Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 68


__ADS_3

Barang sudah dikemas, oleh-oleh dan baju pun sudah rapi dalam koper yang akan dibawa Noorah ke ngerinya, Indonesia. Saat ini ia hanya tinggal menunggu Abdul Rouf yang akan mengantarnya ke agen, tempat pertama kali ia menginjakkan kakinya di tanah Arab.


Pintu diketuk dari luar. Sebelum Noorah memberi ijin seseorang telah membukanya terlebih dahulu. Patima, pengasuh Jamal nampak berdiri angkuh di depan pintu, sama sekali tak ada raut senang di wajahnya.


"Mba ,Patima, ada apa ya?" tanya Noorah.


"Aku hanya ingin melihatmu, Nur, untuk yang terakhir kalinya" jawab Patima ketus.


"Apa maksudmu?" tanya Nur tak mengerti. Patima, wanita di depan Nur ini, meski sebangsa setanah air namun sejak pertama kali bertemu dengannya tak pernah sekali pun bersikap baik padanya apalagi tersenyum. Sangat anti. Seolah tertulis dalam benaknya bahwa Nur tak pantas di beri kebaikan.


"Ya, harus kamu tahu, kepergianmu kembali ke Indonesia semuanya sudah di atur, agar kamu tak bisa lagi kembali kesini. Kamu harus sadar posisimu, Nur. Kamu dan aku sama-sama budak, tak pantas menjadi menantu keluarga Babah" seringai Patima membuat hati Nur terguncang. Rasanya ia tak percaya akan pernyataan yang di ucapkan Patima, namun demikian ia juga tak bisa menyalahkan dia. Semua itu benar, dirinya yang hanya budak tak sederajat dengan keluarga Babah yang kekayaanya saja, tak bisa dihitung dengan jari.


"Aku tak percaya apa yang kamu katakan, jadi tolong pergilah, tinggalkan aku!" bentak Nur yang tengah menata hatinya agar ia tak murka dengan Patima.


"Oke, pikirkan baik-baik, Nur" Patima pergi, membawa kepuasan dalam batinnya. Ia tersenyum licik saat kembali menoleh kepada Nur yang tengah duduk di pinggir ranjang sambil menangkup wajahnya"


Gerakan langkahnya terhenti, saat ummi dan Adeeba berjalan ke arahnya dan menatap heran.


"Apa yang kamu lakukan dikamar Noorah"? tanya ummi tajam. Ia sudah hapal akal busuk dari Patima. Yang selalu menghasut dan membenci orang lain.


"Tak ada" jawab Patima singkat. Dengan angkuhnya ia melangkah pergi meninggalkan dua orang ibu dan anak tersebut. Tak ubahnya seperti carlotta di serial telenovela.


Ummi membuka pintu kamar Noorah. Noorah yang tengah menunduk seketika mengangkat wajahnya ke arah pintu. Dua orang wanita itu masuk tanpa dipersilahkan.


Keduanya lalu duduk di kiri dan kanan, Norah.


"Apa yang Patima katakan padamu, Noorah?" pertanyaan ummi langsung ke intinya.


"Tak ada, ummi. Dia hanya menyapa sebelum saya pergi".

__ADS_1


"Kenapa aku tak percaya, melihat wajahmu yang tiba-tiba muram, sepertinya dia berkata hal yang menyakitkan padamu, katakan?" ummi menggenggam tangan Noorah yang dingin. Ia menepuk-nepuknya pelan


"Tidak ,ummi sungguh" kilah Noorah, meski dia sakit hati dengan ucapan yang Patima lontarkan tadi, namun ia tak mau membalas perlakuan saudara setanah airnya itu.


"Baiklah, jika kamu tak mau bicara" senyum ummi.


"Noorah, semua gaji kamu selama beberapa bulan terakhir sudah aku kirim ke rekening milik keluargamu dan ini buat pegangan kamu selama di jalan, kuharap kamu tidak kecewa pada kami, dan maafkan atas semua kesalahan kami selama ini padamu, Noorah"


Perkataan Adeeba semakin membuat Noorah yakin bahwa ia memang sengaja di pulangkan ke negerinya, namun dengan cara yang halus.


"Terima kasih , madam..." keduanya berpelukan dan ummi pun merangkul keduanya.


"Hari dimana kamu kembali kesini, adalah hari dimana kamu akan jadi menantu keluarga kami, Noorah" ummi menangkup kedua pipi orang yang sangat di cintai anaknya tersebut. Matanya memerah, seakan tak percaya pilihan yang di jatuhkan oleh Abdul Rouf kini akan segera jadi kenyataan walaupun dulu dia pernah memaksa Noorah demi putranya.


"Insha Allah, ummi" jawab Noorah pelan. Sejenak ketahuan yang tadi hinggap oleh hasutan Patima, sedikit bergeser di hati Noorah. Namun demikian ia tak mau berbesar hati dan merasa jumawa dirinya bisa bersanding dengan Abdul Rouf.


****


"Ah tidak tuan. Aku hanya sedang berpikir" jawab Noorah yang merasa diperhatikan.


"Kamu tidak usah khawatir, Noorah. Kita akan bertemu lagi nanti. Aku janji" sebelah tangan Abdul Rouf menggenggam tangan Noorah yang sedang meremas tangan kirinya.


Entah keberanian dari mana, akhirnya tanpa berkata ia meletakkan kepalanya tepat di bahu Abdul Rouf yang tengah memegang kemudi.


"Harusnya kita tak berdua, tuan" gumam Noorah. Entah kenapa perasaannya tidak enak semenjak mendengar perkataan dari Patima tadi. Seolah membenarkan bahwa kepergiannya ini untuk selamanya.


"Supir yang baru belum datang, Noorah. Jadi terpaksa aku sendiri yang memegang kemudi. Namun jika kamu merasa kecewa, kita bisa saja singgah di hotel untuk beberapa saat" bisiknya. Noorah yang tengah merasakan harum parfum yang menguar dari tubuh Abdul Rouf seketika membulatkan namanya. Namun demikian dia tak bereaksi lagi, kali ini dia paham bahwa lelaki itu sedang sekali menggodanya. Ia memilih memejamkan matanya.


"Kamu tak seperti biasanya, Noorah" Abdul Rouf mengelus kepala kekasihnya itu dengan penuh cinta.

__ADS_1


Sebenarnya ia pun tengah dilanda gelisah karna akan berpisah, namun hati kecilnya yakin Noorah akan kembali padanya suatu hari yang tak terlalu lama.


"biarkan aku seperti ini, tuan. Jangan perdulikan" gumamnya. yang dibalas dengan senyuman.


"Tidurlah, sampai nanti aku bangunkan"


******


Perjalanan selama sembilan jam akhirnya Noorah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Ia segera ke bagian pengambilan barang. Dua koper besar yang isinya baju dan juga oleh-oleh untuk keluarga di kampung.


Tak ada yang menjemput karna Noorah ingin memberi kejutan kepada mereka semua, terutama kepada kedua orang tuanya, ditambah lagi kepada suaminya a Asep yang kabarnya kini tengah berbahagia dengan istri barunya.


Sebuah Mobil travel menghampiri tepat saat Noorah tengah mendorong troli.


"Silahkan, nyonya"


"Tidak terima kasih, pak" ragu Nur untuk ikut bersama orang yang sama sekali tidak di kenalnya.


"Anda TKW, bukan?" tanya si sopir dengan ramah.


"I-iya..." keduanya lalu bersalaman.


"Saya sudah biasa mengantar para TKW pulang ke kampungnya. Jika anda tidak keberatan, ijinkan saya mengantar. Ini tanda pengenal saya." si supir yang Noorah lihat di kartu tanda pengenal bernama Ardi itu terlihat meyakinkan. Tanpa curiga sama sekali ia memasuki mobil putih yang sekelilingnya gelap tebal dengan kaca film. Didalam sana seorang wanita tengah tertidur pulas, terlihat dari matanya yang tertutup rapat. Bahkan tak memperdulikan kehadiran Noorah di sebelahnya. Sepertinya ia juga seorang TKW, menurut penampilan yang Noorah lihat.


"Kemana, pulangnya" tanya Ardi dari depan. Tangan dan matanya fokus menatap jalanan.


"Ke Bandung" jawab Noorah.


"Baiklah", senyum Ardi dari depan. "Oh, ya. Jika haus minum saja, saya khusus sediakan untuk penumpang di mobil saya" ucapnya kemudian. Noorah mengangguk tak ada sedikitpun rasa curiga di hatinya. Perjalanan yang jauh membuat dia memang kehausan dari tadi. Meski di pesawat dia sediakan aneka minuman, namun tetap saja dia merasa haus lagi. .Sebelumnya Noorah mastikan bahwa minuman yang dia konsumsi masih di segel. Dan benar saja. Tanpa curiga diaeminumnya sampai akhirnya ia merasakan pusing yang hebat dan tiba-tiba semuanya gelap.

__ADS_1


.tolong like koment dan vote nya. jgn bilang sedikit ya....


__ADS_2