
Setelah beberapa waktu tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat, akhirnya Noorah sadar. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Memastikan ia ada dimana.
Untunglah pas tangannya sudah tak ku genggam, kalau tidak, bisa-bisa dia ngamuk seperti kucing betina yang lapar, ya, kadang Noorah segalak itu menurutku. Dan itu yang membuatku kadang tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkannya.
Beberapa kali ia mengerjap dan berusaha bangun namun kutahan karna dia masih dalam keadaan lemah. Pun, saat kupapah dia menuju ke toilet, sempat menolak meski ujung-ujungnya mau juga, karna tak ada orang lain yang bisa dimintai pertolongan.
Untunglah sikapnya jadi lebih baik, dan lebih kalem berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kami pun berbincang-bincang lumayan lama, meski agak canggung, apalagi saat Ahmed masuk dan mulai berbicara hal-hal yang membuatku membelalakan mata. Dasar sialan, candaannya kadang keterlaluan. Bisa-bisanya dia berkata hal tentang kami. Meski itu benar namun Ahmed tak tahu saja kalau Noorah-ku sudah punya suami, meski jauh di negri antah-berantah
__ADS_1
Tak lama Ummi Zainab dan Adeeba masuk, mereka berbincang. Meski tak kuhiraukan apa yang mereka bicarakan, namun dari tatapan ummi yang sesekali melirik ke arahku, tak urung membuatku sedikit terusik apalagi saat ummi dengan bisikan ke telinga Noorah dan bertanya apakah dia sakit disebabkan olehku, tampak Noorah dan juga Adeeba ikut-ikutan melirik membuatku merasa sedikit risih dan kuputuskan meninggalkan mereka sejenak.
Ummi dan Adeeba yang tak bisa jauh-jauh dari rumah dan urusan besar untuk hari raya membuat mereka sedikit menolak untuk menunggu Noorah di RS. Jadilah mereka menyerahkan semua urusan dan tanggung jawab padaku. Sempat sedikit menolak dengan berpura-pura tak bisa. Namun tak urung mereka tahu juga bahwa aku sebenarnya bahagia bisa dekat dengan Noorah.
"Kami tahu yang sebenarnya ada di hatimu, kamu bahagia Khan bisa dekat dengan Noorah? hm.. namun demikian jaga jarak agar jangan sampai melewati batas" aku mengangguk saat wanita yang telah melahirkan ku itu membelai puncak kepalaku. Dan itu hal yang sangat-sangat jarang terjadi. Ah ummi, aku bahagia bukan hanya karna dekat dengan Noorah, tapi juga karna dapat perhatian darimu. Hal yang jarang sekali aku terima bertahun-tahun lamanya.
Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa ummi mengakuiku sebagi seorang anak yang hadir di depannya, bukan seperti waktu yang lalu. Hanya prestasi dan kebanggan yang diraih kakak-kakakku yang ummi agung-agungkan . Sungguh itu membuatku frustasi.
__ADS_1
Hingga saat kami hendak pulang dari RS ke rumah ummi, ku papah dia menuju kendaraan yang di kemudikan oleh sopir. Noorah semoat menolak namun kutahu ia tak punya pilihan lain. Dan benar saja saat kubawa ia berputar- putar di area perkebunan nampak sinar wajahnya yang sedikit berwarna. Sengaja kulakukan agar sejenak dia bisa bernafas lega dan mengembalikan mood-nya yang sempat berantakan.
.Pun saat di rumah ummi, kami bercanda dalam kamar Jamal seolah kami adalah oasangan suami istri dengan dua orang anak.
Ah, andaikan saja itu jadi kenyataan. Betapa bahagianya aku, pasti.
****
__ADS_1
terima kasih teman-teman semua yang mengikuti kisah Noorah dan Abdul Ro'uf, insha Allah ceritanya akan terus berlanjut karna alur yang masih sangat panjang. karna cerita ini di adaftasi dari kisah nyata.
Dari 18.987 views cerita saya, saya mohon kesediannya untuk memvote dan menjadikan cerita ini pav, agar lebih semangat lagi saya nulisnya.. like dan koment juga d tunggu agar saya bisa segera daftar kontrak. 😄