninggalkan ruangan ummi Zainab, tak ku perdulikan lagi panggilan dari orang yang berdiri di belakangku, rasanya kakiku seakan tak menapaki lantai. Kacau, pedih, sakit. Itu yang kurasa dalam dada. Semuanya bercampur menjadi satu. Tiba-tiba tangannya meraih bahuku yang gemetar dan masih terguncang dengan kata-kata dan tamparan ummi tadi. Semuanya cukup membuatku menyadari bahwa semuanya salah. Dan mengingatkanku bahwa tak seharusnya semua itu terjadi. Meski perkataan ummi tidak sepenuhnya benar, namun ada kata-katanya yang membuatku sadar. Terutama tentang salahnya kedekatanku dengan putranya.
"Noorah... kamu baik-baik saja?" sebuah lengan menyentuh bahuku. Ia mencoba meraihku dalam pelukannya. Namun tangannya segera ku tepis. Kasar.
"Biarkan aku sendiri" ucapku tanpa menoleh ke arahnya. Lalu kembali berjalan ke arah kamar Jamal.
Seorang wanita yang kutahu sebagai pengasuh Jamal menatap ke arahku. pandangannya nampak sinis terlihat dari kedua bola matanya yang nampak tak ada raut senang dengan kedatanganku. Sementara di belakang Abdul Ra'uf ikut menyusul.
"Kenapa kamu menatap Noorah seperti itu, Fatima?" tanya Abdul Ro'uf dengan rahang mengeras. Namun tak ada jawaban dari bibir wanita itu, ia hanya diam dan terus menatap.
"Pergilah ke dapur, dan bantu yang lain memasak" Abdul Ro'uf kembali bicara dengan suara agak keras.
"Ba-baik, tuan" jawabnya sambil berlalu.
"Noorah, aku ingin kita bicara"
__ADS_1
"Sudahlah, anda tak perlu bicara apa-apa lagi di sini. Biarkan saya dan anak-anak" ucapku pelan hampir tak terdengar.
"Noorah... aku perduli padamu"
"Saya perlu berpikir"
"Tentang...?"
"Bukankah Anda sudah dengar perkataan ummi tadi?"
"Dan tamparan ini?"
"Maaf, Noorah..."
"Sudahlah, saya butuh istirahat" aku berbaring bersama kedua anak kecil di sampingku. Hanya berharap agar Abdul Ro'uf segera pergi meninggalkanku. Karna yang kubutuhkan saat ini adalah pikiran yang tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun.
__ADS_1
****
Hari raya tiba, semua orang bergembira bersama-sama. Kecuali aku. Semua orang bersalam-salaman menyambut hari besar umat muslim sedunia.
Ruang laki-laki dan perempuan terpisah. Namun kamu sama-sama saling mengucap maaf lewat suara yang sengaja bersahut-sahutan.
Satu persatu bergilir menghadap kepada ummi, memberi salam, Dimulai dari anak-anak ummi dan wanita-wanita kerabat ummi yang datang berkunjung dari berbagai pelosok kota. Semuanya berkumpul larut dalam kebahagiaan dan saling melepas rindu setelah sekian waktu tidak bertemu. Mereka larut dalam obrolan ringan dan saling memaafkan. Namun saat kami para pembantu berkumpul dan memberi salam pada ummi, Ummi mengingatkan agar kami jangan sampai membantah perkataan ummi, nasihat yang kutahu, diarahkan padaku.
"Aku maafkan kalian, dan aku harap kalian menuruti semua perintahku, tanpa membantah!" ujarnya.
Setelah acara maaf-maafan usai, selanjutnya dilanjutkan dengan acara makan-makan. Mungkin kalau di Indonesia biasa di sebut prasmanan, dimana semua hidangan tertata rapi dan siap dinikmati untuk semua tamu dan anggota keluarga yang berkumpul.
Saat tengah menyuapi makan Oomar kecil, tiba-tiba dari arah pintu depan nampak sekelompok kecil keluarga yang langsung memasuki ruangan. Aku terdiam, memandang seksama ke arah wanita yang datang di samping seorang wanita paruh baya. Dia, Laila beserta ibunya yang waktu itu sempat berpapasan di mall tempatku dan Abdul Ro'uf belanja handphone. Dan di sampingnya ada Abdul Ro'uf. Mereka bergandengan tangan...
__ADS_1