Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 26


__ADS_3

Setelah sholat isya dan memastikan Oomar tidak terganggu tidurnya dengan hal-hal kecil seperti popok yang basah atau biang keringat yang selalu membuat tidurnya terganggu. Fix, sekarang aku bisa istirahat sejenak, sekedar melemaskan otot-otot kaki yang tegang akibat seharian tadi mengikuti langkah Abdul Ro'uf. Tak lupa alarm ku stell di waktu 10:30 tengah malam. Setelahnya aku pun mencoba memejamkan mataku.


Bip, bip, bip...!


Bunyi alarm dari jam weker membangunkan ku yang tengah terlelap tidur. Mau tidak mau aku harus beranjak, meski mata masih terasa berat, tapi harus tetap bangun. Pyuh, beginilah resiko kerja di negri orang, harus tau diri.


Kulihat Oomar, masih terlelap rupanya. Dasar bayi anteng, sama Sekai tidak merepotkan.


Segera aku mncuci muka dan beranjak ke dapur, menyiapkan hidangan untuk penghuni rumah ini.


Suasana nampak sunyi setelah ku buka pintu kamar.


Tumben tak seperti biasanya.


Di dapur pun demikian, tak ada tanda-tanda madam Adeeba bangun. Biasanya khan kalau jam segini mereka berbincang sambil ngemil dan makan malam. Apa mungkin mereka kelelahan setelah bertarung tadi. Duh, aku kok jadi ingin ketawa sendiri membayangkan kelakuan dua insan itu. Hihi!


Aku duduk di dapur sambil menikmati teh khas warga arab. Segar, rasanya. Sampai ku dengar derap langkah kaki. Abdul Ro'uf.

__ADS_1


"Ya Noorah?" sapanya.


."Ya?" tanpa melihat ke arahnya aku menjawab. Lebih tepatnya malas, harus bicara dengannya. Lagi pula ngapain sih dia harus nyamprin ke dapur segala, kalau ketahuan madam khan bahaya.


"Kamu sedang apa, hah?" aku melirik malas, tak lihatkah dia aku sedang memotong daging.


"Apa yang sebenarnya ingin anda katakan, tuan? sebaiknya anda pergi dari sini sebelum madam dan suaminya bangun, saya tak enak dengan mereka" aku mencoba mengusirnya namun ia hanya terkekeh, lalu duduk di sebelahku.


"Sudah kamu lihat dan aktifkan hapenya?" aku menggeleng, sungguh tak ada waktu. pikirku nanti saja.


"Kamu tahu, kenapa aku sampai di rumah ini?" pertanyaan macam apa itu. Tentu saja karna ini rumah kakakmu dan lebih dekat dengan tempat kerjamu, ia khan.


"Lalu apa yang harus aku jawab, tuan?"


"Kamu itu lucu! setidaknya kamu tanya kenapa alasannya"


"Untuk apa?" tanyaku cuek. Sungguh aku tak perduli.

__ADS_1


"Apa sama sekali tak ada rasa penasaran dalam hatimu, sedikit saja ya Noorah?"


"Tidak!" aku menjawab dengan cepat, ia tersenyum dan mencoba menyentuh kepalaku dengan tangannya. Refleks, aku angkat pisau yang sedang ku genggam dan berdiri menjauh.


"Awas kalau kamu berani macam-macam denganku, aku bukan wanita murahan yang bisa kamu sentuh seenaknya!" ancamku..


"Hey, kenapa kamu marah begitu, hah?" ia mengangkat dua tangannya dengan tatapan heran dan kaget.


"Maap tuan, aku tak sedang main-main dan berhenti mengganggu ku" ancamku masih dengan mengangkat pisau.


"Ok, ok. Kamu tak perlu semarah itu. Aku takkan menyakiti kamu, sumpah"


"Apakah anda tak ingat saat anda mengejar-ngejar saya ketika di rumah madam Jainab? Saya ketakutan sejak saat itu, tuan. Dan saya benci ketika anda masuk ke dalam rumah ini dan terus saja mengganggu saya. Sungguh perbuatan anda sangat buruk.


Abdul Ro'uf terdiam nampak raut wajahnya menyimpan penyesalan.


"Ya Noorah. Maapk aku..."

__ADS_1


"Pergi, dan tinggalkan aku!" bentakku. Seketika dia langsung pergi.


__ADS_2