
"Kecuali apa ummi?" tanyaku segera.
"Kecuali kamu berpisah dengan suamimu, dan hidup bersama dengan anakku" jawab ummi tegas. Namun ia masih tak bersedia menatap mataku. Dan disini, tepat didalam hatiku, tiba-tiba ada rasa yang sangat sakit, perih , menusuk. Tak menyangka dengan perkataan yang di katakan oleh ibu beranak sembilan itu. Bagaimana bisa sebagai seorang wanita yang telah matang usianya bicara dengan mudah mengenai sebuah pemutusan hubungan. Hanya karna ingin melihat anaknya hidup bahagia. Konyol. Gila. Benar-benar gila dan tak masuk akal.
"Maaf, ummi. Bagaimana mungkin anda bisa berbicara seperti itu?" tanyaku menunduk, mencoba menghapus air mata yang mulai berjatuhan tanpa di minta.
"Kenapa ? apa aku salah?"
"Tentu saja" jawabku pelan.
"Seorang ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia, itu saja"
"Dengan memutuskan satu hubungan kemudian menjalin hubungan lain, begitu?"
"Bukankah itu hal mudah bagimu. Lagi pula kamu yang telah menjerat anakku"
"Aku memang salah. Tapi aku bukan wanita penjerat seperti yang ummi maksud"
__ADS_1
"Lantas apakah benar, seorang wanita yang telah bersuami lantas pergi bekerja ke tempat yang jauh, meninggalkan kewajibannya, lalu di satu waktu dia menerima begitu saja ketika ada pria lain yang memasuki kehidupannya dan mencoba mendekatinya, hah?" tanya ummi agak keras.
"ya, ummi. Aku akui, aku memang salah. Dan aku mengakui itu. Namun ada batasan ketika seorang ibu meminta hal yang sangat tidak masuk akal padaku" seketika mata ummi melotot.
"Pertimbangkan apa yang kuminta, Noorah?"
katanya dengan menggenggam kedua tanganku. Sekilas aku menatapnya.
"Lalu apakah ummi mau, jika suatu saat anakmu Adeeba diminta berpisah dari suaminya hanya karna terjerat cinta dari wanita lain?" sekuat tenaga aku bicara, dengan tubuh gemetar, dengan air mata yang terus saja bergulir, makin deras.
"Apa katamu? berani sekali kau!" mata ummi melotot tepat di depan wajahku. Aku terhunyung ke belakang dan Yaris ambruk kalau saja tak berpegangan ke sisi sofa.
"Kalau saja bukan karna melihat cinta dimata Abdul Ro'uf padamu, aku takkan meminta hal ini padamu ya Noorah."
Aku memegang pipi sambil terus terisak dalam tangis.
"Itu bukan cinta, itu hanya obsesi, kegilaan. Dan saat masanya tiba, dia akan bosan padaku lalu berhenti dan mencari mangsa baru"
__ADS_1
"Kamu masih tak mengerti Noorah? betapa banyaknya cinta dalam hatinya untukmu?" tanya ummi, kali ini dengan suara pelan.
"Aku tak melihat itu. Pria seperti Abdul Ra'uf sama seperti kebanyakan pria yang pernah kutemui"
"Dan kamu menikmatinya kan, saat-saat dia berlaku manis padamu? jangan munafik Noorah"
"Ya, dan aku akan menyesalinya seumur hidupku, karna aku pernah berbunga-bunga dengan kedekatan kami. Tapi itu tak akan lagi, karna aku akan mencoba menjauhi anakmu itu"
"Kurang ajar kamu Noorah!"
"Baiknya mulai sekarang ummi ajari anak ummi agar jangan mencoba mendekati ku lagi. Karna aku tak mau semakin berdosa pada suami dan anakku di tanah air"
"Cukup! sekarang kamu keluar dari ruangan ini" kilatan amarah di wajah ummi semakin terlihat mana kala telunjuk itu mengarah tepat ke pintu keluar. Dan aku berdiri meninggalkannya yang masih mengepalkan tangan.
Pintu terbuka. Abdul Ro'uf tengah berdiri di sana menatapku dengan pandangan nanar.
"Kau lihat Abdul Ro'uf bagaimana obsesimu membuatku dalam dilema?" gumamku
__ADS_1