Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 31


__ADS_3

Berdebar dan aneh rasanya saat kakiku melangkah memasuki ruang yang di dalamnya ada Noorah yang sedang terbaring sakit.


Padahal biasanya tak seperti ini, tiap kali aku masuk rasanya biasa saja meski Noorah nampak kurang suka.


Kudekati ranjang itu. Noorah tengah berselimut tebal di musim panas seperti ini?


Sepertinya kamu benar-benar sakit Noorah.


Hey, lihatlah kamu menggigil seperti kedinginan.


"Noorah... Noorah..!" aku dekati dia, meskipun sebenarnya sangsi. takut dia akan marah besar dan memakiku. Seperti kejadian yang sudah lalu.


Noorah tak bergeming. Tubuhnya makin menggigil. Kuraba keningnya. Panas sekali.


Apa yang harus kulakukan?


Oh ya tuhan! aku jadi khawatir dengan keadaanya.

__ADS_1


Segera aku mengambil air dan handuk kecil. Ku lap dan ku kompres kepalanya yang tanpa hijab itu. Cantik, meski pun sedang sakit. Dan aku kagum dengan wajahku yang sederhana itu.


akhirnya dengan jelas aku bisa memandangku dari dekat meski pun kamu sedang tidak sadar.


Ah Noorah. Belum pernah hatiku sehangat ini saat sedang bersama seorang wanita, bahkan saat sedang bersama Laila sekali pun. Namun entah kenapa semenjak kehadiranmu aku seperti berada di taman bunga. Bahagia.


Kupikir dengan mengompres kepalanya akan membuat Noorah lebih baik. Ternyata dia makin kedinginan, bahkan kini terus menerus bergumam tanpa jelas. Diiringi dengan gemerutuk gigi-giginya seolah menahan kedinginan.


"Dingin...dingin...!" Mungkin itu bahasanya di Indonesia sana, pikirku.


Apa yang harus kulakukan? aku sangat bingung dan tak tahu harus berbuat apa.


Tiba-tiba aku teringat Ahmed, bukankah dia dokter dan tentu saja paham dengan apa yang Noorah alami.


Segera ku ambil ponsel dan menghubunginya. Lalu bercerita apa yang tengah aku hadapi perihal penyakit Noorah.


Untung saja dia sedang tidak ada jadwal memeriksa pasien nya. Jadi dia bisa datang ke apartment ini.

__ADS_1


Meski jawaban terakhir membuatku ragu.


"Aku akan datang satu jam lagi, karna sedang berada dalam perjalanan, Jadi sambil menungguku datang cobalah kamu peluk dia agar badannya merasa hangat"


"Haruskah kulakukan itu, Ahmed?"


"Tentu saja. Bukankah dia sedang sakit. Jadi kamu tak usah berpikir macam-macam, ikuti saranku"


Kutepuk tepuk pipi Noorah berkali-kali. Berusaha membangunkannya agar saran dari Ahmed tak harus kulakukan. Namun kondisi Noorah makin memprihatinkan, bahkan kini bantal yang menumpu kepalanya sudah berpindah tempat, jatuh ke bawah.


Setelah kupikir pikir tidak ada salahnya aku mencoba mengikuti saran dari Ahmed, meski kalau saja Noorah tersadar tentu saja dia tak akan terima dan pasti memakiku dengan kasar. Sebagai bentuk penolakan dirinya terhadapku.


Perlahan ku dekati badannya dan ku masukkan tanganku tepat di bawah lehernya. Kudekap tubuh yang menggigil itu mencoba merengkuhnya tepat di dadaku. Rasanya sangat nyaman dan aneh. Entah kenapa meski ada rasa senang yang sulit ku ungkapkan, namun nyatanya hatiku bergetar, dan jantungku berdetak dua kali lipat. Entah kenapa aku merasa gerah. Tiba-tiba malah badanku yang menegang dan berkeringat kepanasan. Apalagi saat tiba-tiba tangan Noorah memeluk pinggangku dan meletakkan wajahnya tepat di dada sebelah kiriku.


Ya tuhan, aku tak sanggup. Rasanya aku tak mampu menahan gejolak rasa yang...entah.


Noorah sudah tak bergumam, ia pun tertidur dalam dekapanku dan mulai tenang. Tinggal kini dalam dadaku yang bergejolak menahan rasa yang tiba-tiba saja sulit kutahan. Ingin rasanya aku melampiaskan pada Noorah yang sedang terlelap saat ini.

__ADS_1


Namun aku tak tega dan aku tak mau mengambil kesempatan itu.


'Ahmed segeralah datang...'


__ADS_2