Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 37


__ADS_3

"Hey, hentikan!"


"Aku hanya bercanda, Ro'uf" katanya sambil menepuk pipi dan diiringi tawa.


"Itu sama sekali tidak lucu, kau tahu"..


Mendengar ucapan sahabatnya itu sang dokter hanya mengangkat bahu, tak lupa senyum masih menempel di wajahnya. Pun aku dan suster yang sedari tadi mendampingi ikut tersenyum melihat tingkah dua orang sahabat itu.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diwktuk dari luar.


Setelah seorang suster membukanya, nampak madam Adeeba dan Ummi Jainab tengah berdiri dengan wajah yang sedikit cemas. Mereka segera berhambur masuk setelah diijinkan oleh Ahmed.


"Ya, Noorah, bagaimana keadaanmu sekarang" Ummi meraba keningku dan meletakkan tangannya wajahku, kemudian berkata lagi. "Ummi cemas karna kamu tiba-tiba masuk rumah sakit, dan sepertinya cukup parah" aku tersenyum merasa tersanjung dengan perhatian nya, ya meski pun kecil namun itu sudah lebih dari cukup membuatku merasa ada yang memperhatikan.

__ADS_1


"Saya baik, ummi. Saya hanya kelelahan" jawabku.


"Dokter bilang itu faktor pikiran juga, Noorah. Apakah selama ini kamu merasa tertekan atau kamu sedang ada masalah?" kali ini madam Adeeba yang bertanya.


Mendengar ucapan putri nya itu, kulihat pandangan ummi beralihmenatap ke arah Abdul Ro'uf, seketika Ummi kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Seolah-olah anaknya lah penyebab aku banyak pikiran akhir-akhir ini.


"Tidak, Ummi. Bukan karna dia..."


"Oh, syukurlah..." umi menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian dia berbisik tepat di telingaku


"Tidak, ummi..."


'sejujurnya entah mengapa aku mulai nyaman berada disisi anakmu, tapi aku rasa ini salah...'

__ADS_1


*****


Hari ini aku pulang dari rumah sakit, bersama dengan Abdul Ro'uf dan juga seorang sopir.


Karna menurut ummi kami tidak boleh pergi berdua. Harus ada yang mendampingi. Madam dan suaminya tidak bisa menjemput dengan alasan mereka sibuk karna besok perayaan hari raya.


"Hal 'ant jahz?" (apa kamu siap) tanya Abdul Ro'uf dari balik pintu kamar mandi. Seuntai senyum tersungging sangat manis dari sudut bibirnya yang berwarna pink. Aku mengangguk malu. Dia sabar menungguku yang tengah mengganti baju. Padahal aku didalam berulang kali menahan debaran dada yang terus saja berdebar saat lelaki Arab ini terus-terusan memberi perhatian dan menemaniku selama tiga hari ini.


"Nam" (iya) tanpa di suruh Abdul Ro'uf memapah badanku di sampingnya menuju keluar ruangan. Tangan kekarnya memegang erat bahuku membuatku makin malu dan serba salah.


Di arah depan sopir lebih dahulu melangkah dengan membawa tas berisi pakaian ganti.


Hari masih pagi ketika mobil sport yang kami kendarai keluar dari rumah sakit, dan melaju ke arah perbukitan dengan jalan yang berkelok-kelok. Bukannya membawaku pulang ke rumah ummi Jainab, Abdul Ro'uf malah membawaku ke sebuah tempat lain, meski aku akui pemandangannya sangat indah.

__ADS_1


Kami berhenti di pinggir jalan, dimana perkebunan bunga terbentang luas. Akhirnya rasa lelah terbayar dengan keindahan pepohonan dan juga perkebunan kurma yang tertata rapi. Telihat juga rumah-rumah tradisional khas bangsa Arab jaman dulu yang masih sangat gagah berdiri.


__ADS_2