
"Hey, Ro'uf. Hm... maksud pertanyaanku yang tadi. Apakah kamu yakin dengan, ya... menikahi Laila" ragu Jain bertanya. Seperti ada hal yang di sembunyikannya dariku.
Terlihat dari raut wajahnya.
"Hm... Kau tahu kan aku sudah berusaha menolak, jadi kupikir ini yang terbaik untuk saat ini. Agar aku tak selalu di kejar-kejar dengan ya.. Omelan mereka yang kadang membuatku sangat gila"
"Apa kamu yakin anak yang dikandungnya itu adalah anakmu?" aku memijat pelipis yang seketika terasa berat.
"Aku.. tak tahu harus menjawab apa..."
"hey, ayolah, jawab saja"
"Entahlah, terkadang aku ragu, namun di sisi lain aku juga tak bisa berbuat banyak. Kau tahu lah bagaimana gigihnya mereka meminta bertanggung jawaban padaku terus-menerus. Dan saat tak berhasil mereka mencari kelemahanku, yaitu Keluargaku, terutama pada Babah dan ummi.
"Iya sih... Tapi soal wanita yang kamu kejar itu..."
"Ya, kenapa dengan dia?"
",Apa kamu mencintainya?"
"Aku tak tahu. Yang jelas aku tak bisa melupakannya sejak pertama aku melihatnya di rumah waktu itu"
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tak menyatakan perasaanmu padanya dan mencoba menjalin hubungan serius dengannya?" aku menatap serius pada Jain. Laki-laki berkacamata itu pun tengah serius menatapku.
"Ini tak mudah, Jain" ucapku pelan.
"Kenapa?"
"Dia... " ragu aku mengatakannya, namun ia terlihat sangat serius menyimak.
"Ya?"
"Dia masih punya suami" kataku pelan.
"Aku tak percaya Ro'uf. Sungguh kau naif sekali, hm" ia tersenyum sumbang. Dan meminum kopi sudah menjadi dingin.
"Ya, aku tahu kawan. Aku sangat brengs*k. Namun percayalah aku sedang mencoba memperbaiki semuanya dimulai dari menikahi Laila dan kuharap aku bisa melakukan hal yang lain juga, diantaranya melupakan wanita yang sunggh-sungguh aku cintai"
"Ya aku percaya padamu. Oh ya, jika kamu benar suka pada wanita itu, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang dia. Karna suatu saat dia akan kembali ke negrinya, dan mungkin saja melupakanmu" kali ini ia berkata sambil tersenyum.
"Haruskah ku lakukan itu?"
"Iya tentu saja kawan... Siapa tahu suatu saat nanti dia jadi janda dan kamu bisa mendekatinya.." ia bercanda sambil mengangkat kedua alisnya berkali-kali. Menggodaku
__ADS_1
"Hey hentikan tingkah konyolmu itu, sungguh tidak mungkin"
"Dengar kawan tak ada yang bisa jauh dari istrinya apalagi untuk waktu yang sangat lama. Mereka bisa gila dan beralih mencari yang lain"
"Benarkah?"
"Huum"
****
Hari ini acara yang sangat dinantikan semua orang akan terlaksana. Namun tidoak denganku. Aku seperti mayat hidup yang dengan terpaksa harus menurut ketika. dipakaikan ini itu pada penampilanku kali ini. Sungguh aku tak ingin berada disini, bersama wanita yang tidak kuinginkan. Dan Noorah, bagaimana kabarnya wanita itu sekarang? apa dia tengah menangis atau bahkan terluka dengan keadaan ini, entahlah
"Ro'uf. Kendaraannya sudah siap, ayo kita berangkat" ummi masuk lalu memegang tanganku, membawaku ke luar kamar, aku mengangguk sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, sama sekali tak terlihat keberadaan Noorah. Kemudian Adeeba dan turun dari tangga. Namun hanya berdua dengan suaminya, Khabeer. Lalu dimana Noorah?
"Dia..." setengah berbisik aku bertanya ketika Adeeba berdiri tepat di sebelahku dan ummi.
"Dia pulang ke apartment" Adeeba memotong pertanyaanku.
"Kenapa,"
."Kamu masih tanya, tak ada satu wanita pun yang akan mampu melihat pria yang disukainya menikah dengan orang lain, Ro'uf. Mengertilah"
__ADS_1